Jumat, 08 September 2023

KERAGAMAN HAYATI #4

 D. Manfaat Flora dan Fauna untuk Kesejahteraan


Siapapun orangnya, baik dari dalam maupun luar negeri pasti kagum melihat keragaman flora dan fauna di Indonesia. Flora dan fauna tersebut menjadi bagian dari keanekaragaman hayati di Indonesia. Keanekaragaman hayati merupakan keanekaragaman makhluk hidup yang berasal dari semua sumber, baik daratan, lautan, maupun ekosistem perairan lain dan kompleks ekologi yang menjadi bagian dari keanekaragamannya. 



Indonesia memiliki kekayaan jenis flora dan fauna yang tinggi. Indonesia menduduki urutan ketujuh dalam kekayaan flora berbunga. Indonesia memiliki lebih dari 25 ribu tumbuhan berbunga, lebih dari 400 jenis kayu komersial di Asia Tenggara (kayu dipterocarp), dan berbagai jenis dari palem terbesar dunia. Selain flora, Indonesia juga memiliki kekayaan fauna yang melimpah. Indonesia merupakan negara dengan kekayaan jenis mamalia dan kupu-kupu swallowtail terbanyak di dunia. Indonesia juga memiliki 1519 jenis burung, lebih dari 270 jenis amfibi, dan lebih dari 600 jenis reptil. 



Keanekaragaman flora fauna merupakan sumber daya yang penting bagi pembangunan. Kekayaan flora dan fauna Indonesia memberikan manfaat dan nilai secara ekonomis bagi masyarakat. Selain itu, kekayaan flora dan fauna juga dapat memengaruhi sektor perekonomian nasional, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal tersebut dikarenakan keanekaragaman flora dan fauna bersifat renewable sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. 



Pertanian dan perikanan yang merupakan hasil dari pemanfaatan keanekaragaman flora dan fauna dapat menopang perekonomian negara. Di beberapa negara berkembang keanekaragaman flora dan fauna menyumbang sekitar 32% GDP. Keanekaragaman flora dan fauna juga dapat menjadi komoditi pariwisata. Dari pariwisata alam dapat dihasilkan pendapatan negara sekitar 2 sampai 12 miliar dolar per tahun. Pada tahun 1989, perdagangan produk pertanian mencapai 3 triliun dolar. Tanaman hasil pertanian memiliki nilai penting bagi negara, baik dalam skala nasional maupun global. Lebih dari 600 jenis tumbuhan dan hewan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan harian seperti sandang, pangan, obat, energi, papan, dan peralatan. Selain itu, terdapat 7000 jenis ikan laut dan ikan tawar menjadi sumber protein bagi masyarakat Indonesia. 



Gambar 2.38. Jamu dari Tumbuhan Kunyit 


Sumber: freepik.com/tascha1 (2021) 



Tak hanya dalam bidang ekonomi, di bidang kesehatan keanekaragaman flora dan fauna memiliki manfaat yang besar dalam bidang kesehatan. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang memanfaatkan tumbuhan dan hewan dari alam sebagai bahan obat-obatan tradisional. Bahkan di Amerika Serikat tumbuhan dan hewan di ekstraksi untuk dijadikan media pengobatan modern. Lebih dari 3000 antibiotik seperti penisilin dan tetrasiklin diperoleh dari mikroorganisme. Penemuan revolusioner transplantasi jaringan manusia seperti jantung dan ginjal juga diperoleh dari siklosporin yang dikembangkan dari suatu kapang tanah. Pada tahun 1929, Christian Eijkman, Direktur Sekolah Dokter Jawa yang sekarang dikenal dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menemukan kulit ari beras sebagai anti beri-beri yang kita kenal dengan vitamin B1. Saat ini vitamin dan suplemen lainnya menjadi bisnis bernilai miliaran dolar. 



Dilihat dari segi fungsi sosial dan ekologis, keanekaragaman flora dan fauna memiliki beberapa manfaat. Dalam bidang sosial, keanekaragaman flora dan fauna memiliki fungsi sebagai penyedia lapangan pekerjaan, membentuk budaya setempat, dan membentuk jati diri masyarakat. Adanya keanekaragaman tersebut mengakibatkan masyarakat dapat meningkatkan kemampuan adaptasi dan memperkaya aspirasinya dalam menghadapi peningkatan kebutuhan hidup dan perubahan lingkungannya. 




Adapun fungsi ekologis dari keanekaragaman flora dan fauna ialah ketersediaan oksigen yang dihasilkan oleh tumbuhan. Tumbuhan juga memiliki kemampuan dalam menyaring polutan udara sehingga dapat dihasilkan mutu udara yang berkualitas untuk proses pernapasan makhluk hidup di bumi. Tak hanya itu, keberadaan mikroorganisme dalam tanah juga memiliki fungsi ekologis. Mikroorganisme dalam tanah dapat memperbaiki struktur tanah, kesuburan tanah, memengaruhi kondisi kimiawi dan biologis tanah, serta memberikan kualitas kehidupan yang lebih baik bagi manusia. 



Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa keanekaragaman flora dan fauna memiliki peranan yang penting dalam menjamin kehidupan dan kesejahteraan manusia. Mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga berbagai macam mutu lingkungan seperti air, udara, dan tanah. Oleh sebab itu, untuk menjaga keberadaannya, diperlukan proses pengelolaan berkelanjutan yang baik dan benar terhadap keanekaragaman flora dan fauna. 



Pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia perlu menggunakan strategi nasional agar semua pihak dapat ikut melaksanakan dan mengupayakan perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan berkelanjutan. Strategi nasional berasaskan pada pemanfaatan ilmu dan teknologi, diversifikasi atau penganekaragaman, pemanfaatan, dan keterpaduan pengelolaan. Dalam hal ini, pemerintah berkewajiban melaksanakan peraturan terkait pemanfaatan dan pelestarian keanekaragaman hayati dan menyelaraskan tugas dan kewajiban semua pihak untuk pengelolaan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan. Strategi nasional juga mendorong pemerintah untuk dapat melaksanakan kerja sama internasional dalam bidang pengelolaan keanekaragaman hayati sebagai sumber daya terbarukan. 




Salah satu pengelolaan keanekaragaman hayati yang dapat dilakukan ialah pengelolaan berbasis bioregional. Kawasan bioregional merupakan kawasan daratan dan perairan yang memiliki batasan didasarkan pada batas geografik kelompok masyarakat dan sistem ekologis tertentu. Bioregional memiliki keunggulan ekologi, ekonomi, dan sosial budaya yang jelas. 



Konsep pembangunan kawasan bioregional tergambarkan dalam delapan elemen. 

  • Pertama, bioregional development plan yang berpusat pada kawasankawasan lindung atau kawasan konservasi yang sudah ada sebagai inti dari bioregion, di dalamnya terdapat fungsi-fungsi ekologis dan pengawetan keanekaragaman hayati. 

  • Kedua, daerah aliran sungai (DAS) sebagai daerah adanya mata air di pegunungan hingga menuju laut yang melintasi berbagai tata guna lahan, mulai dari wilayah hutan lindung di pegunungan hingga wilayah perikanan tambak di muara sungai. 

  • Ketiga, lahan-lahan kritis rehabilitasi sebagai daerah konservasi. 

  • Keempat, kawasan pesisir dan lautan yang dikelola untuk kegiatan konservasi berbagai keanekaragaman hayati di kawasan tersebut. 

  • Kelima, dataran penggembalaan yang dikelola untuk mendukung pemeliharaan flora dan fauna asli, serta pengembangan ternak untuk menjamin kebutuhan hidup masyarakat di kawasan tersebut.

  • Keenam, lahan pertanian yang dikelola untuk mengoptimalkan hasil pertanian jangka panjang serta pelestarian keanekaragaman hayati melalui pengurangan penggunaan pupuk berbahan kimia sintetis dan pengembangan agroforestry.

  • Ketujuh, rangkaian kelembagaan berbasis masyarakat sebagai pendukung kegiatan konservasi seperti penyimpanan benih, pelayanan penyuluhan pertanian, pusat penelitian, inventarisasi, serta pengembangan pemantauan keanekaragaman hayati dalam bioregion tertentu. 

  • Kedelapan, kawasan perkotaan yang besar dalam bioregion sebagai penyedia lembaga pendukung seperti kebun binatang, kebun raya, sekolah, tempat ibadah dan media massa guna meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat. 



Pemanfaatan keanekaragaman hayati secara optimal dengan mempertahankan ketersediaannya dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama memprioritaskan investasi nasional dalam pemanfaatan dan pengelolaan biodiversitas. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan mengembangkan ekowisata berbasis sains dan bioprospeksi dalam upaya penemuan obat dan energi, serta eksplorasi laut dalam. Kedua, mengembangkan sains dan teknologi untuk biodiversitas Indonesia. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memahami sifat-sifat dasar megabiodiversitas melalui observasi, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengelola biodiversitas yang produktif dan berkelanjutan, serta meningkatkan pemanfaatan dan nilai ekonomi dari keunggulan biodiversitas. 



Ayo Berpikir Kreatif



Setelah kalian membaca materi manfaat flora dan fauna untuk kesejahteraan, untuk melatih kemampuan berpikir kreatif, kemukakan gagasanmu dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: 

  1. Pilihlah satu diantara flora atau fauna yang bermanfaat bagi kesejahteraan! 

  2. Berikan argumentasi mengapa flora atau fauna tersebut kalian pilih. 

  3. Apa gagasan baru yang hendak kalian kemukakan agar flora atau fauna tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan tetap terjaga kelestariannya?



1. Pelestarian Flora dan Fauna untuk Kesejahteraan Manusia 



Kalian sudah mempelajari berbagai manfaat dari flora fauna. Flora dan fauna bermanfaat bagi kesehatan, ekonomi, dan pelestarian lingkungan sendiri yang penting bagi kesejahteraan manusia. Tentu kita merasa sangat bersyukur bisa hidup di Indonesia yang kaya akan keragaman hayati. Namun, berbagai masalah ekonomi, budaya, dan hukum yang terjadi dapat mengancam keberlangsungan flora dan fauna. Oleh karena itu diperlukan suatu usaha untuk mencegah flora dan fauna menuju kepunahan. Satu diantara upaya tersebut adalah melalui metode konservasi. Menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1990, konservasi adalah upaya pelestarian sumber daya alam hayati secara berkelanjutan agar terpelihara, mampu mewujudkan keseimbangan ekosistem, dan sumber daya alam hayati. Secara garis besar, konservasi dapat diartikan sebagai pengelolaan biosfer secara aktif dengan tujuan menjaga keanekaragaman flora dan fauna. Ada tiga tujuan konservasi yaitu:

  • Menjamin kelestarian fungsi ekosistem sebagai penyangga kehidupan,

  • mencegah kepunahan spesies yang disebabkan oleh kerusakan habitat dan pemanfaatan yang tidak terkendali, dan

  • menyediakan sumber plasma nutfah atau keanekaragaman genetika. 



Ayo Berpikir Kritis 



Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan subspesies terakhir jenis harimau yang pernah ada di Indonesia. Dua kerabatnya, Harimau Bali (P. t. Balica) dan Harimau Jawa (P.t. Sondaica) sudah lama hilang dari habitatnya. Harimau Bali telah dinyatakan punah sejak tahun 1940-an, sedangkan Harimau Jawa sudah tak terlihat lagi sejak tahun 1980-an. Pada akhir tahun 1970an, diyakini populasi Harimau Sumatera berkisar sekitar 1.000 individu, kemudian menurun menjadi sekitar 400-500an ekor pada awal 1990-an. 


Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Tahun 2007, saat ini estimasi populasi harimau di delapan kawasan yang telah diidentifikasi dari 18 kawasan yang ada hanya tersisa sekitar 250-an ekor saja. Sementara di 10 kawasan lainnya belum dapat diestimasi jumlahnya. Namun para ahli harimau yakin populasinya di Sumatra tidak lebih dari estimasi pada tahun 1990-an tersebut. 


Grafik Penurunan Jumlah Harimau Sumatera Sejak 1970-an Hingga 2012



  1. Berdasarkan grafik diatas, hitunglah berapa persen rata-rata penurunan jumlah Harimau Sumatera sejak tahun 1970 hingga 2010? 

  2. Apa faktor-faktor yang menyebabkan penurunan jumlah Harimau Sumatera? 

  3. Apa upaya yang paling tepat untuk mengatasi penurunan jumlah Harimau Sumatera? 

  4. Jika Harimau Sumatera dinyatakan punah, apa yang akan terjadi? 

  5. Buatlah rumusan masalah berdasarkan artikel tersebut! 

  6. Bagaimana solusi pemecahan masalah berdasarkan artikel tersebut? 

  7. Solusi pemecahan masalah mana yang menurutmu paling sesuai untuk mengatasi permasalahan tersebut? Berikan argumentasi kalian! 



2. Metode Pelestarian Flora dan Fauna



Untuk melaksanakan konservasi dibutuhkan metode atau cara agar dapat berlangsung efektif dan efisien. Ada dua metode konservasi flora dan fauna yang banyak dilakukan selama ini, yakni metode in situ dan ex situ. 


a. Metode In situ 


Metode In situ adalah upaya pelestarian keanekaragaman hayati yang dilakukan langsung di habitat asli flora dan fauna bersangkutan (Samedi, 2015). In situ adalah salah satu strategi pelestarian jangka panjang bagi keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia (Christanto, 2014). Pelestarian cara ini mampu melindungi populasi dan komunitas alami di habitat aslinya. Terdapat beberapa metode pelestarian dengan metode in situ. 



1) Cagar Alam 


Cagar Alam adalah kondisi alam yang memiliki sifat khas dan keunikan flora dan fauna di dalamnya. Contoh: Cagar Alam Maninjau, Kebun Raya Cibodas, dan Pulau Sempu.

2) Taman Nasional


Taman Nasional adalah suatu tempat yang luas, baik di darat maupun di laut, yang mendapatkan perlindungan pemerintah. Perlindungan taman nasional diperlukan untuk tujuan penelitian, pendidikan, pelestarian, dan pariwisata. Contoh: Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon, dan Taman Nasional Kerinci, Taman Nasional Tengger, dan sebagainya.


3) Hutan Lindung


Hutan lindung adalah hutan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk dilindungi karena ekosistem di dalamnya berperan penting dalam keseimbangan lingkungan. Contoh: Hutan Lindung Taman Raya Bung Hatta, Sungai Wain, Gunung Leuser, dan sebagainya. Suaka margasatwa merupakan kawasan hutan yang memiliki keunikan jenis satwa yang dilindungi.

 



Gambar 2.39. Peta Kawasan Konservasi Papua dan Papua Barat


Sumber: sitimustiani.com/ Siti Mustiani (2020) 



b. Metode Ex Situ


Metode ex situ merupakan upaya pelestarian keanekaragaman hayati yang dilakukan di luar habitat asli flora dan fauna. Metode ex situ dilakukan saat habitat asli flora dan fauna mengalami kerusakan yang parah (Widjaja et al., 2014). Untuk melaksanakannya, diperlukan kehati-hatian dalam melakukan metode eksitu, karena tantangan terbesarnya ialah membuat lingkungan yang mirip tempat habitat flora dan fauna asal. Beberapa bentuk pelestarian metode eksitu yaitu: 



1) Taman Hutan Raya. 



Taman hutan raya merupakan kawasan pelestarian hutan yang digunakan untuk mengoleksi flora dan fauna asli atau berasal dari tempat lain. Selain itu, taman hutan raya dapat dimanfaatkan sebagai tujuan penelitian dan pendidikan (PP No 28/2011; Perda Sumatera Utara No 9/2013). Contoh: Taman Hutan Raya Cut Nyak Dien dan Taman Hutan Raya Bukit Barisan. 


2) Taman Safari. 


Taman Safari merupakan salah satu upaya menjaga keanekaragaman hayati dengan membuat lingkungan buatan yang persis/mirip dengan tempat flora dan fauna tersebut berasal. Taman Safari Indonesia menjadi tempat wisata yang berwawasan lingkungan dan berorientasi habitat satwa pada alam bebas. Selain untuk berwisata, taman safari juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi tentang keanekaragaman fauna di Indonesia. Taman safari sangat menarik untuk dikunjungi, diantaranya, yaitu Taman Safari Bogor Jawa Barat dan Taman Safari Prigen Jawa Timur. 



Gambar 2.40. Aktivitas di Taman Safari


Sumber: travel.tempo.co/ Antara Foto/Wahyu Putro A (2021) 



3) Kebun Binatang. 


Kebun Binatang merupakan daerah konservasi lingkungan buatan yang dibuat persis sama dengan tempat flora dan fauna berasal (Suteja, 2014), namun setiap spesiesnya terpisah-pisah dengan dibuatkan kandang. 



E. Praktik Baik dan Keberhasilan Dalam Pelestarian Flora dan Fauna 



Masyarakat sangat berperan terhadap pelestarian flora dan fauna di wilayahnya. Masyarakat Adat/Masyarakat Lokal merupakan salah satu aktor pengelola konservasi di Indonesia dengan sistem kearifan lokal (Henri et al., 2018). Kontribusi masyarakat untuk melakukan ‘konservasi keanekaragaman hayati’ secara nyata terbukti di lapangan. Bentuk nyatanya adalah dengan pembentukan AKKM (Areal Konservasi Kelola Masyarakat). AKKM merupakan areal yang dikelola dengan fungsi konservasi oleh masyarakat adat/masyarakat lokal dalam suatu kesatuan ekosistem (bagian tidak terpisahkan dari ruang hidup masyarakat adat mulai dari pemukiman, pemenuhan kebutuhan hidup dan ruang konservasi) berdasarkan kearifan lokalnya. 



Gambar 2.41. Masyarakat Lokal 


Sumber: abc.net.au/ ABC News: Adam Harvey


Negara menyediakan mekanisme pengakuan termasuk administrasi untuk menjamin dan melindungi AKKM baik di dalam Kawasan Konservasi, maupun di Kawasan Ekosistem Penting lainnya (Walhi, 2017). Nilai-nilai  budaya dan alam sangat terkait erat dan Masyarakat adat/masyarakat lokal setempat adalah kunci untuk mempertahankan sistem kearifan tradisional dalam konservasi (Suhartini, 2009). Ketika masyarakat memutuskan untuk menjalankan konservasi pada wilayah tertentu, harus diakomodir oleh pemerintah melalui mekanisme AKKM sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian ekosistem dalam kerangka wilayah Indonesia. 


Untuk menambah wawasan kalian tentang manfaat flora dan fauna bagi kesejahteraan manusia, silahkan klik tautan disini



Ayo Berkolaborasi



Setiap daerah kabupaten/kota pasti memiliki masalah dan potensi keanekaragaman flora dan fauna masing-masing sebagai konsekuensi dari kondisi iklim, kelembaban udara, curah hujan, dan kondisi tanah. Berdasarkan permasalahan yang ada di daerah tempat tinggal kalian, buatlah proyek sederhana untuk memecahkan masalah atau mengangkat potensi flora dan fauna daerah, sehingga masalah dapat terpecahkan atau potensinya terangkat. Produk projek dapat berupa laporan, paparan presentasi, atau diunggah di media sosial yang kalian punya (Youtube, Instagram, Tiktok, atau lainnya). 



Untuk mewujudkan projek tersebut, lakukan langkah-langkah berikut: 

  1. Bentuklah kelompok kecil beranggotakan 5 orang. 

  2. Lakukan diskusi untuk mengidentifikasi permasalahan atau potensi yang akan dipecahkan atau diangkat melalui projek ini. Selanjutnya tentukan tindakan pemecahan masalah atau mengangkat potensi sebagai proyeknya. 

  3. Diskusikan untuk membuat perencanaan proyek. 

  4. Laksanakan perencanaan secara cermat. 

  5. Presentasikan projek anda di kelas atau publikasikan melalui media sosial.

KERAGAMAN HAYATI #3

C. Sebaran Flora dan Fauna di Indonesia. 


Apakah kalian pernah mendengar atau membaca istilah Garis Weber dan Garis Wallace? Kedua garis itu sangat penting untuk memahami karakteristik flora dan fauna di Indonesia (Kusmana & Hikmat, 2015). Garis Wallace dibuat oleh Alfred Russel Wallace, seorang pelukis dan geografi dari Inggris yang melakukan penelitian dan membuat perbedaan jenis fauna antara asiatis dengan wilayah peralihan Indonesia tengah. Garis Wallace merupakan garis khayal yang memisahkan persebaran fauna Indonesia bagian barat atau asiatis dengan fauna Indonesia tengah atau peralihan. Garis Weber dibuat oleh Max Wilhelm Carl Weber, seorang profesor zoologi dari Belanda yang membuat garis pemisah fauna Australis. Garis Weber adalah garis khayal yang memisahkan persebaran fauna Indonesia tengah atau peralihan dengan fauna Indonesia Timur atau australis. 



1. Persebaran Flora Indonesia 


Sesuai dengan wilayah dan karakteristiknya, sebaran flora dapat dibedakan menjadi tiga kawasan utama. Ketiga Kawasan tersebut ialah: 

  1. Kawasan flora subregion Indonesia-Malaysia di bagian barat, 

  2. Kepulauan Wallacea (Sulawesi, Nusa Tenggara, Timor, dan Maluku) di bagian tengah, 

  3. Subregion Australia di bagian timur. 


Ketiga kawasan tumbuhan tersebut dapat terbagi menjadi empat wilayah, yaitu flora Sumatra-Kalimantan, flora Jawa-Bali, flora Kepulauan Wallacea, dan flora Papua. 



a. Flora Sumatra-Kalimantan 


Wilayah Sumatra dan Kalimantan sebagian besar bercorak hujan tropis. Wilayah di kedua pulau tersebut memiliki tingkat kelembaban udara dan curah hujan tinggi sepanjang tahun. Rata-rata suhu udara tahunan senantiasa tinggi. Pada bulan terdingin suhu udara masih di atas 18° C. Oleh karena itu, tipe vegetasi yang mendominasi wilayah ini adalah hutan hujan tropis dengan tanaman heterogen dan tingkat kerapatan yang tinggi. Beberapa jenis flora khas daerah Sumatra dan Kalimantan adalah meranti, damar, dan berbagai jenis anggrek. Hutan tropis memiliki tingkat kelembaban sangat tinggi, banyak dijumpai jenis lumut, cendawan (jamur), dan paku-pakuan. Di wilayah pantai Kalimantan dan Sumatra umumnya ditemui areal hutan bakau (mangrove) yang menjadi vegetasi khas pantai tropis. 



b. Flora Jawa-Bali 


Wilayah Jawa dan Bali membentang dari barat ke timur di selatan equator. Wilayah Jawa-Bali tersebut memiliki curah hujan, suhu dan kelembaban yang bervariasi. Wilayah Jawa bagian barat memiliki curah hujan yang lebih basah daripada wilayah Jawa bagian timur. Karena itu wilayah Jawa bagian barat dominan beriklim hutan hujan tropis dan muson tropis. Semakin ke timur pulau Jawa, tipe iklimnya semakin kering, bahkan beberapa wilayah beriklim sabana tropis. 


Vegetasi alam atau tanaman Pulau Jawa dan Bali dapat dikelompokkan menjadi hutan hujan tropis, hutan muson tropis, sabana tropis, dan hutan bakau (Aziz et al, 2018; Leksono, 2010). Sebagian besar kawasan hutan hujan tropis tersebar di Jawa Barat, seperti di Ujung Kulon, Cibodas (Bogor), dan Pananjung (Pangandaran). 





Gambar 2.29. Bunga Rafflesia Arnoldi


Sumber: freepik.com/rahmadhimawan (2021) 



Gambar 2.30. Vegetasi di Daerah Jawa-Bali


Sumber: freepik.com/olegdoroshenko (2021) 


Adapun wilayah utara Pulau Jawa yang memanjang mulai dari Jawa Barat bagian utara, Jawa Tengah, sampai Jawa Timur merupakan kawasan hutan muson tropis (hutan deciduous) yang meranggas atau menggugurkan daunnya pada periode musim kemarau panjang. Jenis flora khas hutan muson tropis antara lain pohon Jati yang merupakan pohon asli atau endemik di pulau Jawa. Jenis vegetasi yang mendominasi wilayah Jawa Timur bagian timur dan Pulau Bali adalah sabana tropis. Wilayah-wilayah pegunungan yang cukup tinggi di Jawa maupun Bali ditutupi jenis vegetasi pegunungan, seperti Pinus merkusii dan cemara. Sebagaimana wilayah-wilayah pantai tropis lainnya, daerah pantai pulau Jawa dan Bali umumnya ditutupi oleh vegetasi hutan bakau.



Terapkan Konsep 



Selamat ya kalian telah belajar satu topik penting, yaitu keragaman hayati! Kini saatnya kalian belajar untuk menerapkan konsep-konsep yang terkandung di dalamnya. Untuk belajar penerapan konsep tersebut lakukan langkah-langkah berikut: 

  1. Carilah peta kabupaten/kota tempat tinggal kalian! 

  2. Carilah keanekaragaman flora dan fauna yang ada di kabupaten/kota tempat tinggal kalian! 

  3. Deskripsikan ciri-ciri flora dan fauna yang ada di kabupaten/kota tempat tinggal kalian! 

  4. Carilah informasi iklim, kelembaban udara, curah hujan, dan kondisi tanah di kabupaten/kota tempat kalian tinggal! 

  5. Bagaimana hubungan antara iklim, kelembaban udara, curah hujan, dan kondisi tanah tersebut dengan keanekaragaman flora dan fauna di wilayah kalian tinggal? 

  6. Bagaimanakah langkah pelestarian yang sesuai untuk kelestarian flora dan fauna di kabupaten/kota tempat tinggal kalian? 

  7. Jika sudah dapat menyelesaikan semua langkah tersebut, imajinasikan penerapan konsep-konsep yang lainnya!. 




c. Flora Kepulauan Wallacea 


Wilayah Kepulauan Wallacea meliputi pulau-pulau di wilayah Indonesia bagian tengah. Pulau-pulau di wilayah ini adalah pulau Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Pulau Timor, dan Kepulauan Maluku (Huda et al., 2020). Wilayah-wilayah Indonesia bagian tengah tersebut memiliki sifat iklim yang lebih kering dengan kelembaban udara lebih rendah dibandingkan dengan wilayah Indonesia lainnya, kecuali di sekitar Kepulauan Maluku. Corak vegetasi yang tersebar di Kepulauan Wallacea antara lain: 

  1. vegetasi sabana dan stepa tropis di wilayah Nusa Tenggara; 

  2. vegetasi hutan pegunungan di sekitar Sulawesi; dan 

  3. vegetasi hutan campuran di wilayah Maluku dengan jenis rempah-rempah, seperti pala, cengkeh, kayu manis, kenari, kayu ebony, dan lontar. 



d. Flora Papua 


Sebagian besar kondisi iklim di wilayah Papua didominasi tipe iklim hujan tropis. Jenis vegetasi yang menutupi kawasan ini adalah hutan hujan tropis. Berbeda dengan wilayah Indonesia bagian barat, vegetasi Papua memiliki corak Australia Utara, dengan flora khas yaitu eucaliptus. Wilayah pegunungan Jayawijaya ditumbuhi oleh jenis vegetasi pegunungan tinggi, sedangkan di daerah pantai banyak dijumpai vegetasi bakau. 



2. Persebaran Fauna Indonesia 


Coba kalian perhatikan Gambar 2.31 tentang peta persebaran fauna di Indonesia. Masing-masing wilayah memiliki jenis fauna yang berbeda satu sama lain yang dibatasi oleh garis Wallace dan garis Weber. Pola persebaran fauna Indonesia tidak jauh berbeda dengan pola persebaran tumbuhan, yaitu terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu bagian barat, tengah, dan timur. Sebagian besar corak fauna bagian barat sama dengan corak fauna oriental, sedangkan bagian timur (Maluku dan Papua) sama dengan corak fauna Australia. Jenis fauna Indonesia bagian tengah sering disebut sebagai fauna khas Indonesia (fauna Kepulauan Wallacea). 



Gambar 2.31. Peta Persebaran Fauna di Indonesia 


a. Wilayah Fauna Indonesia Barat 


Wilayah fauna Indonesia bagian barat meliputi Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Region fauna ini disebut wilayah Fauna Dangkalan Sunda. Fauna wilayah Indonesia bagian barat antara lain: 1) mamalia terdiri atas gajah, badak bercula satu, tapir, rusa, banteng, kerbau, monyet, orang utan, macan, tikus, bajing, kijang, kelelawar, landak, babi hutan, kancil, dan kukang, 2) reptil terdiri atas buaya, kura-kura, kadal, ular, tokek, biawak, dan bunglon, 3) burung, terdiri atas burung hantu, elang, jalak, merak, kutilang, serta berbagai macam unggas, 4) berbagai macam serangga seperti belalang dan capung, dan 5) berbagai macam ikan air tawar dan pesut (lumba-lumba Sungai Mahakam). 


b. Wilayah Fauna Indonesia Tengah 


Wilayah fauna Indonesia Tengah juga disebut fauna Kepulauan Wallacea. Region ini meliputi pulau Sulawesi dan kepulauan di sekitarnya. Kepulauan Nusa Tenggara, pulau Timor, dan Kepulauan Maluku. Di Kawasan ini terdapat hewan khas yang hanya dapat dijumpai di Indonesia, yaitu anoa, babi rusa, dan biawak komodo. Fauna kepulauan Wallacea, antara lain sebagai berikut. 

  1. mamalia, terdiri atas anoa, babi rusa, ikan duyung, kuskus, monyet hitam, tarsius, monyet seba, kuda, dan sapi, 

  2. reptil, terdiri atas biawak, komodo, kura-kura, buaya, ular, dan soa-soa, 

  3. amfibi, terdiri atas katak pohon, katak terbang, dan katak air, dan 

  4. burung, terdiri atas burung dewata, maleo, mandar, raja udang, burung pemakan lebah, rangkong, kakatua, nuri, merpati, dan angsa. 


c. Wilayah Fauna Indonesia Timur 


Wilayah fauna Indonesia Timur disebut juga fauna Dangkalan Sahul. Fauna di wilayah ini menyebar di kepulauan Papua dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Karakteristik hewan di wilayah tersebut memiliki kesamaan dengan fauna negara bagian Australia sehingga wilayah ini disebut juga Zona Australis. Jenis-jenis hewan yang terdapat di wilayah dangkalan sahul yakni: 

  1. mamalia, terdiri atas kanguru, wallaby, nokdiak (landak Irian), opossum layang (pemanjat berkantung), kuskus (kanguru pohon), dan kelelawar, 

  2. reptil, meliputi buaya, biawak, ular, kadal, dan kura-kura, 

  3. amfibi, mencakup katak pohon, katak terbang, dan katak air, 

  4. burung, terdiri atas nuri, raja udang, cendrawasih, kasuari, kiwi dan namundur, 

  5. berbagai jenis ikan, dan 

  6. berbagai macam serangga/insecta. 


Burung cendrawasih (Paradisaeidae) adalah burung yang habitatnya tersebar di wilayah Indonesia Timur. Burung ini punya warna yang indah. Ada sekitar 42 jenis burung cendrawasih, dan 30 di antaranya berada di Indonesia. Jenis burung cendrawasih di Indonesia Timur antara lain cendrawasih bidadari Halmahera, cendrawasih gagak, cendrawasih astrapia arfak, dan cendrawasih paradigalla ekor panjang. 




Gambar 2.32. Burung Cendrawasih 


Sumber: flickr.com/ruf333 (2012)


Untuk menambah wawasan kalian tentang flora dan fauna di Indonesia, silahkan klik tautan disini.



3. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Sebaran Flora dan Fauna 


Berbagai jenis tumbuhan dan hewan tumbuh dan berkembang biak di permukaan Bumi dengan persyaratan hidup tertentu. Persyaratan hidup tersebut berkaitan dengan tipe iklim, tanah, dan unsur alam lainnya yang diperlukan oleh tumbuhan dan hewan tersebut (Suharini, 2014). Ada jenis flora yang hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis dengan curah hujan dan sinar matahari yang intensif. Ada pula jenis flora yang dapat tumbuh dan berkembang di daerah dingin dan lembab. Kita tentu tidak pernah melihat pohon Meranti, Eboni dan Anggrek tumbuh di daerah dingin. Persebaran flora dan fauna memang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. 


Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi persebaran flora dan fauna di Indonesia. Faktor tersebut antara lain iklim (suhu, kelembaban udara, curah hujan), tanah, dan pengaruh aktivitas manusia, hewan serta tumbuh-tumbuhan (Rahmawati, 2018). Faktor topografi atau ketinggian juga memiliki pengaruh besar pada pola dan persebaran vegetasi di lereng gunung api. (Kayiranga, 2017)



a. Iklim 


Iklim menggambarkan keadaan rata-rata suhu udara, curah hujan, penyinaran matahari, kelembaban, dan tekanan udara dalam waktu yang lama di wilayah yang luas (Geologinesia, 2020). Unsur utama iklim yang berpengaruh terhadap tumbuhan adalah curah hujan, suhu udara, dan penyinaran matahari. Sebaran tipe iklim yang berbeda-beda di permukaan Bumi menyebabkan jenis tumbuhan dan hewan juga berbeda. 



Gambar 2.33. Perbedaan Vegetasi Berdasarkan Perbedaan Iklim


1) Suhu udara


Suhu udara menggambarkan panas dinginnya udara di atmosfer Bumi. Suhu udara dinyatakan dalam ukuran derajat celcius, fahrenheit, dan lainnya. Suhu udara dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain penyinaran matahari dan ketinggian tempat (Purwantara, 2015). Lamanya penyinaran matahari tergantung pada zona lintang wilayah tersebut. Daerah yang terletak pada lintang 90o di daerah khatulistiwa menerima sinar matahari lebih intensif daripada zona lainnya. 


Selain itu, suhu juga dipengaruhi oleh ketinggian tempat suatu wilayah. Semakin tinggi suatu tempat semakin dingin suhu udaranya, dan sebaliknya semakin rendah suatu tempat suhu udaranya semakin panas. Setiap naik 100 meter suhu udara rata-rata turun sekitar 0,5oC. Contoh tanaman apel dapat  hidup subur di tempat bersuhu sejuk. Beberapa kecamatan di Kota Batu dan Kabupaten Malang memiliki ketinggian di atas 600 m dari permukaan laut. Tempat-tempat tersebut menjadi wilayah penghasil apel yang produktif. Sebagian besar penduduk di daerah tersebut bekerja sebagai petani apel.


 

Gambar 2.34. Persebaran Tumbuhan Berdasarkan Perbedaan Suhu Udara 



2) Kelembaban udara 


Kelembaban udara menunjukkan tingkat uap air yang terkandung dalam udara (Friadi & Junadhi, 2019). Kelembaban berpengaruh langsung terhadap kehidupan flora. Beberapa jenis flora membutuhkan kelembaban tertentu. Apabila dia tumbuh di luar kelembaban tersebut, tumbuhan tersebut tidak dapat tumbuh dengan baik. Oleh sebab itu, jenis-jenis tumbuhan bisa dikategorikan berdasar tingkat kelembaban wilayah tumbuhnya. 


Setidaknya ada 4 jenis klasifikasi tumbuhan yang perlu diketahui, yakni xerophyta, mesophyta, hydrophyta, dan tropophyte. Xerophyta adalah tumbuhan yang tahan di lingkungan kering atau kelembaban udara sangat rendah, seperti kaktus. Di Indonesia, tanaman kaktus tumbuh di Kawasan Parangkusumo, Jawa Tengah. Kaktus tersebut ditemukan di zona gumuk pasir yang beriklim kering. Mesophyta adalah tumbuhan yang cocok hidup di lingkungan lembab tetapi tidak basah, contohnya anggrek dan cendawan. Hydrophyta adalah tumbuhan yang cocok hidup di kawasan basah, seperti teratai, eceng gondok, dan selada air. Tropophyta adalah tumbuhan yang dapat beradaptasi di daerah yang memiliki musim hujan dan musim kemarau. Tropophyta merupakan flora khas wilayah iklim musim tropis (monsun tropis), contohnya pohon Jati dan Eucalyptus.



Gambar 2.35. Kaktus 


Sumber: flickr.com/gdschermer (2013) 



3) Curah Hujan 


Hujan merupakan fenomena alam berupa perubahan titik-titik air menjadi air yang jatuh dari atmosfer ke permukaan bumi. Air hujan sangat penting bagi pertumbuhan tumbuhan dan hewan. Apabila tidak ada air, maka tidak akan ada kehidupan (Purwanto & Muhammad, 2010). Pola air hujan dapat dilihat pada Gambar 2.36.



Gambar 2.36. Peta Pola Hujan di Indonesia 


Sumber: https://archysig.wordpress.com (2019)


Hujan menyebar tidak merata di permukaan Bumi. Ada wilayah-wilayah yang mendapatkan hujan dengan intensitas tinggi lebih dari 100 mm/hari, tetapi ada pula wilayah-wilayah yang memiliki curah hujan rendah kurang 60 mm/hari. Diantara kedua wilayah tersebut ada daerah dengan curah hujan sedang, yaitu 60-100 mm/hari. 


Sebaran curah hujan yang tidak merata mengakibatkan tumbuhan yang berada di suatu daerah berbeda-beda. Pada dasarnya, wilayah dengan curah hujan tinggi memiliki keragaman tanaman lebih bervariasi dari pada wilayah yang bercurah hujan rendah. Misalnya di daerah gurun hanya sedikit tumbuhan yang dapat hidup, seperti kaktus dan semak berdaun keras. 


Di daerah tropis banyak terdapat hutan lebat, pohonnya tinggi-tinggi, dan daunnya selalu hijau. Tingkat curah hujan dapat membentuk karakter khas formasi vegetasi di muka bumi. Kekhasan vegetasi ini mengakibatkan ada hewan-hewan tertentu yang dapat hidup. Hal itu dapat terjadi karena banyak jenis hewan mengandalkan tumbuhan sebagai sumber makanan. Contoh hutan tropis dapat tumbuh di kawasan bercurah hujan 1000-2000 mm dan suhu udara 20-30 derajat celcius. Hutan tersebut menjadi habitat yang kaya akan flora dan fauna. Kondisi berbeda berlangsung di padang rumput stepa yang berkembang di wilayah dengan curah hujan 200-1000 mm dan suhu 20 sampai 10 derajat celcius. 



c. Topografi 


Ahli klimatologi bernama Jung Hun telah melakukan penelitian di Jawa menyimpulkan bahwa sebaran flora di daerah lereng gunung memiliki variasi yang beraneka ragam sesuai dengan perbedaan ketinggian wilayah. (national geographic, 2010). Fisiografi wilayah pegunungan berbentuk perisai (gunung api masif) merupakan contoh untuk menggambarkan pengaruh iklim mikro terhadap persebaran tumbuhan. Iklim mikro merupakan iklim di lapisan udara terdekat permukaan bumi dengan ketinggian + 2 meter (Indrawan, 2017). 


Unsur iklim mikro adalah suhu udara, sinar matahari, kelembaban udara dan angin. Unsur-unsur tersebut berpengaruh terhadap proses pertumbuhan tanaman. Selain itu, ketinggian tempat (topografi) juga mempengaruhi perubahan suhu udara. Semakin tinggi suatu tempat semakin rendah suhu udaranya (udara makin dingin). Dan, sebaliknya semakin rendah daerah semakin tinggi suhu udaranya (udara semakin panas). Oleh karena itu ketinggian suatu tempat berpengaruh terhadap suhu udara suatu wilayah (Fajri, 2017). Pertumbuhan vegetasi pada ketinggian 2100 m dengan suhu 19oC lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tanaman di ketinggian 2109 m dengan suhu 18,54oC. Sedangkan pada ketinggian 4500 m dengan suhu 4oC justru pertumbuhan tanaman jauh berkurang (Kayiranga, 2017). 



d. Tanah


Tanah merupakan media hidup utama berbagai jenis flora di muka Bumi (Notohadiprawiro, 1998). Tanah banyak mengandung unsur kimia yang menentukan tingkat kesuburannya. Tanah memiliki struktur dan tekstur yang berpengaruh pada kesuburannya. Dalam tanah terdapat pori-pori untuk menyimpan udara dan air yang diperlukan bagi akar tanaman. Selain itu tanah juga memiliki suhu tertentu yang berpengaruh terhadap pertumbuhan akar serta kondisi air di dalamnya. 


Tanah juga memiliki komposisi yang menggambarkan kandungan bahan anorganik, organik, udara, dan air. Komposisi tanah umumnya terdiri dari bahan mineral anorganik (70%-90%), bahan organik (1%-15%), udara dan air (0-9%). Hal-hal di atas menunjukkan betapa pentingnya faktor tanah bagi pertumbuhan suatu tumbuhan. Perbedaan jenis tanah menyebabkan perbedaan jenis dan keanekaragaman tumbuhan yang dapat hidup di suatu  wilayah. Contoh, di Jawa bagian selatan dan utara banyak tumbuh hutan jati, karena tanahnya mengandung kapur yang cocok untuk tanaman tersebut. Sementara di Jawa bagian tengah tumbuh berbagai jenis tanaman karena tanahnya subur, mengandung banyak unsur hara dan tersedia air. Sedangkan di wilayah Indonesia timur, seperti Wilayah Nusa Tenggara banyak dijumpai savana karena curah hujannya sedikit. 



Gambar 2.37. Peta Eksplorasi Tanah


Sumber: researchgate.net/(Adapted from Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Indonesia [Puslittanak, 2000)


e. Manusia, Hewan dan Tumbuh-Tumbuhan 


Selain faktor alam, faktor lain yang memengaruhi sebaran flora dan fauna ialah manusia, hewan dan tumbuhan. Manusia memiliki kemampuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat mengubah lingkungan dengan memindahkan tumbuhan dari satu tempat ke tempat yang lain (Siahaan, 2017). Contoh saat ini adalah mulai banyak pohon kurma yang berasal dari Wilayah Timur Tengah dipindahkan ke Indonesia. Terdapat banyak pohon pisang dari luar negeri yang dibudidayakan di Indonesia. 


Hewan juga memiliki kemampuan untuk menyebarkan tanaman dari satu tempat ke tempat lain. Beberapa jenis hewan memiliki perilaku memindahkan biji-bijian setelah dimakan dagingnya. Contoh: kalong mampu memindahkan biji durian, serangga mampu membantu penyerbukan, dan kelelawar, burung, serta tupai membantu dalam penyebaran biji tumbuhan. 


Tanah yang subur memungkinkan terjadi perkembangan kehidupan tumbuh-tumbuhan dan juga memengaruhi kehidupan faunanya. Contoh bakteri saprofit membantu penghancuran sampah-sampah di tanah sehingga dapat menyuburkan tanah. Peningkatan kesuburan tanah tersebut akan memungkinkan tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan yang disebarkan oleh manusia atau hewan secara tidak sengaja. 





Belajar Geografi ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO