Tampilkan postingan dengan label PLH XII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PLH XII. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 November 2014

Cara Membuat Tahu Sendiri

Saat ini Tahu merupakan makanan yang sudah mendunia akan tetapi tidak semua orang tahu, Maka dari itu kita akan membahasnya nanti, namun sebelum itu ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu asal usul Tahu. Tahu sendiri sudah ada sejak 164 SM di daratan China sekitar 2200 tahun lalu.

Ternyata tahu sudah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Di Indonesia sendiri Tahu merupakan makan yang sangat digemari dan hampir menjadi bagian berbagai macam kuliner di Indonesia. Rasanya yang nikmat serta kandungan gizinya yang banyak menjadikan makan yang murah ini tidak murahan kualitas gizinya. Harga tahu sebenarnya tidak terlalu mahal, hanya dengan beberapa ribu rupiah saja kita sudah bisa mendapatkan tahu. Namun pernah tidak terfikir untuk mencoba membuat tahu sendiri di rumah? jika sempat kepikiran mari kita coba beberapa langkah pembuatan tahu di bawah ini:
 
Cara Membuat Tahu

Bahan:

    1 kg kacang kedelai yang telah direndam semalam
    100 ml cuka makan
    Air

Alat:

    Blender
    Panci besar
    Serbet makan/ kain
    Saringan

Cara:

  1. Masukan kacang kedelai yang telah direndam semalaman kedalam panci atau baskom untuk di pecah dengan meremas-remasnya.
  2. Setelah bersih masukan kedelai kedalam Blander dengan memberi air secukupnya kemudian blender hingga halus dan lembut.
  3. Saat selesai maka akan jadi seperti susu kedelai, selanjutnya rebus air kedelai tadi di panci hingga mendidih.
  4. Siapkan baskom untuk tempat air dingin. Ketika rebusan air kedelai tadi mulai mendidih akan muncul busa.
  5. Maka segera tambahkan air dingin sedikit demi sedikit dan suhu kompor diturunkan.
  6. Setiap busa mulai muncul lagi berikan air dingin sedikit demi sedikit.  Tetap rebus air kedelai hingga busa habis, setelah itu biarkan rebusan itu di atas kompor dengan api kecil selama 20 menit. Kemudian matikan kompor dan biarkan dingin.
  7. Setelah rebusan tadi mulai dingin segera saring menggunakan saringan yang di atasnya di lapisi serbet makan/ kain. Peras ampas rebusan kedelai tadi hingga air perasan keluar semua. Ampas jangan dibuang karena bisa dimanfaatkan untuk perkedel, dan dimasak sesuai selera.
  8. Air hasil penyaringan tadi di rebus di atas kompor dengan api sedang namun tidak sampai mendidih.
  9. Angkat susu kedelai dari kompor kemudia masukkan 100 ml cuka makan, aduk sebentar.  Diamkan susu kedelai selama 30 menit dengan sendirinya susu kedelai akan terpisah menjadi calon tahu dan air.
  10. Saring massa tahu dengan serbet makan  atau kain bersih tipis hingga air keluar.  Susun pada cetakan yang ingin anda gunakan kemudiaian tindih dengan pemberat ssehingga semua air keluar. Biarkan sekitar 15-20 menit.
  11. Setelah itu Tahu buatan anda pun jadi dan siap di potong sesuai ukuran yang anda suka dan siap dimasak.
 Sumber : http://www.likethisya.com

Selasa, 27 September 2011

NATA DE COCO VERSI CHANDRA



Nata de coco adalah hidangan penutup yang terlihat seperti jeli, berwarna putih hingga bening dan bertekstur kenyal. Makanan ini dihasilkan dari fermentasi air kelapa, dan mulanya dibuat di Filipina.
"Nata de coco" dalam bahasa Spanyol berarti "krim kelapa". Krim yang dimaksudkan adalah santan kelapa. Penamaan nata de coco dalam bahasa Spanyol karena Filipina pernah menjadi koloni Spanyol.

PROSES PEMBUATAN

Peralatan yang diperlukan:
1. Kompor.
2. Panci untuk merebus media/ air kelapa.
3. Gelas ukur besar 1liter dan 250 mili liter.
4. Pengaduk.
5. Pisau pengiris nata.
6. Plastik kemasan 1/2 kg.
7. Saringan air kelapa/ ayakan tepung.
8. Nampan/ wadah untuk fermentasi.
9. Kain putih/mori untuk penutup 3 m.
10. Tali pengikat/karet.
11. Ember/baskom perendam/pencuci.
12. Timbangan kue.
13. Sealing cup ukuran akua gelas

Bahan yang diperlukan:
1. Air kelapa
2. Gula pasir
3. Asam cuka (asam asetat 25%)/asam cuka dapur 400 mili liter.
4. Urea
5. Sirup rasa dan warna
6. Kap gelas (ukuran aqua gelas)

Cara pembuatan
  1. Saring air kelapa dengan menggunakan kain saring lalu didihkan dan dinginkan.
  2. Campurkan gula pasir (100 g/l air kelapa), asam cuka 20 ml/l air kelapa dan bibit Acetobacter xylinum (170 ml) ke dalam air kelapa di dalam panci pencampur, lalu diaduk sampai merata. Campuran tersebut mempunyai keasaman (pH) 3-4.
  3. Masukkan campuran tersebut ke alam stoples dengan tinggi campuran 4-5 cm, lalu ditutup dengan kain aring. Letakkan stoples di tempat yang bersih dan aman.
  4. Setelah 15-20 hari berlangsungnya proses fermentasi terbentuklah lapisan nata di permukaan cairan dengan ketebalan 1-2 cm. Lapisan nata dengan berat + 200 g. Cairan dibawah nata merupakan cairan bibit yang dapat digunakan untuk pembuatan nata selanjutnya.
PROSES PEMANENAN
  1. Lapisan nata diangkat secara hati-hati dengan menggunakan garpu atau penjepit yang bersih supaya cairan di bawah lapisan tidak tercemar. Cairan di bawah nata dapat digunakan sebagai cairan bibit pada pengolahan berikutnya.
  2. Buang selaput yang menempel pada bagian bawah nata, dicuci lalu dipotong dalam bentuk kubus dengan ukuran 1,5 x 1,5 x 1,5 cm dan dicuci. Tuang dan rendam potongan nata de coco dalam ember plastik selama 3 hari dan setiap hari air rendaman diganti. Sesudah itu, nata direbus sampai mendidih bersuhu 110oC selama 10-20 menit. Tujuan perendaman dan perebusan untuk meng-hilangkan rasa asam.
  3. Nata dimasukkan dalam sirup lalau didihkan pada suhu 100C + 15 menit, sesudah itu bila perlu dapat ditambahkan essens panili atau pewangi lainnya dan garam secukupnya, lalu dibiarkan selama 1 malam. Buat sirup nata dengan perbandingan untuk 3 kg produk nata potongan, diperlukan 2 kg gula dan 4,5 l air. Mula-mula gula dituangkan ke dalam air, panaskan sampai larut dan lalu saring.
  4. Selanjutnya nata dikemas dalam kantong plastik atau botol selai dengan perbandingan antara padatan dan cairan 3:1, botol ditutup rapat, kemudian direbus dalam air mendidih selama 30 menit. Angkat dan dinginkan di udara dengan tutup terletak pada bagian bawah, slanjutnya botol diberi label dan siap untuk dipasarkan.
 
Pembuatan bibit nata

  1. Buah nenas dikupas, dicuci sehingga dihasilkan daging nenas. Daging nenas dipotong kecil-kecil, dihancurkan, dan diambil ampasnya.
  2. Ampas nenas dicampur dengan gula pasir dan air masak dengan perbandingan 6:1:3 sampai merata.
  3. Masukkan campuran tersebut dalam stoples bersih dan tutup dalam kain saring. Diamkan selama 2-3 minggu.
  4. Biarkan tanpa diganggu selama 2-3 minggu hingga terbentuk lapisan putih atau bibit Acetobacter xylinum.

Cara Pembuatan Tempe ( aLa Qte-Qte)




Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe".

Kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia. Tempe kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif.
Cara Pembuatan tempe ala Qte-Qte adalah sebagai berikut :

Alat dan Bahan:
  • 1 kg kacang kedelai
  • 2 gram ragi tempe
  • Air asam
  • Wadah ( baskom, panci, plastik, dan baki)
  • Sendok + Alat yang Mudah digunakan untuk mengaduk
  • Lilin 
Cara Pembuatan:
  1. Bersihkan kacang kedelai dari kotoran, lalu cuci  
  2. Kemudian rebus kacang kedelai selama 30 menit. selama kacang kedelai direbus,akan muncul buih putih, sekali-kali kacang kedelai di aduk-aduk agar kematangannya rata           
  3. Setelah direbus, kacang kedelai diangkat kemudian dibersihkan dengan air      
  4. Setelah bersih kacang kedelai direndam dengan air asam yang dicampur dengan air bersih selama 24 jam
  5. pengupasan kulit ari kedelai
  6. Setelah direndam, kemudian kacang kedelai dibersihkan kembali sampai kulit arinya terlepas, lalu tiriskan .   
  7. kemudian di kukus selama 30 menit ( hal ini di lakukan untuk pencegahan masuknya bakteri yang tidak diinginkan), lalu angkat dan tiriskan kembali
  8. Tambahkan 2 gram ragi tempe kedalam kacang tersebut,lalu aduk hingga rata
  9. Setelah diaduk rata, kemudian dibungkus dengan plastik yang telah dilubangi kira-kira 8 lubang setiap sisi atas dan bawahnya dengan menggunakan pisau dengan ketebalan hingga 2-3cm lalu press  
  10. Simpan tempe pada suhu kurang lebih 35-40 derajat celcius, alas yang dipakai adalah baki yang memiliki celah sehingga ada sirkulasi udaranya.  
  11. Fermentasikan selama 36 jam, selama difermentasikan kira-kira 24 jam , ganti bungkus plastik dengan daun ( pisang atau jati) agar sirkulasi udara lebih efesien
  12. Setelah 36 jam tempe siap untuk di olah atau dimasak.

Khasiat dan Kandungan Gizi

Tempe berpotensi untuk digunakan melawan radikal bebas, sehingga dapat menghambat proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif (aterosklerosis, jantung koroner, diabetes melitus, kanker, dan lain-lain). Selain itu tempe juga mengandung zat antibakteri penyebab diare, penurun kolesterol darah, pencegah penyakit jantung, hipertensi, dan lain-lain.

Komposisi gizi tempe baik kadar protein, lemak, dan karbohidratnya tidak banyak berubah dibandingkan dengan kedelai. Namun, karena adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang tempe, maka protein, lemak, dan karbohidrat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. Oleh karena itu, tempe sangat baik untuk diberikan kepada segala kelompok umur (dari bayi hingga lansia), sehingga bisa disebut sebagai makanan semua umur.

Dibandingkan dengan kedelai, terjadi beberapa hal yang menguntungkan pada tempe. Secara kimiawi hal ini bisa dilihat dari meningkatnya kadar padatan terlarut, nitrogen terlarut, asam amino bebas, asam lemak bebas, nilai cerna, nilai efisiensi protein, serta skor proteinnya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap, dan dimanfaatkan tubuh dibandingkan dengan yang ada dalam kedelai. Ini telah dibuktikan pada bayi dan anak balita penderita gizi buruk dan diare kronis.

Dengan pemberian tempe, pertumbuhan berat badan penderita gizi buruk akan meningkat dan diare menjadi sembuh dalam waktu singkat. Pengolahan kedelai menjadi tempe akan menurunkan kadar raffinosa dan stakiosa, yaitu suatu senyawa penyebab timbulnya gejala flatulensi (kembung perut).

Mutu gizi tempe yang tinggi memungkinkan penambahan tempe untuk meningkatkan mutu serealia dan umbi-umbian. Hidangan makanan sehari-hari yang terdiri dari nasi, jagung, atau tiwul akan meningkat mutu gizinya bila ditambah tempe.

Sumber : http://id.wikipedia.org
    Ariyanto
     
    Nama kelompok:
    • Aryanto
    • Abdul Rojak
    • Ardiansyah Apendi
    • M. ardiansyah
    • Yusep Jalaludin

    MEMBUAT VCO

    Proses Pembuatan Virgin coconut Oil (VCO) dengan bantuan Fermentasi
      

    A. Pendahuluan

    Minyak kelapa murni (VCO) merupakan : minyak kelapa yang masih perawan, yang belum rusak karena belum tersentuh oleh panas, bahan kimia, bahan ragi fermentasi, atau diberikan bahan kimiawi lainnya seperti untuk perasa dan pengawet. Minyak kelapa yang diproses dari kelapa segar tanpa pemanasan dan tidak melalui pemurnian dengan bahan kimia,  dengan minyak kelapa yang diolah secara tradisional, VCO memiliki keunggulan, yaitu kadar air dan asam lemak bebas rendah, tidak berwarna (bening), beraroma harum, dan daya simpan lebih lama. Dalam perkembangannya VCO telah dimanfaatkan sebagai bahan baku farmasi, kosmetik, dan pangan. Minyak kelapa dengan kualitas tinggi karena tidak mengandung kolesterol, kadar air, dan asam lemak bebas air. Cara pembuatan VCO, ada yang disebut dengan metode secara Enzimatis, Fermentasi, Pengasaman, Sentrifugasi pancingan.

    B. Proses Pembuatan :

    1. Bahan

    Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan VCO secara tradisional yaitu daging buah kelapa. Sementara bahan tambahan pada proses pembuatan VCO secara tradisional tidak diperlukan. Kualitas bahan (kelapa) yang digunakan akan sangat berpengaruh terhadap kualitas VCO yang dihasilkan, di samping juga dipengaruhi oleh proses produksi. Kecuali itu, kualitas bahan yang digunakan juga berpengaruh terhadap rendemen VCO yang dihasilkan. Semakin baik mutu kelapa yang digunakan, kualitas VCO yang dihasilkan juga akan semakin baik, di samping juga rendemennya semakin tinggi, demikian sebaliknya. Adapun ciri-ciri kelapa yang baik untuk digunakan sebagai bahan pembuatan VCO seperti berikut ini :
    1. Berasal dari varietas kelapa dalam atau kelapa hibrida lokal. Rendemen yang diperoleh dari varietas ini akan lebih banyak dibandingkan dengan kelapa hibrida.
    2. Telah berumur 11-13 bulan. Umur kelapa yang akan digunakan untuk membuat VCO, tidak boleh terlalu muda atau kelewat tua. Apabila terlalu muda, kandungan minyaknya masih sangat rendah sehingga rendemen yang dihasilkan akan sedikit. Sebaliknya, bila kelapa yang digunakan sudah terlalu tua, banyak kandungan minyak yang sudah diubah menjadi karbohidrat. Dengan demikian, rendemen yang dihasilkan pun akan sedikit.
    3. Berat kelapa berkisar 130 g/butir. Sebaiknya, ukuran kelapa dipilih yang seragam agar memudahkan dalam penanganan.
    4. Kulit sabut kelapa sudah berwarna cokelat. Hal ini menandakan bahwa kelapa tersebut sudah cukup tua.
    5. Apabila dikoclak, bunyinya akan terdengar nyaring. Tentu saja hal ini sangat berhubungan dengan jumlah air yang terdapat di dalamnya. Apabila koclak, menandakan bahwa jumlah air yang berada di dalam kelapa telah berkurang. Berkurangnya jumlah air ini berhubungan dengan dekomposisi kandungan gizi kelapa. Banyak kandungan zat-zat gizi dari air kelapa yang dipindahkan ke dalam daging buahnya. Dengan demikian kandungan zat gizi yang terdapat di dalam daging buah akan bertambah banyak, terutama kandungan minyak atau lemaknya.
    6. Kelapa belum berkecambah. Apabila sudah berkecambah, kelapa tersebut sudah terlalu tua sehingga kandungan gizinya banyak yang sudah berubah.
    7. Apabila dibelah, daging buah berwarna putih dengan ketebalan berkisar 10-15 mm. Pada pangkal kelapa, sudah terdapat benjolan kecil berwarna kekuningan, disebut gandos. Apabila gandos tersebut sudah besar, sebaiknya tidak digunakan karena kandungan minyak dalam daging buah sudah banyak berkurang.


    2. Peralatan

    Peralatan yang dibutuhkan dalam proses pembuatan VCO secara tradisional sebagai berikut.
    1. Slumbat, alat ini digunakan untuk mengupas kelapa dari sabutnya. Alat ini sering digunakan oleh petani, terutama di pedesaan. Namun, bila ada mesin untuk mengupas sabut kelapa juga bisa digunakan agar pekerjaan mengupas kelapa menjadi lebih cepat. Di samping itu, bila anggaran sangat terbatas, parang juga bisa digunakan untuk mengupas kelapa. Namun, pengupasan kelapa dengan alat ini sangat lama.
    2. Golok atau parang, alat ini digunakan untuk memecah tempurung kelapa sehingga air kelapa bisa mengalir keluar. Sebaiknya, golok atau parang yang digunakan dipilih yang berbahan besi atau baja. Tujuannya tentu saja agar proses pemecahan tempurung bisa berjalan dengan baik, di samping juga agar basil yang diperoleh terkesan rapi.
    3. Ember digunakan untuk menampung air kelapa. Sebaiknya bahan ember berupa karet agar tidak mudah pecah saat diangkat atau dipindahkan bila telah terisi penuh. Ember yang digunakan tidak harus bagus, tetapi kebersihan harus tetap dijaga.
    4. Penyukil digunakan untuk memisahkan daging buah kelapa dari tempurung yang menempel. Sebaiknya, penyukil terbuat dari besi agar tidak mudah berkarat. Hal yang terpenting yaitu bahwa mata pisau penyukil hams tajam agar mudah masuk ke dalam sela-sela daging buah dan tempurung. Selain itu, gagang (pegangan) penyukil juga harus nyaman sehingga memudahkan dalam penyukilan daging kelapa.
    5. Mesin pemarut digunakan untuk memarut daging buah kelapa. Apabila tidak memungkinkan untuk mengadakan mesin pemarut, sementara bisa menggunakan parutan yang terbuat dari kayu dan dipasang mata pisau untuk memarutnya. Hal yang terpenting dari pemarut yaitu mata pisaunya, yaitu hams tajam dan tidak mudah berkarat. Bila periu, lakukan pengolesan minyak setelah dipakai, tentu saja sebelumnya harus dibersihkan dari sisa ampas yang masih menempel. Mata pisau ini juga erat kaitannya dengan tingkat kehalusan ampas kelapa yang diperoleh. Semakin halus butiran ampas kelapa tersebut, akan menghasilkan santan kelapa yang lebih banyak, demikian sebaliknya.
    6. Kain saring santan digunakan untuk menyaring ampas kelapa saat memeras. Dengan demikian, ampas kelapa tidak terikut bersama dengan santan. Kain saring yang dipilih bisa berupa kain kaos sehingga air santan mudah keluar saat dilakukan pemerasan, sedangkan ampas kelapa tetap tertinggal di dalam kain tersebut.
    7. Stoples digunakan untuk mengendapkan santan kelapa sampai terbentuk dua lapisan, yaitu krim (kepala santan/kanil) dan skim. Skim berisi protein yang terlarut dalam air. Stoples yang digunakan sebaiknya berwarna terang (transparan) sehingga kedua lapisan tersebut dapat dengan mudah bisa dilihat. Sementara bahan stoples bisa terbuat dari plastik agar ringan (tidak berat).
    8. Selang digunakan untuk membuang skim santan. Bahan selang bisa terbuat dari karet agar mudah ditekuk dan tidak lengket bila tidak digunakan. Kran pun bisa digunakan untuk menggantikan fungsi selang. Kran air yang digunakan bisa berukuran 3/4 inci dan dipasang di dasar stoples.
    9. Wajan digunakan untuk memasak kepala santan hingga terbentuk minyak. Sebaiknya, bahan wajan terbuat dari email sehingga tidak mudah gosong saat proses pemasakan dilakukan. Ukuran wajan disesuaikan dengan kapasitas produksi yang sedang dijalankan.
    10. Pengaduk digunakan untuk mengaduk santan saat pemasakan dilakukan. Pengaduk bisa bempa susuk atau centong. Hal yang perlu diperhatikan, centong harus berukuran panjang agar tangan tidak merasa panas saat mengaduk santan. Di samping itu, bahan centong juga tidak berupa bahan yang mudah menghantarkan panas, misalnya besi. Kalau terbuat dari besi, bisa disambung dengan kayu agar tidak menghantarkan panas. Bahan centong juga hams tahan panas sehingga tidak mudah meleleh.
    11. Kompor digunakan sebagai sumber pemanas dalam proses pemasakan santan menjadi minyak kelapa. Kompor yang digunakan bisa berbahan bakar minyak tanah atau gas. Dengan kedua kompos ini, besar-kecilnya api bisa dengan mudah diatur. Tungku juga bisa digunakan sebagai alat pemanas dengan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Namun, umumnya api yang dihasilkan tidak bisa diatur dengan mudah sehingga penyebaran panas tidak bisa merata. Selain itu, api yang cukup besar juga bisa membuat gosong pada wajan dan minyak kelapa yang dihasilkan.
    12. Kain saring digunakan untuk menyaring minyak kelapa yang mungkin masih bercampur dengan blondo. Untuk menghasilkan minyak kelapa murni berkualitas bagus, penyaringan juga bisa dilakukan dengan kertas saring.
    13. Kertas saring digunakan untuk menyaring VCO dari kotoran yang masih bisa lobos oleh penyaringan menggunakan kain. Kertas saring yang digunakan untuk menyaring VCO yang dibuat secara tradisional hanya terdiri dari satu macam, yaitu ukuran 10 mikron.


    3. Cara Pembuatan

    Tahap pembuatan VCO secara tradisional dikelompokkan menjadi tiga, yaitu pembuatan santan kelapa, pembuatan VCO, serta penyaringan.

    Pembuatan santan kelapa:

    Adapun tahap-tahap pembuatan santan kelapa secara tradisional sebagai berikut.
    1. Kupas sabut kelapa dengan slumbat sampai sabut tersebut terpisah dari daging buah kelapa yang masih terbungkus oleh tempurung kelapa. Selain slumbat, parang atau mesin pengupas kelapa juga bisa digunakan, tergantung skala usaha yang kita inginkan, dan tentu saja juga disesuaikan dengan anggaran yang kita miliki. Pada proses ini diperoleh sabut kelapa sebagai hasil sampingnya. Sabut kelapa masih bisa diolah menjadi berbagai kerajinan tangan dan media tanam
    2. Belah kelapa yang masih terselubungi oleh tempurung kelapa menggunakan golok. Pada proses ini, sekaligus juga bertujuan untuk membuang air kelapa. Seperti pada sabut, air kelapa juga masih bisa digunakan untuk membuat kecap, asam, dan nata de coco.
    3. Congkel daging buah kelapa yang masih melekat pada tempurung menggunakan pisau penyukil. Pada proses ini juga akan menghasilkan tempurung sebagai hasil sampingnya. Tempurung kelapa masih bisa dimanfaaatkan untuk pembuatan arang dan asap cair.
    4. Cuci daging buah kelapa yang sudah terkumpul di dalam ember. Pencucian sebaiknya menggunakan air mengalir agar lebih cepat bersih, di samping juga lebih bersifat higienis.
    5. Haluskan ukuran daging buah kelapa menggunakan pemarut. Apabila memungkinkan, bisa menggunakan mesin pemarut agar proses pemarutan bisa berjalan dengan cepat. Usahakan ukuran partikel parutan sekecil mungkin agar santan yang diperoleh lebih banyak.
    6. Campurkan air ke dalam hasil parutan dengan perbandingan 10 : 6. Artinya, dari hasil parutan 10 butir kelapa ditambahkan 6 liter air. Apabila jumlah air yang ditambahkan terlalu sedikit, kemungkinan masih ada sisa minyak yang tertinggal di dalam ampas kelapa. Namun, bila penambahannya terlalu banyak, hanya akan menyulitkan saat membuang air karena jumlah air dibandingkan minyak dalam santan jauh lebih banyak.
    7. Remas-remas santan menggunakan tangan. Tujuannya yaitu untuk mengeluarkan seluruh kandungan gizi, terutama minyak yang terdapat dalam butiran daging buah kelapa yang sudah halus. Semakin lama peremasan tentu saja akan menghasilkan minyak dalam santan yang lebih banyak. Sebaiknya peremasan dihentikan manakala air bilasan air sudah tidak berwarna putih (agak bening). Hal ini menandakan bahwa kandungan santan sudah berkurang.
    8. Saring santan menggunakan kain saring. Tujuannya untuk memisahkan antara santan dengan ampasnya. Peras ampas yang masih terdapat di dalam kain saring agar sisa santan yang masih terdapat di dalam ampas bisa keluar semuanya.
    Pembuatan VCO

    Adapun tahap pembuatan VCO dengan cara tradisional sebagai berikut:
    1. Endapkan santan pada ember transparan selama satu jam hingga terbentuk krim santan (kanil/kepala santan) dan skim santan. Krim santan berada di bagian atas karena mengandung minyak dalam jumlah banyak. Seperti yang kita tahu, bahwa berat jenis minyak lebih ringan dibandingkan berat jenis air. Sementara skim santan berada di bawah karena umumnya terdiri dari air dan protein. Ambil air (bagian bawah) dengan selang hingga tingggal tersisa krim bagian atasnya.
    2. Ambil krim santan dan masak di atas kompor dengan suhu sekitar 100-110° C menggunakan wajan. Panaskan hingga mendidih. Aduk-aduk santan selama proses pemasakan agar panas yang diterima oleh santan bisa merata.
    3. Matikan api kompor bila sudah terbentuk minyak dan blondo. Lama waktu yang dibutuhkan sampai terbentuk minyak berkisar 3-4 jam. Umumnya, minyak tersebut tidak berwarna bening, tetapi sedikit kekuningan. Sementara blondo berwarna kecokelatan. Blondo ini masih bisa dimanfaatkan sebagi bahan pangan, misalnya untuk pembuatan kue. Saring blondo dari minyak menggunakan serok. Upayakan penyaringan berjalan dengan sempurna agar tidak ada lagi sisa blondo yang terdapat di dalam minyak.
    Penyaringan

    Penyaringan dilakukan untuk memisahkan minyak dari ikutan-ikutan, berupa blondo dan kotoran lainnya. Penyaringan di sini tidak bertujuan untuk menjernihkan warna VCO. Penyaringan dilakukan dengan kain dan kertas saring. Adapun cara penyaringan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut.
    1. Pasang kain pada corong yang telah dihubungkan dengan botol kaca. Sedikit demi sedikit, tuang VCO ke dalamnya. Sebaiknya penyaringan dilakukan dengan hati-hati karena ditakutkan tumpah.
    2. Saring hasil saringan pertama dengan kertas saring. Adapun cara penyaringannya sama dengan penyaring dengan kain.
    C. Manfaat VCO
          
    homeremediesforlife.com
    Umunya bermanfaat bagi kesehatan dan keelokan tubuh. Penyakit kanker, aids, jantung, diabetes, dan obesitas dapat diatasi dengan menkonsumsi minyak kelapa murni. Sehubungan dengan manfaat yang sangat banyak, minyak kelapa murni dapat digunakan dalam industry farmasi, kosmetika, susu formula, dan minyak goreng berkualitas tinggi. Sementara ini di Indonesia, minyak kelapa murni telah dimanfaatkan dalam pembuatan sampo, deterjen, minyak gosok, minyak telon dll.
    Yuni
    Nama kelompok :
    1. Eti Kurniati
    2. Hesti Wahyuni
    3. Siti Hasanah
    4. Siti Qurrota A’yuni

    Membuat Tape Ketan


    A. LANDASAN TEORI

    Proses pembuatan tape melibatkan proses fermentasi yang dilakukan oleh jamur Saccharomyces cerivisiae. Jamur ini memiliki kemampuan dalam mengubah karbohidrat (fruktosa dan glukosa) menjadi alkohol dan karbondioksida. Selain Saccharomyces cerivisiae, dalam proses pembuatan tape ini terlibat pula mikrorganisme lainnya, yaitu Mucor chlamidosporus dan Endomycopsis fibuligera. Kedua mikroorganisme ini turut membantu dalam mengubah pati menjadi gula sederhana (glukosa).


    B. ALAT DAN BAHAN

    1. Pengukus nasi (langseng) 1 buah
    2. Panci atau baskom 1 buah
    3. Tampah 1 buah
    4. Cukil kayu 1 buah
    5. Kipas 1 buah
    6. Keler/daun pisang/plastik
    7. Beras ketan hitam atau ketan putih
    8. Ragi tape

    C. PROSEDUR KERJA

    1. Cuci bersih semua peraltan yang akan digunakan, lalu keringkan
    2. Cuci bersih beras ketan yang akan digunakan
    3. Rendamlah beras ketan tersebut selama 12 jam
    4. Setelah direndam selama 12 jam, angkat beras ketan tersebut lalu bilas dengan air beberapa kali
    5. Kukus beras ketan tersebut sampai matang
    6. Angkat beras ketan yang telah matang, lalu letakkan di atas tampah atau baskom, dinginkan dengan cara mengipasinya
    7. Setelah dingin campurkan ragi yang telah dihaluskan dan aduk sampai merata
    8. Bungkus ketan yang tela dicampur ragi dengan daun pisang atau plastik, atau masukkan ke dalam keler (stoples)
    9. Simpan selama 2-3 hari


    catatan:
    1. Banyaknya ragi yang digunakan disesuaikan dengan jumlah beras ketan. Bila terlalu banyak    akan mempercepat   proses fermentasi dan menyebabkan rasa tape menjadi pengar, bila terlalu sedikit dapat menyebabkan tape yang terbentuk tidak manis dan terasa keras
    2. Takaran ragi yang tepat biasanya diperoleh berdasarkan pengalaman
    3. Kualitas tape yang baik turut ditentukan oleh jenis ragi yang digunakan dan asal ragi tersebut
    Hafiz P

    Anggota kel :
    • Hafiz Paikar
    • Ameliana A
    • Siti Nita komala
    • Siti Syamsiah
     Tambahan :



    Minggu, 18 September 2011

    Budidaya Jamur Merang



    Sejarah mengatakan bahwa JAMUR telah di konsumsi sejak ribuan tahun yang silam baik itu jamur tiram maupun kamur yang lain.Pada awalnya JAMUR adalah makanan yang biasa di konsumsi oleh raja-raja mesir kemudian menyebar luas menjadi makanan masyarakat umum.

    Cina sejak ribuan tahun silam telah menggunakan jamur sebagai bahan obat-obatan. Jamur pertama yang di budidayakan di daratan cina adalah jamur Merang (Volvariella volvaceae) pada pertengahan abad 17.  Di indoneasia jamur merang mulai di budidayakan kira-kira sejak tahun 1950 an.

    Jamur tiram dapat di olah menjadi berbagai macam masakan, misalnya cah jamur saus tiram, mie ayam jamur dll. Kebutuhan jamur tiram di pasaran terus meningkat sehingga pembudidayaan jamur tiram terus di kembangkan di sana sini. Membudidayakan jamur tiram untuk dijadikan usaha keluarga adalah pilihan yang bagus Sebab usaha jamur tidak ada matinya, kebutuhan pasar akan jamur sangat besar selain untuk di olah menjadi masakan, jamur juga bias di jadikan baha obat-obatan.

    Jika anda kesulitan mencari bibit jamur merang, anda dapat mencarinya di internet dengan pembelian secara online. Caranya ketikkan saja “Jual bibit jamur merang “ di google, maka anda akan mendapatkan banyak sekali penawaran bibit jamur merang. Nah jika anda berminat membudidayakan jamur  merang, maka anda perlu belajar bagaimana Cara budidaya jamur merang dengan baik. Perhatikan beberapa hal penting di bawah ini :

    I. Pembuatan Kumbung

    A. Penentuan Lokasi :
    1. Sumber jerami
    2. Sumber air
    3. Jalan

    B. Persyaratan Kumbung :
    1. Dinding dalam dan atas menggunakan plastik polyetilen.
    2. Dinding luar menggunakan sterofoam.
    3. Kumbung lebih baik ditempat

    C. Perbedaan kumbung :
    1. Kumbung atas lancip : bila panas maka uap akan mengalir ke samping. Digunakan untuk kumbung yang memiliki satu rak ditengah.
    2. Kumbung atas datar : uap air akan jatuh ketengah-tengah kumbung. Digunakan untuk kumbung yang memiliki dua rak

    II. Media

    1. Jerami
    2. Kapur CaCO3
    3. Dedak
    4. Limbah kapas
    a. Jerami mengandung :
    • Lignin
    • Selulosa
    • Silicca

    b. Alternatif jerami :
    • Alang-alang
    • Eceng gondok
    • Batang jagung
    • Kelaras pisang
     c. Alternatif limbah kapas :
    •  Ampas sagu
    •  Ampas tahu
    • Ampas tempe
    • Ampas kapuk

    III. Pembuatan Kompos
    1. Lapisan atas : kompos kapas
    2. Lapisan bawah : kompos jerami

    IV. Memasukkan Kompos
    1. ±10 hari kompos jerami masuk kumbung, simpan setinggi ±40 cm/rak.
    2. Lapisi ± 0,5 cm kompos kapas yang telah dikompos selama 1 bulan.
    3. Pasteurisasi sampai suhu 70°C, pertahankan 4-5 jam.
    4. Penanaman dilakukan bila suhu < 40°C.

    V. Pasteurisasi / Steam
    1. Lantai kumbung dibersihkan.
    2. Peralatan untuk wadah penanaman bibit harus disertakan dalam pasteurisasi.
    3. Semua ruang tertutup.
    4. Drum pasteurisasi diisi penuh, salurkan pipa ke dalam kumbung.
    5. Setelah mencapai 70°C (biasanya setelah 7-8 jam). Suhu dipertahankan selama 4-5 jam
    6. Penanaman bibit dilakukan setelah istirahat 1 hari.

    Catatan :
    • bila penyeteaman tidak matang, maka jendela harus dibuka agar amoniak keluar.
    • bila penyeteman matang, maka jendela ditutup saja.
    VI. Penanaman Bibit
    1. pH diusahakan mencapai 7 / netral.
    2. Peralatan untuk penanaman yang telah di pasteurisasi disiapkan untuk diisi bibit.
    3. Bibit log dihancurkan agar lembut. ( 1 log untuk 1m2)
    4. Bibit ditabur pada 2/3 media dari tinggi media / tengahnya tidak di tabur.
    5. Bibit sempilan di tanam di bawah media gulungan sebanyak 2 tempat tanam.
    6. Bisa juga dibuat bantalan di tiang danditanami bibit.
    7. Hari I : penanaman dilakukan sore hari.
    8. Hari II : pertumbuhan miselium diperhatikan.
    9. Hari III : 
      • Bila bibit telah keluar miselium, maka langsung disiram.
      • Bila bibit belum tumbuh, maka penyiraman dilakukan hari ke 4.
      • Penyiraman bibit dilakukan pada tengah hari ± pkl 13.00
    10. Hari IV : mulai hari ke 4, pintu & jendela dibuka antara pkl 06.00-06.15.
    11. Hari V : jendela dibuka 15°. Pintu di buka pkl 00.00 selama ½ jam.
    12. Hari VI : jendela di buka 30 °.
    13. Hari VII : jendela di buka 45°.
    14. Hari VIII : jendela di buka 60-90° / bila jamur tumbuh besar.
    15. Panen selanjutnya jendela dibuka terus sampai selesai.

    VII. Pemeliharaan Media
    1. Penyiraman dilakukan 3 atau 4 hari setelah tanam,untuk mengubah masa vegetatif menjadi masa generatif.  Karena penyiraman dilakukan pada siang hari sehingga jamur menjadi stress dan mengubah fase tanam.
    2. Temperatur ruangan 34-36°C.
    3. Temperatur media 34- 38°C.
    4. Bila temperatur media mencapai 38°C atau lebih maka akan tumbuh cendawan Monilia, tumbuh antara hari ke V – VIII.

    VIII. Panen
    1. Ciri jamur siap tanam :
      • Bila masih ada tonjolan , panen dilakukan keesokan harinya.
      • Bila bulat sudah merata , jamur siap panen.
    2. Cara panen jamur :
      • Lebih baik tidak menggunakan kuku tangan, tetapi menggunakan pisau yang telah disterilkan.
      • Tinggalkan / sisakan sedikit pangkal buah jamur yang di panen.
      • Media tidak boleh terangkat.
    3. Penyebab menurunnya kualitas jamur merang (bercak-bercak):
      • Pasteurisasi tidak matang
      • Dedak tidak matang
    4. Penyebab jamur pecah :
      • Suhu terlalu tinggi
      • Terlambat waktu panen.
    Selamat Mencoba.

    Sumber :
    Peluang usaha-oke.com

    TEMPE DAUN SINGKONG

    Daun singkong bahan baku tempe? Betul, bahkan citarasanya amboi lezatnya. Tempe daun singkong berkualitas baik, bertekstur lembut dengan aroma khas dan bagian dalam berwarna hijau gelap. Karuan saja kita dapat mengolahnya menjadi beragam penganan dengan menggoreng, menumis, atau menggulai. Bukan hanya lezat, tempe daun singkong juga kaya gizi.

    Hasil pengujian di Balai Riset dan Standarisasi Padang, Provinsi Sumatera Barat dan Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Andalas menunjukkan kandungan protein total tempe daun singkong 20-30%. Bandingkan dengan protein susu yang mencapai 25% atau kedelai 35-43%. Selain itu menurut Badan Pangan dan Pertanian (FAO) daun singkong kaya vitamin A dan vitamin C.

    Daun singkong mengandung 11.000 IU vitamin A dan 275 mg vitamin C dalam 100 gram. Buah yang identik dengan vitamin C, yakni jeruk hanya mengandung 50 mg, sedangkan 1 gelas jus apel memiliki 20 IU vitamin A. Kedua kandungan nutrisi itu berfaedah bagi kesehatan mata dan kekebalan tubuh, terutama pada anak-anak. Artinya tempe daun singkong menjadi salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan kedua vitamin esensial itu.

    Sebagian masyarakat Padang, Sumatera Barat, juga menerima kehadiran tempe pendatang baru itu. Harap mahfum, citarasanya memang lezat. Padahal ketika pertama kali tempe daun singkong hadir, banyak yang menolak untuk mencicipinya. Boleh jadi karena penampilan tempe daun singkong yang kehijauan itu berbeda jauh dengan tempe yang mereka kenal. Namun, lama kelamaan mereka justru menggemari penganan unik itu.

    Tempe daun singkong memang bukan satu-satunya tempe nonkedelai. Di tanahair banyak terdapat tempe berbahan dasar nonkedelai-meski termasuk kelompok legume seperti tempe koro benguk (bahan biji karabenguk Mucuna pruriens), tempe gude (gude Cajanus cajan), dan tempe koropedang Canavalia ensiformis. Selain itu terdapat pula tempe berbahan baku nonlegum seperti tempe mungur berbahan baku biji mungur Enterolobium saman, tempe bongkrek (bungkil kapuk Ceiba pentandra), dan tempe karet (biji karet Hevea brasiliensis).

    Alasannya jika cendawan Monelia sp mampu tumbuh di daun singkong, ragi tempe Rhizopus oligosporus mungkin dapat juga berkembang di media serupa. Mula-mula daun singkong muda-seperti untuk sayuran-direbus agar lunak, kering angin, dan segera ditaburi ragi tempe saat dingin dan dibungkus. Prosesnya sama persis dengan membuat tempe dari kedelai Glycine max. Namun, tiga hari kemudian ragi gagal tumbuh dan berkembang karena kadar air yang tidak pas.

    Setelah beberapa kali gagal, akhirnya pada 2006 tempe daun singkong pertama pun berhasil dibuat. Proses fermentasi berlangsung 2-3 hari, sama dengan pembuatan tempe berbahan baku kedelai. Tempe daun singkong jelas menarik karena menggunakan bahan baku yang bergizi, murah, dan mudah ditemui.

    Karena bergizi, tempe daun singkong berfaedah sebagai bahan pangan untuk peningkatan gizi masyarakat. Itu karena tempe mengandung protein tinggi dan mudah dicerna. Selain itu bahan baku melimpah, berbeda dengan kedelai yang selama ini mesti kita impor. Potensi daun singkong di Indonesia cukup besar karena penghasil singkong nomor tiga di planet bumi setelah Nigeria dan Brasil.

    Produksi singkong Indonesia pada 2010 mencapai 22 juta ton dari lahan 1,6 juta ha. Dari perkebunan singkong Manihot esculenta terdapat 2-3 ton daun segar per ha. Artinya potensi daun singkong di Indonesia mencapai 3.200.000-4.800.000 ton daun segar per tahun. Itulah sebabnya peluang daun singkong sebagai bahan tempe sangat besar.

    Pengolahan ampas daun singkong menjadi tempe sebetulnya merupakan hasil samping ekstraksi senyawa bioflavonoid bernama rutin. Rutin suatu senyawa glikosida yang mengandung aglikon kuersetin dan gula rutinosa. Senyawa itu disebut juga vitamin P yang berfungsi menjaga permeabilitas pembuluh darah.

    Rutin juga merupakan bahan industri obat, zat pengatur tumbuh, dan kosmetik. Untuk memperoleh senyawa itu dengan cara mengendapkan air perasan daun singkong. Prosesnya relatif mudah, semudah membuat tempe daun singkong yang bergizi dan lezat itu. Tempe daun singkong terdaftar di Ditjen HKI pada 2007 dengan nomor paten P 00200700553. (Prof. Dr. Amri Bakhtiar, guru besar Fakultas Farmasi Universitas Andalas) Tempe Ubi kayu

    1. Siapkan daun singkong muda
    2. Rebus daun singkong muda hingga teksturnya lembut
    3. Tiriskan daun singkong hasil rebusan
    4. Hamparkan sejumput daun singkong di atas daun pisang pembungkus dan taburkan ragi tempe di permukaannya, lalu bungkus dan ikat
    5. Diamkan selama 2-3 hari untuk proses fermentasi
    6. Tempe daun singkong siap masak.
    Alternatif lain cara membuatnya :

    1. daun ubi kayu di cuci bersih kemudian direbus, dalam perebusan daun ubi kayu, jangan sampai terlalu matang, cukup setengah matang saja lalu diangkat
    2. daun ubi kayu diperas untuk menggurangi airnya,
    3. daun singkong diiris kecil kecil
    4. tambahkan ragi tempe diaduk sampai rata (sampai daun ubi tertutupi oleh ragi),
    5. dimasukkan dalam kantong plastik yang telah ditusuk-tusuk agar terdapat lubang-lubang udara,
    6. didiamkan selama 2-3 hari ditempat yang terlindung dari sinar matahari dan tidak terlalu lembab.
    Sumber :
    1. Trubus vol 500 Edisi Juli 2011/XLII
    2. http://www.borneotribune.com

    Rabu, 08 Desember 2010

    Pembuatan Tempe


    Teknik pembuatan tempe di Indonesia secara umum terdiri dari 7 tahapan : perebusan, pengupasan, perendaman dan pengasaman, pencucian, inokulasi dengan ragi, pembungkusan, dan fermentasi.
    1. Perebusan. Pada tahap awal pembuatan tempe, biji kedelai direbus. Tahap perebusan ini berfungsi sebagai proses hidrasi, yaitu agar biji kedelai menyerap air sebanyak mungkin. Perebusan juga dimaksudkan untuk melunakkan biji kedelai supaya nantinya dapat menyerap asam pada tahap perendaman.
    2. Pengupasan. Kulit biji kedelai dikupas pada tahap pengupasan agar miselium fungi dapat menembus biji kedelai selama proses fermentasi. Pengupasan dapat dilakukan dengan tangan, diinjak-injak dengan kaki, atau dengan alat pengupas kulit biji.
    3. Perendaman dan Pengasaman. Setelah dikupas, biji kedelai direndam. Tujuan tahap perendaman ialah untuk hidrasi biji kedelai dan membiarkan terjadinya fermentasi asam laktat secara alami agar diperoleh keasaman yang dibutuhkan untuk pertumbuhan fungi. Fermentasi asam laktat terjadi dicirikan oleh munculnya bau asam dan buih pada air rendaman akibat pertumbuhan bakteri Lactobacillus. Bila pertumbuhan bakteri asam laktat tidak optimum (misalnya di negara-negara subtropis), asam perlu ditambahkan pada air rendaman. Fermentasi asam laktat dan pengasaman ini ternyata juga bermanfaat meningkatkan nilai gizi dan menghilangkan bakteri-bakteri beracun.
    4. Pencucian. Proses pencucian akhir dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang mungkin dibentuk oleh bakteri asam laktat dan agar biji kedelai tidak terlalu asam. Bakteri dan kotorannya dapat menghambat pertumbuhan fungi.
    5. Inokulasi. Inokulasi dilakukan dengan penambahan inokulum, yaitu ragi tempe atau laru. Inokulum dapat berupa kapang yang tumbuh dan dikeringkan pada daun waru atau daun jati (disebut usar; digunakan secara tradisional), spora kapang tempe dalam medium tepung (terigu, beras, atau tapioka; banyak dijual di pasaran), ataupun kultur R. oligosporus murni (umum digunakan oleh pembuat tempe di luar Indonesia). Inokulasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) penebaran inokulum pada permukaan kacang kedelai yang sudah dingin dan dikeringkan, lalu dicampur merata sebelum pembungkusan; atau (2) inokulum dapat dicampurkan langsung pada saat perendaman, dibiarkan beberapa lama, lalu dikeringkan.
    6. Pembungkusan. Setelah diinokulasi, biji-biji kedelai dibungkus atau ditempatkan dalam wadah untuk fermentasi. Berbagai bahan pembungkus atau wadah dapat digunakan (misalnya daun pisang, daun waru, daun jati, plastik, gelas, kayu, dan baja), asalkan memungkinkan masuknya udara karena kapang tempe membutuhkan oksigen untuk tumbuh. Bahan pembungkus dari daun atau plastik biasanya diberi lubang-lubang dengan cara ditusuk-tusuk.
    7. Fermentasi. Biji-biji kedelai yang sudah dibungkus dibiarkan untuk mengalami proses fermentasi. Pada proses ini kapang tumbuh pada permukaan dan menembus biji-biji kedelai, menyatukannya menjadi tempe. Fermentasi dapat dilakukan pada suhu 20 °C–37 °C selama 18–36 jam. Waktu fermentasi yang lebih singkat biasanya untuk tempe yang menggunakan banyak inokulum dan suhu yang lebih tinggi, sementara proses tradisional menggunakan laru dari daun biasanya membutuhkan waktu fermentasi.


    KELOMPOK 6

    Teknik Membuat Yoghurt

    Pengertian

    Yoghurt atau yogurt, adalah susu yang dibuat melalui fermentasi bakteri. Yoghurt yaitu Streptococus thermophylus (ST) dan Lactobacilus bulgaricus (LB). Yoghurt dapat dibuat dari susu apa saja, termasuk susu kacang kedelai. Tetapi produksi modern saat ini didominasi susu sapi. Fermentasi gula susu (laktosa) menghasilkan asam laktat, yang berperan dalam protein susu untuk menghasilkan tekstur seperti gel dan bau yang unik pada yoghurt. Yoghurt sering dijual apa adanya, bagaimanapun juga rasa buah, vanilla atau coklat juga populer.

    Cara Pembuatannya :

    Alat:
    panci
    sendok adukan dari kayu
    kompor
    termometer
    kipas

    Bahan :
    susu sapi segar
    bakteri Streptococus thermophylus (ST) dan Lactobacilus bulgaricus (LB)

    Langkah-langkah pembuatan yoghurt:
    • Siapkan susu yang sudah dicairkan dengan air matang sebanyak 1 liter lalu tambahkan susu krim sebanyak 15%.
    • Masak dengan api kecil sambil diaduk terus selama 30 menit tetapi jangan sampai mendidih (88-90oC). Hal ini hanya bertujuan untuk sterilisasi dan menguapkan air sehingga nantinya akan terbentuk gumpalan atau solid yoghurt.
    • Jika sudah, solid yoghurt lalu diangkat dan didinginkan kira-kira sampai hangat-hangat kuku baru kemudian ditambahkan bibit yoghurt sebanyak 2 – 5% dari jumlah yoghurt yang sudah mengental tadi. Bibit yoghurt memang tidak dijual di pasaran secara bebas tetapi dapat anda peroleh disalah satu toko. Atau secara sederhananya kita dapat menggunakan yogurt yang plain (tanpa rasa tambahan), tanpa gula dan tanpa aroma sebagai bibit yoghurt.
    • Diamkan selama 24 jam dalam wadah tertutup untuk menghasilkan rasa asam dan bentuk yang kental .
    • Semakin tinggi total solidnya maka cairan bening yang tersisa semakin sedikit, dan yoghurt yang dihasilkan semakin bagus. Solid yoghurt yang belum diberikan tambahan rasa ini dapat juga dijadikan bibit yoghurt untuk pembuatan selanjutnya.
    • Setelah berbentuk yoghurt dapat ditambahkan sirup atau gula bagi yang tidak kuat asamnya, bahkan bisa ditambahkan dengan perasa tambahan makanan seperti rasa jeruk, strawberry dan leci yang dapat kita peroleh di apotek-apotek. Yoghurt dapat disajikan tidak hanya sebagai minuman, tetapi juga dapat disajikan bersama salad buah sebagai sausnya ataupun sebagai bahan campuran es buah.

    Yoghurt yang sudah jadi dapat ditempatkan di wadah plastik ataupun kaca. Kalaupun kita ingin menggunakan wadah plastik sebaiknya yang agak tebal, akan tetapi bila ingin menyimpan yoghurt untuk waktu yang lebih lama sebaiknya menggunakan wadah kaca.

    Kelebihan Yoghurt
    • Sangat cocok di konsumsi oleh orang yang sensitif dengan susu (yang di tandai dengan diare) karena laktosa yang terkandung pada susu biasa sudah di sederhanakan dalam proses permentasi yoghurt
    • Bila dikonsumsi secara rutin bahkan mampu menghambat kadar kolesterol dalam darah karena yoghurt mengandung bakteri lactobasilus. Lactobasilus berfungsi menghambat pembentukan koresterol dalam darah kita yang berasal dari makanan yang kita makan seperti: jeroan atau daging
    • Meningkatkan daya tahan tubuh kita karena yoghurt mengandung banyak bakteri baik, sehingga secara otomatis dapat menyeimbangkan bakteri jahat yang terdapat dalam susu kita.

    2 hal yang harus diperhatikan yaitu:
    Yoghurt tidak boleh terkena sinar matahari
    Tidak boleh di taruh dalam suhu ruangan, harus di simpan dalam suhu dingin tetapi juga tidak boleh diletakan dalam freezer
    Tips memilih yoghurt
    Pilihlah yoghurt yang kental
    • Pilihlah yoghurt yang disimpan di suhu dingin jangan yang diluar karena biasanya sudah disterilkan lagi sehingga mikroorganismenya sudah tidak ada
    • Di cermati labelnya yang plain yoghurt atau yang drink yoghurt di sesuaikan dengan kebutuhan kita
    • Di cermati tanggal kadaluarsanya
    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Selamat mencoba semoga sukses dan jangan lupa bagi-bagi ya kalau dah jadi, he he he

    Belajar Geografi ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

    TOPO