Selasa, 17 Oktober 2023

LINGKUNGAN SEBAGAI HABITAT HIDUP BERKELANJUTAN


 


A. Pengertian Lingkungan, Ekosistem, dan Etika Lingkungan

Istilah lingkungan tentu bukan hal yang baru bagi kalian. Istilah ini sudah kalian kenali sejak berada di bangku sekolah dasar. Dalam mata pelajaran tematik, istilah lingkungan dijadikan sebagai tema utama. Demikian juga sewaktu belajar di SMP/MTs, tidak hanya istilah lingkungan tetapi juga dikenalkan konsep-konsep yang lebih luas, seperti ekologi, ekosistem, dan juga etika lingkungan.
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan segala benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya, yang memengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain (UU No. 32 tahun 2009). Ilmu yang mempelajari antara makhluk hidup dan lingkungan disebut ekologi. Ekologi juga diartikan ilmu yang mempelajari interaksi antara biotik dan abiotik dari lingkungan (Rajagopalan, 2009).


Kamus Geografi

Lingkungan hidup adalah suatu ruang yang ditempati oleh makhluk hidup bersama dengan benda hidup dan tak hidup lainnya.
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Ekosistem akan membentuk suatu hubungan timbal balik untuk saling memberi pengaruh. Interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya disebut dengan ekologi.

Kehidupan makhluk di bumi terdiri dari beberapa ekosistem. Dalam ekosistem tersebut, kumpulan makhluk hidup saling mempertahankan diri dan berkaitan satu dengan yang lain. Setiap makhluk hidup tidak bisa lepas dengan lingkungannya, baik yang hidup (biotik) maupun yang tak hidup (abiotik).

Agar ekosistem tersebut terjaga keberlanjutannya diperlukan etika lingkungan. Etika tersebut merupakan nilai-nilai keseimbangan dalam kehidupan manusia dalam interaksi terhadap lingkungan hidupnya yang terdiri atas aspek abiotik, biotik, dan budaya (Marfai, 2013). Etika lingkungan juga diartikan berbagai prinsip moral lingkungan yang merupakan petunjuk atau arah perilaku praktis manusia dalam mengusahakan terwujudnya moral lingkungan.


Dengan adanya etika lingkungan, manusia tidak hanya mengimbangi hak dan kewajibannya terhadap lingkungan, tetapi juga membatasi tingkah laku dan upaya untuk mengendalikan berbagai kegiatan agar tetap berada dalam batas kelentingan lingkungan. Dengan demikian etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkungannya. Etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.

Etika lingkungan tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antar manusia yang berdampak pada alam, dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan.


Perilaku manusia terhadap lingkungan hidup dapat dilihat secara nyata sejak manusia belum berperadaban, awal peradaban, hingga peradaban modern terkini dengan didukung oleh ilmu dan teknologi. Namun ironisnya, dalam kemajuan tersebut perilaku manusia terhadap lingkungan hidup tidak semakin arif, tetapi sebaliknya.

B. Jenis-Jenis Lingkungan Hidup


Lingkungan hidup dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu lingkungan biotik, abiotik, dan sosial budaya.

Kamus Geografi

Biotik adalah berkaitan dengan makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan organisme lainnya.

1. Lingkungan Biotik

Unsur biotik atau unsur hayati adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan organisme kecil yang tidak terlihat. Komponen biotik pada suatu ekosistem merupakan makhluk hidup itu sendiri, sebab ekosistem tidak pernah terbentuk tanpa ada makhluk hidup didalamnya (Irwan, 2007). Secara khusus, lingkungan biotik diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu produsen, konsumen, dan pengurai.


a. Produsen

Produsen adalah organisme yang mampu mengubah zat anorganik menjadi zat organik. Produsen mampu membuat makanan sendiri bahkan juga membuat makanan bagi organisme lain yang tinggal di dalam ekosistem.

Proses tersebut hanya dapat dilakukan oleh tumbuhan yang berklorofil dengan cara fotosintesis, seperti tumbuhan hijau, alga, dan lumut.

b. Konsumen

Konsumen adalah organisme yang tidak dapat membuat makanannya sendiri dan bergantung kepada organisme lain. Konsumen terdiri atas manusia dan hewan.

c. Pengurai (dekomposer)

Pengurai merupakan organisme yang mendapatkan energi dari menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati, seperti bakteri, jamur, dan cacing tanah.


Gambar 3.2. Produsen (Padi) - Konsumen (Jerapah) - Dekomposer (Jamur)
Sumber: freepik.com/ton-weerayutphotographer/elenakabenkina/wirestock (2021)

2. Lingkungan Abiotik

Unsur abiotik atau unsur fisik adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas benda-benda mati dan ikut memengaruhi kelangsungan hidupnya (Irwan, 2007). Contoh lingkungan abiotik adalah air, tanah, udara, cahaya matahari, kelembaban udara, suhu, dan iklim.

a. Air
Air merupakan komponen yang menjadi penentu dari kelangsungan hidup makhluk hidup. Air merupakan komponen penyusun tubuh makhluk hidup dan juga sebagai tempat hidup bagi makhluk hidup yang tinggal di dalam air.

b. Tanah
Tanah berfungsi sebagai tempat hidup makhluk hidup dalam suatu ekosistem. Di dalam tanah terdapat mineral penting berupa zat hara yang dibutuhkan oleh makhluk hidup terutama tumbuhan.

c. Udara
Udara merupakan gas komponen penyusun atmosfer bumi. Udara merupakan satu diantara komponen penting bagi keberlangsungan makhluk hidup, seperti oksigen, karbon dioksida, nitrogen, dan hidrogen.

d. Cahaya matahari

Cahaya matahari merupakan komponen abiotik utama yang berguna sebagai sumber energi utama bagi kehidupan. Intensitas dan kualitas cahaya matahari berpengaruh terhadap proses fotosintesis. Tumbuhan mampu menyerap cahaya matahari sehingga proses fotosintesis dapat terjadi.

e. Kelembaban

Kelembaban adalah jumlah kadar air yang terdapat di udara. Kelembaban udara ini memengaruhi proses evapotranspirasi yang berhubungan dengan tingkat ketersediaan air bagi makhluk hidup

f. Suhu

Suhu merupakan komponen yang berpengaruh terhadap proses fisiologis yang berlangsung di dalam tubuh makhluk hidup.

g. Iklim

Iklim adalah keadaan rata-rata cuaca di wilayah yang sangat luas dalam jangka waktu yang lama.


Gambar 3.3. Lingkungan Abiotik (Air) dan Lingkungan Abiotik (Tanah)
Sumber: unsplash.com /kazuend (2015) & freepik.com/wirestock (2020)

3. Lingkungan Sosial Budaya

Selain unsur abiotik dan biotik, di dalam lingkungan hidup juga terdapat unsur sosial budaya. Ciri-ciri lingkungan sosial budaya adalah bentuknya yang bermacam-macam dan tidak hanya satu jenis.

Lingkungan sosial merupakan lingkungan antar manusia atau antar kelompok yang secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi individu, termasuk di dalamnya segala norma, aturan, dan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat tertentu. Sedangkan lingkungan budaya adalah benda-benda hasil daya cipta manusia, seperti bangunan, karya seni, sistem kepercayaan, dan tatanan kelembagaan sosial.


Gambar 3.4. Lingkungan Sosial Budaya (Candi Prambanan)
Sumber: freepik.com/user21859082 (2019)

Ketiga unsur komponen lingkungan tersebut saling memengaruhi dan tidak dapat berdiri sendiri. Bentuk timbal balik antar komponen berupa interaksi dan interelasi antara satu komponen dan komponen lainnya.

Manusia merupakan agen perubahan yang dominan di alam. Semua aktivitas manusia menyangkut proses demografis, budaya, dan ekonomi mengarah pada peningkatan konsumsi sumber daya dan berdampak pada limbah.

Dalam konteks hubungan ini, dapat dicontohkan bahwa manusia melakukan tindakan penebangan hutan untuk dimanfaatkan sumber daya kayu dan olahannya. Namun dalam praktiknya, kegiatan tersebut kurang memperhatikan faktor-faktor kelestarian dan daya dukung lingkungan. Maka sebagai reaksinya, menyebabkan terjadinya banjir bandang pada saat musim hujan dengan intensitas yang tinggi.

Lingkungan hidup merupakan suatu kesatuan fungsional ruang yang ditempati oleh makhluk hidup bersama dengan benda hidup dan tak hidup lainnya yang saling berinteraksi dan saling memengaruhi dalam bentuk hubungan timbal balik antara satu dengan yang lain. Lingkungan hidup dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu lingkungan hidup alami dan lingkungan hidup buatan.

a. Lingkungan hidup alami

Lingkungan alami terdiri dari komponen biotik, abiotik, organisme kecil, dan semua kondisi yang berfungsi secara dinamis tanpa campur tangan manusia. Lingkungan ini tercipta melalui proses alami.

Lingkungan alami dapat terbagi menjadi dua jenis, yaitu lingkungan hidup air dan darat. Pada lingkungan hidup air terdiri atas danau, laut, rawa, dan sungai. Sedangkan pada lingkungan hidup darat terdiri atas bukit, gunung, hutan, lembah, dan padang rumput.



Gambar 3.5. Lingkungan Hidup Alami (Gunung Bromo)
Sumber: freepik.com/jomnichapa (2021)

b. Lingkungan Hidup Buatan

Lingkungan buatan adalah lingkungan yang dibuat oleh manusia secara sadar dengan memanfaatkan penggunaan teknologi, baik menggunakan teknologi sederhana maupun modern, sebagai upaya pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Karakteristik lingkungan ini tidak beragam bentuknya, dan hanya terdiri dari satu jenis. Contoh lingkungan buatan termasuk jalan, sekolah, taman, dan kawasan industri.



Gambar 3.6. Lingkungan Hidup Buatan (Kawasan Industri)
Sumber: freepik.com/avigatorphotographer (2021)

C. Manfaat Lingkungan

Manusia hidup di permukaan bumi bersama-sama dengan komponen lingkungan lainnya, berupa komponen biotik dan abiotik. Lingkungan hidup yang baik memungkinkan setiap makhluk hidup dapat hidup dengan harmonis dan nyaman.

Secara langsung maupun tidak langsung, disadari ataupun tidak, semua unsur-unsur lingkungan yang ada di sekitar kita senantiasa memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Lingkungan berperan penting dalam hidup sehat dan keberadaan kehidupan di planet bumi. Bumi merupakan rumah bagi berbagai spesies makhluk hidup dan kita semua bergantung pada lingkungan untuk kebutuhan makanan, udara, air, dan kebutuhan lainnya.

Sebagai contoh, untuk memenuhi kebutuhan makanan, manusia memanfaatkan tumbuhan dan hewan. Selain itu, dalam proses pernafasan manusia senantiasa menghirup oksigen yang terdapat di atmosfer. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk menyelamatkan dan melindungi lingkungan hidup.

Lingkungan memiliki beberapa fungsi yang sangat memengaruhi kelangsungan hidup unsur-unsur yang ada di dalamnya (Dinas Lingkungan Hidup, 2020). Secara umum beberapa manfaat unsur lingkungan hidup bagi manusia antara lain sebagai berikut.

1) Lingkungan Sebagai Tempat Untuk Hidup

Lingkungan menjadi tempat beraktivitas makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Lingkungan juga berperan sebagai tempat manusia berinteraksi sosial.

2) Lingkungan Sebagai Penghasil Pangan Makhluk Hidup

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, makhluk hidup membutuhkan pangan dan air. Karena itu, makanan dan air menjadi satu diantara hal penting dalam kebutuhan kehidupan.

3) Lingkungan sebagai Penyedia Sumber Daya Alam

Satu diantara contoh sumber daya alam yang ada di lingkungan hidup alami adalah gas alam dan minyak bumi. Kedua sumber daya alam tersebut penting untuk dimanfaatkan manusia sebagai pemenuhan kebutuhan hidup. Misalnya, pengolahan bahan bakar dari gas alam dan minyak bumi.

4) Lingkungan sebagai Penyedia Mikroorganisme

Mikroorganisme diperlukan untuk menguraikan sisa-sisa makhluk hidup yang sudah mati. Melalui sebuah proses yang dilakukan oleh mikroorganisme, sisa-sisa tersebut akan menjadi tanah yang subur.

5) Lingkungan sebagai Penyedia Oksigen

Setiap makhluk hidup membutuhkan oksigen untuk bernapas. Sama halnya seperti air, jika kekurangan oksigen, makhluk hidup akan lemas, bahkan mati.

6) Sebagai Penyedia Tanah

Bagi tumbuhan, tanah berfungsi sebagai tempat hidup dan kembangnya. Bagi manusia, tanah berfungsi sebagai tempat berpijak, berkebun, berladang, mendirikan rumah, dan lainnya.

Hubungan antara makhluk hidup, khususnya manusia, dengan lingkungannya telah berlangsung sejak manusia lahir. Begitu seseorang lahir ke dunia, secara langsung atau tidak langsung melakukan interaksi dengan lingkunganya, seperti memanfaatkan oksigen di udara untuk bernafas.

Tingkat ketergantungan terhadap lingkungan meningkat seiring dengan perkembangan kebutuhannya. Semua kebutuhan tersebut didapat melalui interaksi dengan lingkungan, baik lingkungan alam, sosial, dan budaya.

D. Kualitas lingkungan Sebagai Kebutuhan Hidup

Kualitas lingkungan hidup diartikan sebagai keadaan lingkungan yang dapat memberikan daya dukung optimal bagi kelangsungan hidup manusia pada suatu wilayah

1. Pengertian Kualitas Lingkungan dan Pentingnya Bagi Kehidupan

Kualitas lingkungan yang baik ditandai dengan suasana yang dapat membuat orang merasa nyaman untuk tinggal di tempatnya sendiri. Selain itu, terpenuhi berbagai kebutuhan hidup, mulai dari kebutuhan dasar/utama seperti makanan, minuman, perumahan, hingga kebutuhan rohani atau spiritual seperti pendidikan, rasa aman, dan sarana beribadah.

Daya dukung lingkungan (carrying capacity) harus selalu diperhatikan untuk menjaga kualitas lingkungan dalam kondisi baik. Daya dukung lingkungan adalah ukuran kemampuan suatu lingkungan untuk mendukung kelompok atau populasi dari berbagai jenis makhluk hidup tertentu untuk hidup dalam lingkungan tertentu. Lingkungan tersebut berupa lahan, kawasan tertentu, atau ekosistem tertentu, misalnya sawah, perkebunan, hutan, rawa, sungai, danau, pantai, desa, kota, permukiman, dan kawasan industri. Adapun suatu makhluk hidup dapat berupa tumbuhan, hewan, manusia, dan makhluk hidup lainnya.


Gambar 3.7. Lingkungan Hutan Mangrove, Kepulauan Maldives
Sumber: unsplash.com/ muhamad saamy (2021)

2. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup

Kualitas lingkungan hidup Indonesia menjadi salah satu isu penting. Pada era modern ini, lingkungan berada dalam tekanan berat yang berpotensi mengubah kondisi lingkungan, baik sebagai dampak pertumbuhan ekonomi maupun peningkatan jumlah penduduk (Dinas Lingkungan Hidup).

Pemahaman tentang kualitas lingkungan hidup penting untuk mendorong semua pemangku kepentingan untuk mengambil tindakan dan aksi nyata dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berkepentingan untuk memudahkan masyarakat dan para pengambil kebijakan mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah untuk memahami kualitas lingkungan hidup di Indonesia.

Pengukuran kualitas lingkungan hidup saat ini dilakukan secara kuantitatif menggunakan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH). Pengukuran tersebut diadopsi dari beberapa sumber, yaitu Environmental Performance Index (EPI) yang dikembangkan oleh sebuah pusat studi di Universitas Yale.

Tiga indikator yang menjadi dasar penilaian IKLH di Indonesia adalah Indeks Kualitas Air (IKA), Indeks Kualitas Udara (IKU), dan Indeks Kualitas Lahan (IKL). (Yuwono, Arief Sabdo, 2012).

Versi baru dari Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH versi baru) adalah istilah baru yang menggabungkan semua jenis indikator kualitas lingkungan dari semua aspek, termasuk udara, air, hutan, flora dan fauna, kesehatan masyarakat, dan kesehatan lingkungan hidup. IKLH versi baru ini dikembangkan dengan penggabungan semua komponen indeks, termasuk Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), Indeks Kualitas Air (IKA), Indeks Tutupan Hutan (ITH), Indeks Keanekaragaman Hayati (IKH), Indeks Kesehatan Masyarakat (IKM), dan Indeks Kesehatan Lingkungan (IKL) (Yuwono, Arief Sabdo, 2012).

Pemerintah dapat mengatur dan menetapkan skala prioritas berdasarkan seberapa besar tingkat kerusakan lingkungan yang telah terjadi dan prioritas yang akan terjadi. Penetapan IKLH baru akan menjadi penting karena memiliki potensi besar sebagai dasar yang kuat untuk menerapkan implementasi Instrumen Analisis Risiko Lingkungan. Jika IKLH baru dapat diterima secara luas dan diterapkan dengan benar, maka dapat memberikan kontribusi penting dalam konteks pengkajian risiko lingkungan dan manajemen pengelolaan risiko lingkungan, karena IKLH baru memuat hasil dari penilaian yang aktual pada semua aspek dimensi penting lingkungan hidup (Yuwono, Arief Sabdo, 2012).

Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Indonesia meningkat sebesar 3,72 poin, dari 66,55 pada tahun 2019 menjadi 70,27 pada tahun 2020.

IKLH pada tahun 2020 telah melampaui target yang diamanatkan di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yakni sebesar 68,71. (KLHK 2021). Peningkatan IKLH pada tahun 2020 disebabkan oleh perbaikan pada Indeks Kualitas Udara (IKU), dan Indeks Kualitas Air (IKA). Selain itu, adanya perubahan pembobotan dalam rumus untuk tahun 2020 juga berpengaruh pada peningkatan IKLH. Peningkatan IKLH tahun 2020 juga dipengaruhi oleh penambahan indikator baru yaitu Indeks Kualitas Ekosistem Gambut (IKEG) dan Indeks Kualitas Air Laut (IKAL). Kedua indeks baru tersebut melengkapi dan menguatkan pengukuran IKLH yang terdiri dari Indeks Kualitas Air (IKA), Indeks Kualitas Udara (IKU), Indeks Kualitas Lahan (IKL), dan Indeks Kualitas Air Laut (IKAL) (KLHK 2021).

Upaya Kementerian Lingkungan Hidup untuk mencapai IKLH adalah sebagai berikut:
  • memperbaiki tata kelola lingkungan untuk pengendalian kerusakan hutan (deforestasi),
  • menjaga daerah aliran sungai sebagai daya tarik wisata baru, serta diiringi dengan pertumbuhan ekonomi dari produk komoditas kreatifitas dari masyarakat,
  • membangun blok saluran kanal untuk memulihkan interaksi sosial masyarakat, dan
  • mengurangi beban lingkungan dengan menyediakan teknologi ramah terhadap lingkungan dan kesehatan, sekaligus menopang kehidupan masyarakat dan dunia usaha. (KLHK 2021).


Gambar 3.8. Capaian IKLH, IKA, IKU dan IKTL Tahun 2015 – 2019
Sumber: Laporan Kinerja Tahun 2019 (KLHK 2019)

Ayo Berpikir Kreatif

Pada awal tahun 2020, pandemi Covid-19 mulai menyebar di hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Pandemi Covid-19 menyebabkan gangguan pada kehidupan masyarakat, menghentikan aktivitas ekonomi, dan terjadi resesi di seluruh dunia. Dampak yang dialami negara Indonesia juga cukup signifikan dengan terganggunya mata rantai pemasokan barang dan jasa, terganggunya mobilitas masyarakat, dan terhentinya perekonomian, khususnya pada sektor industri dan pariwisata yang berdampak pada peningkatan angka pengangguran dan kemiskinan. Strategi pembangunan yang akan ditempuh tahun 2021 berfokus pada percepatan pemulihan ekonomi dengan menitikberatkan pada pemulihan sektor industri, perdagangan, pariwisata, dan investasi masyarakat.

Bedasarkan artikel tersebut, jawablah pertanyaan berikut ini.
  1. Apa permasalahan yang terjadi berdasarkan artikel tersebut?
  2. Apa saja gagasan yang pernah diterapkan oleh pemerintah untuk mengatasi permasalahan tersebut?
  3. Apa gagasan kalian yang belum pernah diterapkan oleh pemerintah sebelumnya untuk mengatasi permasalahan tersebut?

3. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kualitas Lingkungan

Kualitas lingkungan hidup di suatu wilayah tidak bersifat permanen, melainkan dapat mengalami penurunan dan perbaikan kembali. Terdapat wilayah yang kualitas lingkungannya baik atau cukup baik, tetapi ada juga wilayah dengan kualitas lingkungan yang buruk. Kualitas lingkungan suatu wilayah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor alam dan sosial budaya.

a. Faktor Alam
 
1) Iklim

Iklim merupakan salah satu faktor yang memengaruhi aktivitas manusia di lingkungannya. Iklim yang ekstrim dapat menjadi penghambat aktivitas manusia.

2) Perubahan cuaca

Perubahan cuaca yang ekstrim dapat menjadi penghambat aktivitas manusia. Namun di sisi lain, perubahan suhu/cuaca dapat membuat manusia menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam menghadapi perubahan.

3) Kesuburan tanah

Kesuburan tanah merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap daerah agraris. Tanah yang subur memberikan nilai daya dukung lingkungan yang lebih tinggi dibandingkan tanah yang kurang subur.

4) Erosi

Erosi merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan daya dukung lingkungan.

5) Aktivitas gunung api

Ada kalanya aktivitas gunung api mengeluarkan gas yang berbahaya bagi lingkungan di sekitarnya. Misalnya, gas karbon monoksida dan gas belerang yang dapat mengganggu pernafasan.

b. Faktor Sosial Budaya

1) Menguasai Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi.

Masyarakat yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi akan mampu merespon dan meningkatkan kualitas lingkungan.

2) Tradisi masyarakat setempat

Masyarakat pada umumnya memiliki nilai-nilai tradisi dalam menjaga kualitas lingkungan. Misalnya, apabila seorang anggota masyarakat menebang satu pohon, mereka harus mengganti 10 pohon serupa.

3) Cara berpikir masyarakat

Cara berpikir yang melihat lingkungan sebagai sesuatu yang dapat dieksploitasi secara terus menerus akan berisiko menimbulkan efek degradasi lingkungan.

E. Masalah-Masalah Lingkungan

Masalah lingkungan bukanlah hal baru dalam sejarah umat manusia. Permasalahan lingkungan sudah sejak lama berlangsung. Namun, saat ini permasalahan tersebut semakin meluas dan kompleks, saling terkait antar wilayah dan ruang di permukaan bumi. Terdapat beberapa isu lingkungan yang membutuhkan perhatian tidak hanya warga Indonesia tetapi juga warga dunia.

1. Global Warming

Global warming atau pemanasan global merupakan satu diantara masalah lingkungan yang paling menyita perhatian dunia. Pemanasan global terjadi akibat efek gas rumah kaca, seperti gas CO, CO2, dan sejenisnya. Gas rumah kaca tersebut mengakibatkan radiasi matahari tidak dapat sepenuhnya dilepaskan ke atmosfer, tetapi dipantulkan kembali ke bumi sehingga menyebabkan pemanasan suhu bumi (Robert L. Evans, 2007).

Pemanasan global berdampak kenaikan suhu permukaan bumi dan lautan. Peningkatan suhu ini dapat menyebabkan lapisan es di kutub mencair sehingga permukaan air laut naik. Selain itu, pemanasan global juga mengubah pola alami musim dan curah hujan. Sebagai akibatnya terjadi perubahan cuaca yang berdampak pada produksi pertanian atau kehutanan. Usaha tani sering mengalami gagal panen dan peluang terjadinya kebakaran hutan meningkat akibat musim kering yang berkepanjangan.


Gambar 3.9. Gambaran dari Global Warming
Sumber: freepik.com/wirestock (2021)

Selain pemanasan global, penipisan lapisan ozon juga menjadi masalah lingkungan global. Lapisan ozon merupakan lapisan perlindungan yang menutupi planet bumi. Lapisan ozon berfungsi untuk melindungi bumi dari radiasi sinar matahari yang berbahaya. Penyebab penipisan lapisan ozon satu diantaranya adalah polusi oleh gas klorin dan bromida yang ditemukan di Chloro Floro Carbon (CFC). Apabila gas CFC mencapai atmosfer bagian atas, gas tersebut akan menyebabkan lubang pada lapisan ozon. Lapisan ozon sangat penting bagi manusia untuk mencegah masuknya radiasi Ultraviolet (UV) yang berbahaya agar tidak sampai ke bumi.

Ayo Berpikir Kreatif

Global warming merupakan peningkatan suhu rata-rata atmosfer baik di laut maupun di daratan bumi. Peningkatan suhu tersebut menyebabkan perubahan tinggi muka laut. Pengaruh global warming bagi masyarakat pesisir antara lain bisa mengakibatkan meningkatan muka air laut dan tenggelamnya daratan di pesisir laut. Masalah tersebut tidak hanya terjadi secara global, namun juga terjadi secara lokal. Hal tersebut terjadi akibat naiknya volume air laut dan mencairnya gletser ataupun es yang menutupi daratan Antartika dan Greenland. Diskusikanlah dengan temanmu untuk menjawab pertanyaan berikut!

1. Apa fenomena yang terjadi dalam artikel tersebut?
2. Apa gagasan kalian untuk mengatasi permasalahan peningkatan tinggi muka air laut akibat global warming?
3. Apa alasan kalian mengemukakan gagasan tersebut?
4. Buatlah rencana aksi upaya mengatasi permasalahan tersebut secara detail!


2. Pencemaran Udara

Atmosfer di kota-kota besar dunia sering dipengaruhi oleh kualitas udara yang tercemar. Pencemaran udara disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil yang menghasilkan asap yang mengandung gas Karbon Monoksida (Co), Karbon Dioksida (CO2), Nitrat, Sianida, dan Sulfat. Gas-gas tersebut dihasilkan oleh kendaraan bermotor yang semakin besar jumlah dan frekuensi penggunaannya, penggunaan bahan bakar untuk industri, dan juga asap yang bersumber dari kebakaran hutan.

Pencemaran udara berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat. Penurunan kandungan oksigen (O2) yang diikuti peningkatan gas-gas pencemar dapat mengakibatkan gangguan pada pernapasan. Wilayah yang mengalami pencemaran udara menjadi tidak nyaman dijadikan sebagai tempat hunian. Pencemaran udara juga dapat mengakibatkan terjadinya hujan asam. Air hujan tersebut memiliki derajat tingkat keasaman (pH) lebih kecil dari 5,6 dan mengandung sulfur dioksida dan oksida nitrogen. Hujan asam mengakibatkan dampak yang serius pada kesehatan manusia, satwa liar, dan spesies yang hidup di air. Selain dampak kesehatan, hujan asam juga berdampak pada kerusakan bangunan, ekosistem danau, hutan, dan tanaman pertanian. Hujan asam ini bisa terjadi di mana saja, terutama di daerah kawasan industri.



Gambar 3.10. Pencemaran Udara di Jakarta
Sumber: mediaindonesia.com /ANTARA/M Risyal Hidayat (2019)

Untuk memperdalam dan menambah wawasan kalian tentang pencemaran lingkungan, silahkan scan kode QR atau klik tautan di sini.

Tautan http://bit.ly/PencemaranLingkunganAirUdaraTanah

3. Pencemaran Air

Pencemaran air seringkali terjadi sebagai dampak dari industri, permukiman, dan penggunaan teknologi yang kurang ramah lingkungan. Sumber pencemaran air berasal dari kontaminasi polutan logam berat dan asam sulfat, bahan kimia, tumpahan minyak, pestisida, dan berbagai bahan kimia industri. Penggunaan bahan kimia seperti poliklorinasi bifenil (PCB), pelarut pembersih, dan deterjen juga dapat menimbulkan pencemaran air. Polutan-polutan tersebut membuat air menjadi berbahaya bagi kesehatan manusia dan kehidupan akuatik (Richard T. Wright, 2017).

Contoh pencemaran air terjadi di Sungai Citarum yang membentang dari Kabupaten Bandung hingga Kabupaten Bekasi. Hal tersebut mendapat perhatian oleh lembaga internasional akibat airnya tercemar berat. Data menunjukkan bahwa kondisi air Sungai Citarum memiliki komposisi 54% tercemar berat, 23% tercemar sedang, 20% tercemar ringan dan hanya 3% yang memenuhi baku mutu.

Sumber pencemaran air sungai adalah pencemaran domestik berupa air limbah rumah tangga dan sampah, peternakan, industri, dan perikanan. Untuk meningkatkan kualitas air sungai tersebut diterapkan program KLHK, seperti program penurunan beban pencemar industri, stasiun pemantauan kualitas air otomatis, berkesinambungan dan online, pengelolaan sampah terpadu, dan dukungan penegakan hukum. (KLHK, 2018).


Gambar 3.11. Pencemaran Air di Sungai Citarum
Sumber: news.detik.com/Raisan Al Farisi (2021)

Untuk memperdalam dan menambah wawasan kalian tentang Pencemaran Sungai, silahkan scan kode QR atau klik tautan di sini. Tautan http://bit.ly/SungaiCitarumBNPB

4. Pencemaran Pantai dan Laut

Fenomena pengasaman laut merupakan dampak langsung dari kelebihan produksi gas karbon dioksida (CO2 ). Keasaman lautan telah meningkat selama 250 tahun terakhir. Pada tahun 2100, kemungkinan akan meningkat sekitar 150% (Global Change, 2014), dan dampak utamanya adalah kepunahan kerang dan plankton yang merupakan sumber makanan bagi ikan. Masalah kerusakan lingkungan pantai dan laut pada umumnya disebabkan oleh pengaruh 2 (dua) faktor, yaitu faktor alami dan non alami (antropogenik). Faktor alami bersumber dari alam, seperti letusan gunung berapi di dasar laut yang menghasilkan gas-gas beracun. Faktor non alami bersumber dari aktivitas manusia di pesisir dan perairan laut, seperti tidak menjaga kebersihan pesisir dan membuang sampah sembarangan ke laut yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan keindahan panorama laut.



Gambar 3.12. Pencemaran di Pantai Kuta Bali
Sumber: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia (2021)

5. Pencemaran Tanah

Faktor penyebab terjadinya pencemaran tanah hampir sama dengan pencemaran air dan udara. Pencemaran tanah terjadi akibat penggunaan bahan pestisida atau bahan industri lainnya yang tidak mudah terurai, kontaminasi logam berat (timbal, kadmium, timah, dan merkuri), dan pengaruh efek senyawa nitrat dan fosfor dalam tanah karena terlalu banyak penggunaan pupuk, serta pembuangan limbah domestik.

Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 150 Tahun 2000, kerusakan tanah merupakan perubahan sifat dasar tanah yang melebihi kriteria baku tanah. Pencemaran terjadi akibat adanya bahan pencemar. Bahan pencemar tersebut berupa zat kimia (cair, padat, gas) yang berasal dari alam maupun dari aktivitas manusia yang telah ditentukan dapat berdampak buruk bagi kehidupan manusia dan lingkungan (Suprihanto dalam Puspawati Catur, 2018).

Saat ini, sebagian lahan pertanian terkontaminasi bahan-bahan pencemar atau polutan. Misalnya, limbah pembakaran senyawa anorganik seperti belerang dan nitrogen yang berakhir di tanah sebagai asam sulfat dan asam nitrat. Partikel logam timbal (Pb) yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor juga akan berakhir di tanah.

Setelah zat berbahaya tersebut mencemari permukaan tanah, maka dapat menguap ke udara, hanyut oleh air hujan dan/atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian akan mengendap menjadi kimia beracun di dalam tanah. Zat beracun di dalam tanah tersebut dapat secara langsung berdampak bagi manusia ketika mencemari air tanah dan udara di atasnya. Pencemaran tanah terjadi karena masuknya bahan pencemar yang melebihi daya dukung dari tanah.



Gambar 3.13. Pencemaran Tanah
Sumber: unsplash.com/@numaninsari (2021)

6. Peningkatan Jumlah Populasi

Pertambahan jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan akan lahan bangunan meningkat. Di sisi lain, ketersediaannya semakin hari semakin berkurang. Selain itu, sejalan dengan meningkatnya sosial ekonomi masyarakat, peningkatan jumlah penduduk juga dibarengi dengan peningkatan konsumsi sumber daya alam, seperti kebutuhan air, makanan, atau bahan bakar.

Pengembangan pertanian untuk meningkatkan produksi makanan seringkali dilakukan dengan memanfaatkan pestisida. Penggunaan bahan kimia tersebut justru menimbulkan masalah baru berupa berupa penurunan kualitas tanah dan kesehatan manusia. Jadi, peningkatan jumlah penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat akan memengaruhi daya dukung lingkungannya.

Manusia perlu upaya untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan hidup agar kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya dapat terus berlanjut dengan baik. Upaya pelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang berkaitan dengan pengaturan dan pengelolaan lingkungan hidup, yaitu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Terdapat berbagai upaya yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk mengelola lingkungan hidup.

a. Mengatasi Global Warming/Pemanasan Global

Aktivitas manusia telah membuat pemanasan global dan perubahan iklim menjadi ancaman global. Meningkatnya kadar CO2 dan gas rumah kaca lainnya telah menyebabkan peningkatan suhu rata-rata global, peristiwa cuaca ekstrem, kenaikan permukaan laut, dan perubahan negatif lainnya. Perubahan ini secara langsung dan tidak langsung memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Polusi udara, tanah, dan air melalui penggundulan hutan yang berlebihan, industrialisasi, dan penimbunan yang mengeluarkan CO2 dan menambah emisi gas rumah kaca adalah penyebab utama dari masalah lingkungan ini.

Upaya untuk mengatasi masalah pemanasan global adalah meningkatkan tutupan hutan dengan menggunakan tanaman penutup tanah untuk mengurangi jumlah CO2 di atmosfer. Selain meningkatkan tutupan lahan, upaya lain yang dapat dilakukan adalah meningkatkan pemadatan sampah di tempat pembuangan sampah dengan teknologi seperti alat pemadat yang membantu mengosongkan ruang untuk penggunaan konstruktif lainnya 

b. Melakukan pelestarian udara 

Upaya pelestarian udara antara lain dengan penanaman pohon, pengurangan emisi pembuangan gas sisa pembakaran, dan penghindaran penggunaan bahan kimia yang dapat merusak lapisan ozon di atmosfer. 

c. Mengatasi masalah lingkungan air 

Saat ini, kelangkaan air dan banyaknya air yang tercemar merupakan ancaman besar bagi keberadaan manusia di banyak negara di dunia. Oleh karena itu, perlu upaya pencegahan terhadap masalah kerusakan lingkungan air. Cara mengatasi masalah lingkungan air adalah dengan pembuangan limbah industri, limbah kimia dan radioaktif yang tepat, dan meminimalkan polusi plastik.

d. Melakukan Pelestarian Laut Dan Pantai

Upaya mengatasi permasalahan laut dan pantai dapat dilakukan dengan cara melestarikan hutan bakau di sekitar pantai dan terumbu karang, dan menghindari penggunaan bahan peledak maupun penggunaan pukat harimau saat melakukan penangkapan ikan.

e. Melakukan Pelestarian Tanah

Upaya pelestarian tanah yaitu dengan melakukan reboisasi atau penanaman kembali hutan-hutan yang gundul, dan pembuatan terasering atau sengkedan pada lahan yang miring. Melalui langkah ini, akan dapat menghambat laju aliran air hujan yang dapat menyebabkan erosi tanah.


Terapkan Konsep

Selamat yah Kalian telah belajar lingkungan! Kini saatnya kalian belajar menerapkan konsep-konsep yang terkandung di dalamnya. Untuk menerapkan konsep-konsep tersebut lakukan langkah-langkah berikut:

Carilah satu fenomena permasalahan lingkungan di wilayah kota/kabupaten tempat kalian tinggal.

Tunjukkan lokasi permasalahan tersebut pada peta, sertai gambaran singkat lokasi tersebut, misal letak absolut/relatif, topografi, vegetasi, tanah dan permukiman.

Terapkan konsep-konsep lingkungan apa saja yang dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena permasalahan tersebut. Misal ekosistem, biotik, abiotik dan sebagainya.

Belajar Geografi ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO