Kamis, 07 September 2023

KERAGAMAN HAYATI #2

B. Sebaran Flora dan Fauna Dunia 

1. Persebaran Sistem Bioma 

Pola persebaran flora di dunia dapat dipahami melalui bioma. Bioma biasanya diklasifikasikan berdasarkan vegetasi yang dominan dalam suatu wilayah regional yang luas. Ada tiga parameter yang saat ini digunakan, yaitu kondisi iklim (suhu dan curah hujan), tanah dan kondisi geologi yang membuat komunitas bervariasi dan dapat dikategorikan dalam beberapa zona vegetatif. Meskipun tidak ada klasifikasi tunggal zona vegetatif yang diakui oleh semua biographer dan ahli ekologi, namun ada zona vegetasi yang diakui secara umum. Berikut merupakan penjelasan mengenai beberapa zona vegetasi.


a. Padang Rumput

Daerah padang rumput terbentang dari daerah tropika sampai ke daerah subtropika. Curah hujan di daerah padang rumput pada umumnya antara 250-500 mm/tahun. Pada beberapa padang rumput, curah hujan dapat mencapai 1.000 mm, tetapi turunnya hujan tidak teratur. Hujan yang tidak teratur dan porositas yang rendah mengakibatkan tumbuhan sulit untuk mengambil air.

Tumbuhan yang dapat menyesuaikan diri terhadap keadaan lingkungan seperti itu adalah rumput. Daerah padang rumput yang relatif basah, seperti terdapat di Amerika Utara, rumputnya dapat mencapai tiga meter, misalnya rumput- rumput bluestem dan indian grasses. Daerah padang rumput yang kering mempunyai rumput yang pendek, misalnya rumput Buffalo grasses dan Rumput Grama. Padang rumput dapat dibedakan menjadi beberapa macam, seperti berikut:

Prairie terdapat di daerah dengan curah hujan yang berimbang dengan musim panas. Rumput di prairie lebih tinggi dibandingkan rumput tundra.

Stepa terdapat di daerah dengan curah hujan tinggi. Daerah stepa umumnya terdiri atas rumput-rumput pendek dan diselingi oleh semak belukar. Tumbuhan yang dapat bertahan hidup di daerah stepa adalah jenis tumbuhan yang tahan terhadap kelembaban rendah. Contohnya berupa rumput-rumput pendek diselingi semak belukar.

Savana/sabana memiliki kesamaan dengan stepa, namun ada beberapa hal yang membedakannya. Sabana tercipta dari kondisi tanah yang tidak basah dan biasanya kering saat musim kemarau. Vegetasi yang mendominasi sabana diantaranya rumput dan akasia dan diselingi dengan pohon tinggi.


Gambar 2.11. Perbedaan Bentuk Sabana dan Stepa 

Sumber: freepik.com/wirestock - h9images (2021)


b. Flora Gurun

Pada umumnya tumbuhan yang hidup di gurun berdaun kecil seperti duri, atau tidak berdaun. Tumbuhan tersebut memiliki akar yang panjang agar dapat mengambil air dari tempat yang dalam dan dapat menyimpan air dalam jaringan spon (Kustopo, 2018). Daerah gurun banyak terdapat di daerah tropis dan berbatasan dengan padang rumput.


Keadaan alam dari padang rumput menuju arah gurun biasanya nampak semakin gersang. Curah hujan di gurun sangat rendah, yaitu sekitar 250 mm per tahun atau kurang. Hujan lebat jarang terjadi dan tidak teratur. Pancaran matahari sangat terik dan penguapan tinggi sehingga suhu siang hari sangat panas. Pada musim panas suhunya dapat mencapai lebih dari 40°C.



Gambar 2.12. Gurun Pasir


Sumber: freepik.com/vstrekov (2021)


Perbedaan suhu siang dan malam hari (amplitudo harian) sangat tinggi. Pada siang hari suhu terasa amat panas, sementara pada malam hari amat dingin. Tumbuhan yang hidup menahun di daerah gurun yaitu tumbuhan yang dapat beradaptasi terhadap kekurangan air dan penguapan yang cepat. Apabila hujan turun, tumbuhan di gurun segera tumbuh, berbunga, dan berbuah dengan cepat. Hal ini dapat terjadi dalam beberapa hari saja setelah hujan, tetapi sempat menghasilkan biji untuk berkembang lagi dalam musim berikutnya.


c. Tundra

Daerah tundra hanya terdapat di belahan bumi utara dan kebanyakan terletak di daerah lingkungan kutub utara. Daerah ini memiliki musim dingin yang panjang serta gelap dan musim panas yang panjang serta terang terus menerus. Daerah tundra di kutub dapat mengalami gelap berbulan-bulan, karena matahari hanya mencapai 231/2° LU/LS (Samadi, 2018). Di daerah tundra tidak ada pohon yang tinggi, tetapi berupa tumbuhan pendek seperti semak. Di daerah tundra juga banyak terdapat lumut, terutama sphagnum dan lichenes (lumut kerak).



Gambar 2.13. Tundra

Sumber: unsplash.com/@gavintyte (2019) 



Tumbuhan semusim di daerah tundra biasanya berbunga dengan warna yang mencolok dengan waktu pertumbuhan yang sangat pendek. Saat tanaman tumbuh dan berbunga, pemandangan serasa sangat indah. Tumbuhan di daerah ini dapat beradaptasi terhadap keadaan suhu udara yang dingin. Meskipun cuacanya bersalju, tumbuhan di daerah ini masih dapat bertahan hidup. Jumlah spesies makhluk hidup yang menetap di daerah tundra sangat sedikit, bahkan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah spesies yang hidup di gurun. Makin ke arah kutub dari daerah tundra, maka terdapat es. Hewan yang dapat hidup di daerah ini ialah hewan-hewan seperti walrus, seal/anjing laut, penguin, dan hewan-hewan yang berbulu tebal. Mamalia lain yang dapat hidup di tundra adalah beruang kutub, kelinci kutub, dan lemur. Kita dapat menemukan berbagai jenis serangga di daerah tundra, khususnya lalat yang telurnya tahan dingin dan telur-telur tersebut menetas pada musim panas.

Beberapa hewan yang hidup di bioma tundra ada yang menetap dan ada pula yang hanya datang pada musim panas saja untuk bertelur. Hewan yang hidup menetap di daerah tundra mempunyai bulu atau rambut yang tebal. Bulu tebal ini berfungsi untuk melindungi tubuhnya dari suhu yang dingin. Untuk perlindungan terhadap suhu rendah, hewan-hewan tersebut mengalami perubahan warna, yaitu menjadi putih pada musim dingin. Warna putih tersebut merupakan warna pelindung di atas salju dan juga mengurangi kehilangan panas oleh radiasi matahari. Daerah Arktik terdapat fauna berbulu tebal seperti beruang kutub, rusa kutub, anjing laut, dan pinguin.

 


d. Hutan Tropis 

Di daerah hutan basah tropika terdapat ribuan spesies tumbuhan yang mungkin berbeda dengan daerah lain. Hutan tropis di seluruh dunia mempunyai persamaan. Sepanjang tahun, hutan tropis cukup air dan keadaan alamnya memungkinkan terjadinya pertumbuhan yang lama sehingga komunitas hutan tersebut akan kompleks. Pohon utama memiliki ketinggian antara 20-40 meter dengan cabang-cabang yang berdaun lebat sehingga membentuk suatu tudung (canopy) yang mengakibatkan dasar hutan menjadi gelap. Hutan tropis memiliki kelembaban tinggi dan suhu rata-rata 25oC.



Gambar 2.14. Hutan Tropis

Sumber: freepik.com/tzido 


Pada hutan tropis, selain pepohonan yang tinggi, juga terdapat tumbuhan yang khas, yaitu liana dan epifit. Salah satu contoh liana ialah rotan, sedangkan salah satu contoh epifit ialah anggrek. Rotan banyak tumbuh di hutan Kalimantan (Arifin, 2019). Daerah hutan tropis di Indonesia sangat kaya akan jenis tanaman anggrek yang indah dan mempesona. 

e. Hutan Gugur 


Di daerah yang beriklim sedang, curah hujannya cukup rendah yaitu antara 750 sampai 1.000 mm/tahun. Di wilayah ini selain terdapat padang rumput dan gurun, juga terdapat vegetasi khas hutan gugur. Ada empat musim yang berlangsung di wilayah ini, yaitu musim semi, panas, gugur, dan dingin.



Gambar 2.15. Hutan Gugur

Sumber: freepik.com/wirestock (2021)



Sejak musim gugur hingga musim semi, tumbuhan yang hidup menahun pertumbuhannya terhenti. Tumbuhan semusim mati pada musim dingin, yang tertinggal hanya bijinya. Tumbuhan yang tahan dingin dapat berkecambah menjelang musim panas.


f. Taiga 


Taiga merupakan hutan pohon pinus yang daunnya berbentuk seperti jarum (Zid, 2021). Tumbuhan yang terdapat di hutan taiga misalnya konifer, terutama pohon spruce (picea), alder (alnus), birch (betula), dan juniper (juniperus).

 


Gambar 2.16. Taiga
Sumber: freepik.com/wirestock 92021) 

Daerah taiga merupakan bioma yang hanya terdiri atas satu spesies pohon. Taiga kebanyakan terdapat di belahan bumi bagian utara (Siberia Utara, Rusia, Kanada Tengah dan Utara), dengan masa pertumbuhan pada musim panas berlangsung antara 3 sampai 6 bulan.


Untuk menambah wawasan kalian tentang persebaran sistem bioma, silahkan klik tautan disini.



2. Persebaran Flora dan Fauna di Dunia 


Menurut Alfred Russel Wallace Pada tahun 1876, Alfred Russel Wallace membagi wilayah persebaran fauna menjadi 8 wilayah. Untuk menunjukkan perbedaan wilayah tersebut, dibuat garis khayal yang menegaskan pembagian karakteristik masing-masing hewan yaitu Ethiopian, Palearktik, Oriental, Australian, Neotropical, Neartik, Oceanik dan Antartik.

Gambar 2.17. Peta Zona Biogeografis Wallace 

Sumber: Encyclopædia Britannica, Inc. (2019) 


Pembagian wilayah berdasarkan zona biogeografis Wallace diuraikan sebagai berikut.

a. Wilayah Ethiopian

Menurut Wallace, persebaran fauna di wilayah Ethiopian meliputi keseluruhan benua Afrika, Madagaskar, dan juga sebagian daratan Arab terutama di bagian selatan. Pada bagian utara dari wilayah Ethiopian sendiri terdapat sebuah padang pasir/gurun terluas di dunia bernama Gurun Sahara. Gurun Sahara menjadi pembatas alami antara wilayah Ethiopian dengan wilayah Paleartik atau persebaran hewan di Benua Eropa.



Gambar 2.18. Ethiopian 

  1. Fauna khas yang berada di wilayah Afrika, misalnya gajah, singa, citah, dan hyena.
  2. Fauna khas yang hanya ditemukan di Pulau Madagaskar, contoh: lemur dan kuda nil kecil.
  3. Fauna yang hampir mirip dengan fauna yang berada di wilayah Oriental, misalnya babun, gorila, dan simpanse
Hewan yang khas daerah Ethiopians adalah gajah Afrika, badak Afrika, gorila, babun, simpanse, dan jerapah. Mamalia padang rumput khas Ethiopians seperti zebra, antilope, kijang, singa, jerapah, harimau, dan trenggiling (mamalia pemakan serangga). Mamalia endemik di wilayah ini adalah Kuda Nil yang hanya terdapat di Sungai Nil, Mesir

 Gambar 2.19. Fauna Khas Wilayah Ethiopians


b. Wilayah Paleartik 

Zona paleartik merupakan zona dengan kawasan paling luas di antara zona lainnya. Wilayah persebarannya sangat luas meliputi hampir seluruh benua Eropa, Rusia, daerah dekat Kutub Utara sampai Pegunungan Himalaya, Kepulauan Inggris di Eropa Barat sampai Jepang, Selat Bering di pantai Pasifik, dan benua Afrika paling Utara. Kondisi lingkungan wilayah ini bervariasi, mulai dari perbedaan suhu, curah hujan, sampai kondisi permukaan tanahnya. Hal ini menyebabkan jenis fauna di Paleartik juga bervariasi.




Gambar 2.20. Paleartik 


Beberapa jenis fauna Paleartik yang tetap bertahan di lingkungan aslinya yaitu panda di Cina, unta di Afrika Utara, serta binatang kutub seperti rusa kutub, kucing kutub, dan beruang kutub. Binatang-binatang yang berasal dari wilayah ini antara lain kelinci, sejenis tikus, berbagai spesies anjing, kelelawar, bajing, dan kijang.

Jenis hewan di wilayah Paleartik antara lain: lynx, landak, rusa kutub, bison, kambing gunung, panda, serigala, kelinci kutub, dan burung pelatuk.

Hewan khas daerah ini adalah ayam kalkun liar, tikus berkantung di Gurun Pasifik Timur, bison, muskox, karibu, dan domba gunung. Di daerah ini juga terdapat beberapa jenis hewan yang ada di wilayah Paleartik seperti anjing, kelinci, kelelawar, kucing, dan bajing. Jenis hewan di daerah Neartik, antara lain: beruang coklat, berang-berang, tupai salamander, bison, karibu, kelinci, kalkun, kungkang, dan rakun.


Rakun termasuk mamalia yang banyak ditemukan di Amerika Utara. Tubuhnya ditumbuhi oleh rambut berwarna abu–abu yang cukup tebal yang berfungsi sebagai mantel alami di cuaca dingin. Selain itu, rakun termasuk hewan pemakan segala atau omnivora. Tidak hanya itu saja, rakun termasuk hewan yang cukup pintar. Sebuah studi mengatakan jika rakun dapat mengingat solusi permasalahan sampai dengan 3 tahun lamanya.

Gambar 2.22. Rakun, Hewan Khas Wilayah Neartik 

Sumber: freepik.com/master1305 


d. Wilayah Neotropikal 

Wilayah persebarannya meliputi Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan sebagian besar Meksiko (Handayani et al., 2018). Wilayah ini sebagian besar beriklim tropis dan bagian selatan beriklim sedang (Harianto & Dewi, 2017). Hewan endemic wilayah Neotropikal ialah ikan piranha dan belut listrik di Sungai Amazone, Lama (sejenis unta) di padang pasir Atacama (Peru), tapir, dan kera hidung merah.



Gambar 2.23. Neotropikal


Wilayah Neotropikal sangat terkenal sebagai wilayah fauna vertebrata karena jenisnya yang sangat beranekaragam dan spesifik, seperti beberapa spesies monyet, trenggiling, beberapa jenis reptil seperti buaya, ular, kadal, beberapa spesies burung, dan ada sejenis kelelawar penghisap darah. Jenis hewan yang ada di wilayah Neotropik antara lain: kukang, armadillo, kelelawar penghisap darah, siamang, piranha, trenggiling, anaconda, kura-kura galapagos, dan belut listrik.



Gambar 2.24. Ikan Piranha


Ikan piranha tumbuh dan berkembang biak di daerah Amerika Selatan. Sebuah penelitian ilmiah pada tahun 2003 memaparkan bahwa sangat sedikit kasus manusia yang dimakan oleh ikan piranha. Setidaknya, tiga di antara serangan piranha yang menyebabkan korban meninggal ternyata meninggal karena alasan lain, seperti tenggelam atau gagal jantung. Penelitian ini menegaskan bahwa sebagian besar ikan piranha lebih suka makan ikan atau bangkai yang membusuk, ketimbang manusia yang masih hidup.


e. Wilayah Oriental 

Fauna di wilayah ini tersebar di kawasan Asia, terutama Asia selatan dan Asia tenggara. Fauna Indonesia yang masuk wilayah ini hanya di Indonesia bagian barat. Zona oriental meliputi wilayah India, Indochina (Kamboja, Laos, Vietnam), serta Indomalayan (Malaysia, Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Filipina). Hewan yang khas wilayah ini adalah harimau, orang utan, gibbon, rusa, banteng, dan badak bercula satu. Hewan lainnya adalah badak bercula dua, gajah, beruang, antilop berbagai jenis reptil, dan ikan (Kurniawan & Pratama, 2010). Adanya jenis hewan yang hampir sama dengan wilayah Ethiopian, menunjukkan bahwa Asia Selatan dan Asia Tenggara pernah menjadi satu daratan dengan Afrika.



Gambar 2.25. Oriental 

Beberapa hewan khas fauna oriental adalah sebagai berikut: 

  1. Harimau, gibbon, gajah, orang utan, bekantan, monyet, badak bertanduk satu, rusa, kijang, babi rusa, dan tapir.

  2. Terdapat banyak hewan endemik yang hanya berkembang biak di daerah tertentu, seperti komodo yang hanya dapat ditemukan di pulau Komodo dan sekitarnya, serta anoa di Sulawesi.


Pasti kalian tidak asing dengan hewan-hewan di bawah ini. Ya, karena inilah hewan endemik di Indonesia. Sebagian wilayah di Indonesia termasuk ke dalam zona oriental.


Gambar 2.26. Fauna Wilayah Oriental 


f. Wilayah Australian 


Wilayah ini mencakup kawasan Australia, Selandia Baru, Papua, Maluku, Sulawesi, dan pulau- pulau sekitarnya. Wilayah persebaran fauna Australian, sebagian besar kondisi lingkungannya ialah iklim tropis dan sebagian lagi beriklim sedang. Kondisi lingkungan di wilayah Australia yang cukup mencolok disebabkan oleh letaknya yang terpisah jauh dari benua lainnya.


Gambar 2.28. Fauna Wilayah Australian 


Beberapa hewan khas wilayah ini adalah kanguru, burung kiwi, koala, dan platipus. Terdapat beberapa jenis burung yang khas dari wilayah ini seperti burung cendrawasih, burung kasuari, burung kakaktua, dan betet. Kelompok reptil di wilayah ini antara lain buaya, kura-kura, ular piton, dan lain sebagainya.



Gambar 2.28 menunjukkan beberapa hewan khas wilayah fauna Australis. 


g. Wilayah Oceanik

Fauna di wilayah ini tersebar di kawasan kepulauan di Samudra Pasifik. Daerah persebarannya meliputi Selandia Baru dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Wilayah ini merupakan pengembangan dari wilayah Australian daratan, dengan spesifikasi fauna tertentu. Oleh karena itu jenis fauna di wilayah Oceanik hampir sama dengan wilayah Australian. Fauna endemik wilayah oceanik adalah kiwi dan sphenodon.


h. Wilayah Antartik 

Seperti Namanya, wilayah ini mencakup kawasan di kutub Selatan. Daerah persebarannya meliputi benua Antartika dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Jenis fauna yang hidup di daerah ini memiliki bulu lebat dan mampu menahan dingin. Contoh hewan di wilayah Antartik adalah rusa kutub, burung pinguin, anjing laut, kelinci kutub, dan beruang kutub. Keadaan fauna di tiap-tiap daerah (bioma) bergantung pada daya dukung yang dapat diberikan daerah itu untuk memberi makanan bagi penghuninya. Secara langsung atau tidak, iklim sangat berpengaruh pula pada penyebaran fauna. Keadaan iklim sangat berpengaruh terhadap keadaan dunia tumbuh-tumbuhan, sedangkan keadaan tumbuh-tumbuhan memengaruhi adanya jenis-jenis fauna tertentu. Akibat pengaruh iklim terdapat fauna pegunungan, fauna dataran rendah, fauna padang rumput (sabana), fauna hutan tropis, dan lain sebagainya.

KERAGAMAN HAYATI #1

 TUJUAN PEMBELAJARAN:

  1. Mendeskripsikan keanekaragam flora dan fauna Indonesia,
  2. Menerapkan konservasi untuk kelestarian flora dan fauna,
  3. Menganalisis sebaran flora dan fauna indonesia, dan
  4. Merancang projek sederhana pelestarian flora dan/atau fauna indonesia sesuai wilayah tempat tinggalnya

APERSEPSI


Semoga kalian berkesempatan untuk berkunjung ke taman-taman nasional yang menyebar di beberapa provinsi di Indonesia. Dua di antara taman nasional yang menjadi objek wisata adalah taman nasional Komodo di NTT dan taman nasional Wakatobi di Sulawesi Tenggara. Kedua taman nasional tersebut sangat menarik untuk dikunjungi. Hal ini karena di kedua taman itu, kalian dapat mengamati berbagai jenis hewan dan tumbuhan endemik Indonesia. Selain itu, kalian juga dapat menyaksikan berbagai jenis tanaman yang tumbuh di taman itu dan menikmati keindahan pemandangan. Tentu sangat menyenangkan jika kalian dapat berkunjung kesana bersama teman-teman dan keluarga.

Jika mengamati flora dan fauna Indonesia, kita akan menjumpai keragaman tumbuhan dan hewan yang banyak dan beragam. Ada jenis flora dan fauna endemik Indonesia barat, seperti tumbuhan dan hewan di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Ada juga tumbuhan dan hewan yang hidup di wilayah Indonesia Timur, seperti hewan dan tumbuhan di Papua dan beberapa pulau sekitarnya. Di antara kedua wilayah kehidupan flora dan fauna Indonesia Barat dan Indonesia Timur, ada kehidupan flora dan fauna khas yang berbeda, yaitu fauna di wilayah peralihan kepulauan Sulawesi.

Pembahasan pada Bab Keragaman Hayati adalah mengetahui dan menelaah flora dan fauna Indonesia. Apa saja jenis-jenisnya? Dimana sebaran hewan dan tumbuhan tersebut? Mengapa dapat menyebar di wilayah tersebut? Serta bagaimana pertumbuhan kehidupan flora dan fauna di wilayah tersebut?

A. Keragaman Flora dan Fauna Indonesia

1. Pengertian Flora dan Fauna

Kita harus bangga menjadi warga Indonesia. Satu di antara banyak hal yang membuat kita bangga menjadi warga Indonesia adalah Indonesia memiliki kekayaan flora dan fauna. Negara kita merupakan satu di antara negara terkaya akan kehidupan flora dan fauna di dunia.

Gambar. 2.2. Ragam Flora di Indonesia

Sumber: faunadanflora.com/indra (2021)


Istilah flora berasal dari bahasa latin yang berarti alam tumbuhan. Flora dapat diartikan sebagai sekelompok tanaman atau tumbuhan (Kasiyo, 2016). Di dalam dunia tumbuhan, ada yang dinamakan flora endemik, yaitu sekelompok jenis tumbuhan yang hidup di daerah tertentu, seperti flora endemik Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan flora endemik daerah lainnya. Flora endemik suatu daerah adalah jenis tumbuhan tertentu yang tidak dijumpai di wilayah lain. Hal itu terjadi karena setiap daerah memiliki ciri-ciri wilayah tertentu, seperti iklim, cuaca, dan tanah yang membedakan dengan wilayah lain. Contohnya bunga melati yang merupakan flora endemik Jawa.

Gambar. 2.3. Ragam Fauna di Indonesia

Sumber: faunadanflora.com/indra (2021)


Kata fauna berasal dari bahasa latin yang berarti alam hewan. Fauna secara Sederhana diartikan hewan, sedangkan pengertian umum adalah segala jenis hewan yang hidup di dunia. Tidak hanya flora endemik, fauna juga memiliki istilah fauna endemik. Fauna endemic adalah hewan yang hanya ditemukan di wilayah tertentu dan tidak dapat ditemukan di daerah lain.

Persebaran fauna endemik bersifat alami tanpa campur tangan manusia untuk memindahkannya. Contohnya burung Cendrawasih dan Badak. Jenis burung tersebut merupakan endemik asli Papua, sedangkan badak bercula satu merupakan endemik Ujung Kulon, pulau Jawa. Jenis burung dan badak tersebut tidak dapat ditemukan di daerah lain. Dalam penyebutan jenis fauna, pada umumnya diberi imbuhan secara geografis. Misalnya hewan asia, hewan australia, dan hewan peralihan. Adakah flora dan fauna yang khas di daerahmu?

2. Arti Penting Flora Dan Fauna Bagi Kehidupan

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak dapat lepas dari ketersediaan tumbuhan dan hewan. Keberadaan tumbuhan dan hewan sangat penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Tidak mungkin manusia dapat hidup tanpa tumbuhan dan hewan. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, manusia membutuhkan tumbuhan dan hewan sebagai sumber makanan.

Untuk kebutuhan kesehatan, manusia memerlukan zat-zat tertentu yang bersumber dari tumbuhan dan hewan. Untuk kebutuhan udara dan air yang segar, tumbuhan sangat diperlukan untuk menghasilkan oksigen dan air melalui proses fotosintesis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa flora dan fauna memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia, seperti pada bidang pangan, kesehatan, ilmu pengetahuan, keseimbangan lingkungan, pariwisata, ekonomi, dan lain sebagainya.

a. Sumber Bahan Makanan

Sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal padi sebagai bahan makanan pokok. Padi merupakan tumbuhan yang cocok dibudidayakan di Indonesia yang beriklim tropis. Tumbuhan ini dapat beradaptasi hampir pada semua lingkungan dari dataran rendah sampai dataran tinggi sehingga banyak dibudidayakan masyarakat. Tanaman padi tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Beberapa wilayah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara merupakan lumbung padi nasional. Padi dapat tumbuh di daerah panas dengan curah hujan tinggi.

Walaupun demikian, tidak hanya beras sebagai makanan pokok penduduk Indonesia. Beberapa masyarakat lokal di Indonesia memiliki makanan pokok selain beras. Sagu, singkong, jagung, ketela, ubi, dan sejenisnya telah dijadikan sebagai tanaman budi daya untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok.


Gambar 2.4. Peta Persebaran Sentra Produksi Pangan Berdasarkan RPJMN Tahun 2020-2024
Sumber: kementerian PUPR (2021)


Tanaman Sagu atau sago palm (Metroxylon sagu) merupakan makanan pokok di daerah Indonesia bagian timur, seperti Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Sagu tak hanya hidup di Papua. Sagu juga dapat tumbuh di wilayah lain, seperti di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, Kepulauan Riau, dan Kepulauan Mentawai. Berdasarkan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) yang dilansir pada tahun 2014, luas sagu dunia mencapai 6,5 Juta ha. Dari luas lahan tersebut, Indonesia memiliki pohon sagu seluas 5,5 juta ha dan dari luas lahan tersebut, 5,2 juta ha berada di Papua dan Papua Barat. Demikian halnya dengan jagung, ketela pohon, ubi jalar, dan kentang, banyak ditanam di pulau Jawa, Sulawesi, dan Papua, sebagai makanan pokok maupun makanan tambahan.


Gambar 2.5. Petani Pengolah Sagu

Sumber: eatingasia.typepad.com (2008)


b. Sumber dan Penopang Bagi Kesehatan

Hidup sehat menjadi dambaan seluruh manusia yang tinggal di planet bumi. Untuk memperoleh kehidupan yang sehat dibutuhkan obat-obat yang bersumber dari tumbuhan dan hewan. Tumbuhan dan hewan memiliki manfaat dalam bidang kesehatan seperti pengobatan penyakit yang telah ada sejak lama.

Berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang terdapat di alam dapat menjadi sumber obat-obatan. Menurut catatan WHO sekitar 20.000 spesies tumbuhan dipergunakan oleh penduduk dunia sebagai obat (Malik, 2020). Ada sekitar 1.260 spesies tumbuhan yang secara pasti diketahui berkhasiat sebagai obat Indonesia. Bahkan tanaman tersebut banyak dibudidayakan masyarakat melalui TOGA (Tanaman Obat Keluarga) yang bermanfaat untuk obat keluarga.

Indonesia juga tercatat sebagai salah satu pusat Vavilov, yaitu pusat sebaran keanekaragaman genetik tumbuhan budidaya (Kusmana, 2015). Satu diantara jenis tanaman yang paling terkenal pemanfaatannya bagi kesehatan adalah eucalyptus. Tumbuhan ini merupakan bahan utama untuk minyak kayu putih.


Gambar 2.6. Tumbuhan Eucalyptus

Sumber: saniter.co.id (2021)


c. Sumber Daya Ekonomi


Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang telah dimanfaatkan sebagai sumber ekonomi (Mulyadin, 2016). Salah satunya adalah kayu. Beragam jenis kayu yang menjadi khas negara Indonesia, seperti jati, mahoni, gaharu dan lain sebagainya.

Kayu jati banyak ditemukan di kawasan pulau Jawa dan pulau Kalimantan. Meskipun pohon kayu jati ada di Kalimantan dan Sumatera, namun mereka tidak dapat tumbuh secara maksimal maksimal karena tanahnya tidak mendukung. Kandungan tanah pada kedua pulau tersebut memiliki saman yang tinggi. Kayu jati sangat diandalkan dalam industri mebel. Kayu ini merupakan kayu premium untuk pembuatan perabotan rumah. Untuk dijadikan sebagai bahan membuat mebel, diperlukan kayu jati yang usianya sudah mencapai puluhan tahun. Faktor usia ini yang menjadikan harga dari kayu jati menjadi lebih mahal daripada kayu lainnya.


Gambar 2.7. Kayu sebagai Sumber Ekonomi 

Sumber:freepik.com/wirestock (2021)



d. Keseimbangan Ekosistem

Flora dan fauna di suatu daerah memiliki peran untuk menjaga keberlangsungan ekosistem. Salah satu bentuknya adalah sebagai elemen rantai makanan. Setiap hewan dan tumbuhan memiliki peran masing masing yang meliputi peran sebagai produsen, konsumen, predator, pengurai, dan sebagainya. Sebagai contoh: harimau merupakan predator karnivora yang memburu hewan herbivora (pemakan tumbuhan). Peran harimau penting sebagai pengontrol jumlah populasi hewan pemakan tumbuhan (LIPI,2014).

Jika hewan pemakan tumbuhan populasinya meningkat drastis, tentu mereka membutuhkan makanan tumbuhan dalam jumlah yang banyak pula. Apabila tumbuhan dimakan oleh mereka, maka tumbuhan akan habis, mereka pun cepat dapat melakukan regenerasi secara sempurna. Sedikitnya jumlah tumbuhan akan mengakibatkan berkurangnya produsen oksigen yang sangat kita butuhkan untuk bernapas. Ledakan populasi hewan pemakan tumbuhan juga membuat persaingan makanan dengan mendapat hewan ternak menjadi terak semakin tinggi. Hewan-hewan ternak yang dibudidayakan penduduk dapat kehilangan pakan dan dapat berakibat pada kepunahan pada populasi hewan tersebut. Tentu keadaan tersebut tidak kita kehendaki, karena akan menimbulkan gangguan pada kehidupan manusia.



Gambar 2.8. Jaring-jaring Makanan


3. Ragam dan Dinamika Jenis Flora dan Fauna Indonesia dan Permasalahannya


a. Ragam Flora dan fauna

Indonesia merupakan negara kepulauan yang luas, beriklim tropis, dan topografi yang bervariasi. Indonesia memiliki luas sekitar 9 juta km2, memiliki lebih dari 17 ribu pulau dengan garis pantai hingga 95.181 km. Luas daratan mencapai 2 juta km2 dan luar perairan mencapai 7 juta km2. Indonesia berada diantara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Samudra Hindia dan Samudra Pasifik). Indonesia beriklim tropis dengan curah hujan dan suhu yang bervariasi.

Wilayah barat umumnya memiliki curah hujan tinggi yang beriklim basah, sedangkan di wilayah timur bercurah hujan lebih rendah dan beriklim lebih kering. Wilayah Indonesia juga memiliki topografi yang bervariasi dari dasar laut yang curam, dataran rendah, dataran tinggi, dan pegunungan. Indonesia memiliki banyak gunung api yang aktif maupun tidak aktif. Kompleksitas topografi tersebut mengakibatkan wilayah Indonesia memiliki suhu udara yang bervariasi.

Wilayah Indonesia yang luas dengan variasi curah hujan, temperatur, dan tanah memengaruhi keragaman flora dan fauna. Indonesia memiliki ragam flora dan fauna yang tinggi. Keragaman flora dan fauna di Indonesia jauh lebih tinggi dibanding Amerika Selatan dan Afrika yang beriklim tropis. Jenis flora di Indonesia berjumlah lebih dari 10% jenis tumbuhan di seluruh dunia (Aryani, 2017). Indonesia memiliki hutan hujan tropis dengan beragam tumbuhan, seperti pohon, perdu, rumput, dan tumbuhan anggrek (orchidaceae) yang penyebarannya tersebar (Indonesia.go.id, 2018).


Tabel 2.1 Jumlah Spesies Tanaman di Indonesia

Ragam Spesies     Jumlah
Paku pakuan         4000
Rotan                     322
Spesies Pohon Meranti 400
Jenis Pohon Bambu 122
Jenis Tanaman Anggrek 4000


Tabel 2.2 Jumlah Jenis Fauna di Indonesia


Jenis Fauna Jumlah
Pisces (Ikan) 4000
Aves (Burung) 1600
Mamalia 500
Reptilia dan amfibi 1000
Insecta (serangga) 200.000

Sumber: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (2014)


Untuk menambah wawasan kalian tentang potensi flora dan fauna di Indonesia, silahkan klik tautan disini

b. Permasalahan Flora dan Fauna di Indonesia


Wilayah Indonesia yang luas dengan keragaman flora dan fauna yang beragam memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan penduduk secara ekonomi, kesehatan, sosial dan budaya. Namun sayangnya keberadaan sebagian tumbuhan dan hewan tersebut mengalami kemerosotan, bahkan jenis flora dan fauna tertentu nyaris punah. Ada beberapa permasalahan yang mendera flora dan fauna, yakni:


1) Eksploitasi berlebihan


Eksploitasi berlebihan atau over eksploitasi adalah proses pengambilan sumber daya terbarukan sampai sumber daya tersebut menjadi berkurang. Eksploitasi berlebihan dapat berujung pada kerusakan sumber daya. Eksploitasi berlebihan terjadi pada sumber daya alam, misalnya tanaman obat liar, padang rumput, cadangan ikan, hutan dan cadangan air. Dalam ekologi, eksploitasi yang berlebihan merupakan satu dari lima kegiatan utama yang mengancam keanekaragaman hayati global (Sumarto, 2012). Para ekologis menggunakan istilah ini untuk menggambarkan populasi yang dipanen sampai pada titik ketika keberlanjutannya terganggu. Hal ini dapat berakibat pada kepunahan di tingkat populasi dan bahkan kepunahan sejumlah spesies.

Beberapa jenis tumbuhan dan hewan memiliki nilai estetika dan ekonomi yang tinggi. Banyak kolektor bersedia. untuk membayar mahal demi hobi dan melengkapi koleksi tumbuhan dan hewan tersebut. Semakin indah dan langka jenis tumbuhan dan hewan, maka akan semakin mahal harganya. Oleh karena itu, banyak orang yang berusaha memburu hewan demi keuntungan pribadi. tanpa memperhatikan keberlangsungan keseimbangan ekosistem alam. Contoh: kasus penyelundupan 24 ekor burung kakatua jambul kuning. Beruntungnya, kegiatan melanggar hukum tersebut dapat digagalkan dalam perjalanan dari Papua ke Surabaya. Setelah dilakukan interogasi dan pencarian, akhirnya ditemukan 22 ekor lainnya di atas kapal dalam kondisi dimasukkan ke dalam botol air mineral agar tidak diketahui oleh pihak berwajib.

2) Kepunahan Flora dan Fauna




Jumlah flora dan fauna di Indonesia dari tahun ke tahun semakin menyusut. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang begitu cepat (Indrawan, 2012). Manusia cenderung memanfaatkan flora dan fauna tanpa kendali demi untuk pemuasan kebutuhan hidupnya. Pembangunan permukiman yang mengurangi lahan komunitas flora fauna, serta pengembangan industri yang merusak lingkungan, tentu akan merusak habitat alam. Contoh: orang menebang pohon di hutan tanpa perhitungan, akibatnya banyak hutan menjadi gundul atau rusak. Padahal hutan merupakan habitat flora dan fauna, termasuk flora fauna yang dilindungi. Semakin berkurangnya flora dan fauna di Indonesia, tidak terlepas dari sikap masyarakat yang tidak peduli akan kelestarian lingkungan. Masyarakat hanya mau mengambil sumber daya alam, tetapi tidak memperhatikan kelestarian dan kelangsungan hidup penghuninya.

Sebanyak 1.252 jenis tumbuhan Indonesia masuk dalam daftar merah sebagai jenis flora yang akan punah. Adapun kriteria penetapan daftar merah adalah kritis, genting, rawan, hampir terancam, dan kurang mendapatkan perhatian (Herliyanto, 2019). Jenis tanaman yang kritis akan habis antara lain adalah tengkawang, plajlar, dan ulir.


Sama dengan berbagai tanaman langka yang perlu dilestarikan, beberapa jenis fauna juga perlu dilestarikan karena beberapa fauna hampir dan sudah langka. Kelangkaan berbagai jenis hewan terutama terjadi karena sikap manusia yang memburu dan memanfaatkannya tanpa memperhatikan kelestarian habitatnya. Jika perburuan hewan langka berlangsung tanpa ada sanksi yang tegas dari pemerintah, maka sangat mungkin jika hewan langka itu menjadi punah. Sebagai contoh saat ini harimau Sumatera populasinya diperkirakan kurang dari 400 ekor (DLHK DIY, 2019), dan setiap bulannya tidak kurang 14 ekor mati terbunuh oleh pemburu yang hanya ingin memperoleh keuntungan dari penjualan hewan buruannya. Memang kulit harimau dapat dijual dengan harga yang mahal untuk dijadikan hiasan rumah. Tetapi jika ini dibiarkan terus menerus, maka harimau Sumatra akan punah dan hanya tinggal cerita bagi anak cucu kita.

 


Gambar 2.10. Badak Bercula Satu 

Sumber:freepik.com/lifeomshite (2021)


Belum lagi satwa-satwa lainnya yang juga semakin punah karena ulah pemburu yang serakah. Saat ini, badak bercula satu yang dilindungi di Ujung Kulon berjumlah sekitar 50 ekor. Jika kita tidak melindungi dan berupaya untuk mengembangbiakkannya, maka tamatlah cerita tentang badak bercula satu yang menjadi andalan suaka margasatwa di Ujung Kulon. Demikian juga pesut Mahakam yang hanya berjumlah sekitar 50 ekor. Pesut Mahakam yang menjadi daya tarik wisatawan asing akan menghilang tanpa ada generasi pengganti. Sebagai akibatnya, wisata menyaksikan pesut Mahakam pun tidak akan ada lagi.

Ayo Berpikir Kritis


Jumlah gajah endemik Kalimantan tinggal tersisa sedikit. Jumlah fauna tersebut diperkirakan hanya 30-80 ekor saja. International Union for Conservation of Nature (IUCN) pun menetapkan gajah Kalimantan dalam status spesies yang terancam punah atau genting. Meskipun populasinya tinggal sedikit, keberadaan gajah tersebut tetap berarti bagi keanekaragaman hayati Indonesia. Penyebab utama menurunnya populasi fauna tersebut adalah habitatnya yang semakin berkurang atau menyempit. Selain itu, sikap dan perilaku manusia yang kurang bersahabat dan memburu fauna tersebut.

Bentuklah kelompok berpasangan dengan temanmu. Kemudian lakukan diskusi untuk menjawab pertanyaan berikut.
  1. Apa sebenarnya permasalahan yang disajikan dalam artikel tersebut?
  2. Faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya masalah tersebut?
  3. Lengkapi argumentasi kalian dengan data yang dapat kalian gali dari berbagai sumber, baik offline maupun online.
  4. Buatlah kesimpulan secara induktif berdasarkan telaah yang telah kalian lakukan!

Kamis, 10 Agustus 2023

BAB II. POTENSI SUMBER DAYA ALAM INDONESIA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEHIDUPAN

 A. Pengertian dan Klasifikasi Sumber Daya Alam 


1. Pengertian Sumber Daya Alam 


Ketersediaan sumber daya alam berhubungan dengan kemajuan suatu negara. Segala potensi benda mati dan makhluk hidup yang mendukung kelangsungan hidup manusia dalam mencukupi kebutuhannya disebut sumber daya alam. Selain itu, sumber daya alam juga berarti seluruh unsur lingkungan hidup yang membentuk kesatuan ekosistem meliputi sumber daya hayati dan nonhayati (UU RI No. 32/2009). Sumber daya alam merupakan bagian dari lingkungan fisik yang memiliki banyak manfaat. Namun pemanfaatan ini juga didasarkan pada kemampuan manusia dalam mengolah dan memanfaatkan potensi sumber daya alam tersebut. Semakin tinggi kualitas sumber daya manusia, maka semakin tinggi pula pemanfaatan potensi alam secara arif dan bijak sehingga potensi alam akan bermanfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat. Sumber daya alam memiliki nilai yang berbeda-beda. Nilai yang dimiliki dari setiap sumber daya akan menentukan tingkat pentingnya keberadaan sumber daya tersebut. 



  1. Nilai hukum sumber daya alam. Nilai ini meliputi adanya keterkaitan undang-undang atau peraturan dalam pemanfaatan sumber daya alam yang ada. Nilai ini dijadikan acuan dalam perlindungan sumber daya alam sehingga aspek hukum dapat berlaku.
  2. Nilai etika sumber daya alam. Nilai ini berkaitan dengan kegiatan-kegiatan dalam pelestarian sumber daya alam yang ada. Kegiatan ini untuk mendukung kehidupan generasi mendatang. Nilai ini dijadikan acuan dalam menjaga ketersediaan dan keberlangsungan sumber daya alam.
  3. Nilai ekonomi sumber daya alam. Nilai ini berarti sumber daya alam memiliki potensi ekonomi yang dapat diperdagangkan. Dengan nilai ini maka dapat dijadikan acuan dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Contohnya yaitu produk perkebunan, mineral, dan pertanian.
  4. Nilai estetika sumber daya alam. Nilai ini berarti perilaku menghargai dengan adanya keindahan sumber daya alam yang ada. Contohnya yaitu pemandangan pegunungan, pantai, hutan, air terjun, laut, dan danau.

2. Klasifikasi Sumber Daya Alam 


Keberadaan sumber daya alam sangat bermanfaat dalam meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Sumber daya alam akan membentuk lingkungan yang mendukung keberlangsungan hidup manusia dan pembangunan. Keberadaan tanah, udara, air, hutan, mineral, dan sumber daya alam lainnya sangat mendukung kegiatan pengembangan dalam bidang pertanian, perikanan, industri, perdagangan, dan lain-lain. Sumber daya alam dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis. Klasifikasi tersebut berdasarkan jenis, sifat, dan potensinya.


a. Sumber Daya Alam Berdasarkan Jenisnya


Sumber daya alam berdasarkan jenisnya dibagi menjadi dua. Sumber daya ini meliputi sumber daya alam nonhayati (abiotik) dan hayati (biotik). Uraian sumber daya alam tersebut sebagai berikut ini:


1) Sumber Daya Alam Non Hayati (Abiotik)


Sumber daya alam fisik yang berbentuk benda mati di lingkungan kita disebut sumber daya alam abiotik. Contoh sumber daya ini meliputi mineral, batuan, udara, air, dan tanah. Jenis sumber daya alam ini dibagi menjadi dua yaitu yaitu dapat diperbarui (air dan udara) dan tidak dapat diperbarui (mineral). Indonesia memiliki potensi sumber daya alam abiotik ini, sehingga memerlukan dukungan dari berbagai pihak.

Energi air merupakan salah satu sumber daya alam abiotik yang dapat dimanfaatkan. Sumber energi ini didapatkan dengan memanfaatkan energi potensial dan energi kinetik yang dimiliki air. Saat ini, sekitar 20% konsumsi listrik dunia dipenuhi dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Di Indonesia terdapat puluhan PLTA, seperti PLTA Singkarak (Sumatra Barat), PLTA Gajah Mungkur (Jawa Tengah), PLTA Karangkates (Jawa Timur), PLTA Riam Kanan (Kalimantan Selatan), dan PLTA Larona (Sulawesi Selatan). 


2) Sumber Daya Alam Hayati (Biotik)


Sumber daya alam ini berupa makhluk hidup (tumbuhan dan hewan). Contoh: tanaman pertanian, hewan liar, pakan ternak, hutan, dan hewan peliharaan. Sumber daya alam ini sangat berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan manusia sehari-hari. Sumber daya alam hayati dapat terus meregenerasi dan memproduksi selama kondisi lingkungan tetap baik dan menguntungkan. Ini yang menyebabkan sumber daya hayati (biotik) termasuk pada renewable resources.

Salah satu pemanfaatan sumber daya alam biotik adalah biomassa. Biomassa adalah jenis energi biotik yang terbarukan yang mengacu pada bahan biologis yang berasal dari organisme yang hidup atau belum lama mati. Sumber biomassa antara lain bahan bakar kayu, limbah dan alkohol. Pembangkit listrik biomassa di Indonesia seperti PLTBM Pulubala di Gorontalo yang memanfaatkan bonggol jagung.


b. Sumber Daya Alam Berdasarkan Sifatnya


Jenis sumber daya alam ini terdiri dari dua bagian yaitu sumber daya alam dapat diperbarui (renewable resources) dan tidak dapat diperbarui (unrenewable resources). Uraian sumber daya alam tersebut sebagai berikut.


1) Sumber Daya Alam dapat Diperbarui (Renewable Resources) 


Jenis sumber daya alam ini memiliki kemampuan untuk regenerasi (pemulihan). Sumber daya alam yang ketika persediaannya habis, maka dengan periode waktu yang singkat dapat diproduksi kembali melalui proses mekanis, kimia, maupun fisik disebut sumber daya alam dapat diperbarui. 


Sumber daya alam ini dapat dibagi menjadi abiotik (air, energi matahari, dan angin) dan biotik (hewan dan tumbuhan). Dalam keadaan normal, renewable resources tidak pernah habis. Sumber daya alam abiotik juga disebut dengan sumber daya yang tidak habis dipakai (inexhaustible resources). Sumber daya alam yang dapat diperbarui memiliki kapasitas untuk memproduksi dan memperbarui diri dalam kurun waktu tertentu. Namun perlu diperhatikan, kondisi ini bergantung pada seberapa cepat dan banyak orang yang menggunakannya. 


Potensi sumber daya alam ini yaitu energi bayu yang berarti sumber energi terbarukan yang dihasilkan oleh angin diubah menjadi energi kinetik atau listrik. Pemanfaatan energi angin menjadi listrik di Indonesia telah dilakukan seperti pada Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLT Bayu) Samas di Bantul, Yogyakarta. Selanjutnya ada di Kampung Bungin, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Desa ini merupakan wilayah yang jauh dari pusat kota dan berada di pesisir pantai Laut Jawa. Akses yang cukup sulit dan memakan waktu lama membuat desa itu sering mengalami pemadaman listrik dalam waktu cukup lama. Desa Pantai Bakti memiliki potensi yang tidak dimiliki daerah lain. Kampung Bungin memiliki sumber angin yang banyak dan belum termanfaatkan. Sebagai contoh Pembangunan turbin angin dan instalasi penyaluran energi listriknya di Timor Tengah Selatan yang memanfaatkan angin di wilayah mereka supaya bisa membuat masyarakat sekitar menjadi produktif. (research.eng.ui.ac.id).


Gambar 1.13. Sinar Matahari dan Tumbuhan Merupakan Sumber Daya Alam Dapat Diperbarui 

Sumber: freepik.com/jannoon028/photobeps (2021)


2) Sumber Daya Alam Tidak Dapat Diperbarui (Unrenewable Resources) 


Sumber daya alam tidak dapat diperbarui (tak terbarukan) adalah sumber daya alam yang akan habis dan tidak tersedia lagi setelah dikonsumsi atau dipakai selama kurun waktu tertentu. Sumber daya alam ini tersedia dalam jumlah yang terbatas. Unrenewable Resources tidak dapat diproduksi ulang dengan mudah. Contoh: bahan bakar fosil (batu bara, gas alam, minyak bumi), mineral (logam dan non logam), dan bahan bakar nuklir (uranium). Namun Unrenewable Resources dapat didaur ulang (berarti dapat digunakan berulang kali). Contoh logam (seng, aluminium, dan timbal), mineral non logam (berlian), dan bahan berasal dari bahan bakar fosil (plastik). 


Sumber daya alam Unrenewable Resources telah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup penduduk. Pemanfaatan batu bara untuk pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di mulut tambang. Industri minyakbumi Indonesia meliputi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pertamina, Total, ConocoPhillips, PetroChina, CNOOC, Medco, BP, Kodeco, dan Exxon Mobil. Fasilitas pemurnian bauksit yang menghasilkan alumina di PT Well Harvest Winning di Ketapang, Kalimantan Barat.

Gambar 1.14. Batu Bara Merupakan Sumber Daya Alam Tidak Dapat Diperbarui

Sumber: freepik.com/dashu83 (2021)


c. Sumber Daya Alam Berdasarkan Potensinya 


Jenis sumber daya alam ini terdiri dari tiga bagian yaitu sumber daya alam materi, energi, dan ruang. Masing-masing jenis tersebut diuraikan di bawah ini. 


1) Sumber Daya Alam Materi. 


Sumber daya yang dapat dimanfaatkan bentuk fisiknya seperti kayu, emas, besi, dan batu disebut sumber daya alam materi. Potensi Indonesia yang kaya bijih besi disebabkan oleh struktur geologi yang dimiliki Indonesia yang sangat kompleks. Sumber daya bijih besi yang tersebar di tiap Provinsi Indonesia mencapai 1 miliar ton (kurang lebih 0,49% dari total sumber daya dunia). 


2) Sumber Daya Alam Energi. 


Sumber daya yang dimanfaatkan energinya seperti energi pasang surut, sinar matahari, gas bumi, dan minyak bumi. Salah satu pemanfaatan sumber daya alam energi ini adalah matahari. Energi matahari merupakan energi terbarukan yang bersumber dari radiasi sinar dan panas yang dipancarkan matahari. Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang terdapat di Indonesia antara lain: PLTS Karangasem (Bali), PLTS Raijua, PLTS Nule, dan PLTS Solor Barat (NTT) 


3) Sumber Daya Alam Ruang. 


Sumber daya alam ini adalah sumber daya yang berbentuk ruang. Sumber daya alam ini digunakan untuk tempat tinggal dan beraktivitas manusia. Contohnya yaitu lahan/tanah.

Gambar 1.15. Tanah dan Lanskap Merupakan Contoh Sumber Daya Alam Ruang 

Sumber: freepik.com/wirestock (2021) 


B. Potensi dan Sebaran Sumber Daya Alam Indonesia 


Indonesia merupakan negara yang kaya sumber daya alam. Keberadaan sumber daya alam menjadi kunci dalam pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Kekayaan sumber daya alam dijadikan modal terpenting dalam menyejahterakan masyarakat dan memajukan suatu negara. Kemampuan sumber daya alam untuk dapat dikembangkan dalam pemenuhan kebutuhan dan kelangsungan hidup manusia disebut potensi sumber daya alam. Kehutanan, pariwisata, tambang, dan kelautan merupakan potensi yang dikembangkan di Indonesia. 


1. Potensi Sumber Daya Alam Indonesia 


a. Kehutanan 


Indonesia memiliki berbagai jenis hutan, seperti hutan sabana, hutan lumut, hutan hujan tropis, hutan hujan pegunungan, hutan mangrove, hutan musim, dan lainnya. Keseluruhan hutan yang ada memiliki peran pada kehidupan masyarakat Indonesia. Manfaat hutan salah satunya pada hutan tropis yaitu mampu menjaga keberlangsungan hidup berbagai jenis vegetasi yang memiliki daun lebar. Pada hutan tropis juga terdapat pohon rotan yang memiliki nilai tinggi dan banyak diminati sebagai komoditas ekspor. Hamparan lahan yang luas dalam satu kesatuan ekosistem yang berisi sumber daya hayati disebut hutan. Pepohonan dengan alam lingkungan lainnya dimana satu sama lain tidak bisa dipisahkan merupakan bagian utama kawasan hutan (PP No. 23/2021; UU RI No. 41/1999). Pada tahun 2015, kawasan hutan di Indonesia tercatat sejumlah 120.773.441,71 ha. Papua merupakan daerah yang memiliki hutan terluas di negara Indonesia. Berikut ini uraian jenis hutan yang ada di Indonesia. 


1) Hutan Hujan Tropis. 


Hutan yang di dalamnya terdapat berbagai variasi tumbuhan dan memiliki kerapatan yang tinggi disebut hutan hujan tropis. Sinar matahari tidak bisa mencapai permukaan tanah dan memiliki suhu bulanan >18oC. Daerah yang memiliki hutan ini memiliki curah hujan tahunan minimum sebesar 1.750 mm – 2.000 mm. Hutan ini berada pada daerah kering, dataran rendah hingga ketinggian 1.200 mdpl, tanah subur, dan memiliki jumlah bulan kering < 2 per tahun. Tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua. 


2) Hutan Musim (Monsun). 


Hutan campuran pada daerah yang memiliki curah hujan tahunan 1.500 – 4.000 per tahun disebut hutan musim. Jumlah bulan kering berkisar 4-6 per tahun. Pada musim kering, pohon yang ada di hutan musim beradaptasi dengan menggugurkan daunnya (mengurangi penguapan) agar dapat tetap hidup dan berkembang. Jenis pohon ini meliputi Jati, Kesambi, Bilang, Bungut, dan Dlingsem. Hutan ini tersebar di wilayah Indonesia bagian tengah yaitu Jawa dan Nusa Tenggara. 


3) Hutan Hujan Pegunungan. 


Hutan ini memiliki pohon-pohon yang senantiasa hijau dan tidak pernah menggugurkan daunnya. Selain itu, hutan ini memiliki kerapatan tumbuhan yang tinggi. Contohnya rasamala, pinus, damar, dan jemuju. Jenis hutan ini terdiri dari tiga bagian subzona, yaitu submontana (1.000 – 1.500 mdpl), montana (1.500 – 2.400 mdpl), dan subalpin (> 2.400 mdpl). Hutan ini ada di Sumatera, Sulawesi, Papua, dan Kalimantan.  


4) Hutan Sabana. 


Hutan dengan mayoritas tumbuhannya berupa semak belukar dan diselingi padang rumput dan tanaman berduri disebut hutan sabana. Tumbuhan yang tumbuh di hutan ini mampu tumbuh meskipun dengan curah hujan yang rendah (<1.200 mm/tahun). Kemampuan tersebut dapat ada dikarenakan tubuh tumbuhan dapat menyimpan air. Contohnya Leguminosae, Caesalpinia, Euphorbiaceae, dan kaktus. Hutan sabana ada di Flores, Timor, dan Sumba. 


5) Hutan Rawa. 


Hutan yang ditumbuhi pohon berakar lutut dengan tunas yang selalu terendam dan memiliki tanah aluvial yang tergenang air tawar disebut hutan rawa. Pohon di hutan rawa memiliki tajuk berlapis yang mencapai ketinggian 50 hingga 60 m. Contoh tumbuhannya seperti pohon jelutung, rengas, resak, serta ramin. Hutan ini ada di sepanjang pantai timur Papua, Kalimantan, dan Sumatra. 


6) Hutan Mangrove/pantai/pasang surut/payau/bakau. 


Formasi hutan khas tropika adalah jenis hutan ini. Hutan mangrove terdapat di pantai berlumpur, sedikit berpasir, dan tenang. Pohon yang mendominasi pada hutan ini yaitu bakau. Tersebar di pantai Sumatra, Papua, Jawa, Bali, Maluku, dan Kalimantan.


7) Hutan Gambut. 


Daerah beriklim tipe A dan B yang memiliki tanah organosol atau histosol banyak ditumbuhi hutan gambut. Hutan jenis ini memiliki pH rata-rata 3,5 – 4,0 dan selalu digenangi air tawar secara periodik. Hutan ini tumbuh di tumpukan bahan organik dan keberlangsungan hidupnya tergantung pada hujan. Hutan ini tersebar di Kalimantan Barat, Papua, Riau (Sumatra), dan Kalimantan Tengah. 


8) Hutan Lumut


Banyaknya lumut yang tumbuh menutupi muka tanah dan batang pohon disebut hutan lumut. Hutan ini ada pada daerah dengan ketinggian >1.000 mdpl, seperti di wilayah Papua, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Sumatra. Berdasarkan UU No.41 tahun 1999, fungsi hutan di Indonesia terbagi menjadi 3 jenis, yaitu hutan produksi, hutan konservasi, dan hutan lindung. Hutan produksi merupakan kawasan hutan yang mempunya fungsi untuk memproduksi hasil hutan seperti kayu, rotan, dan gaharu (Golar et al., n.d.). Sedangkan hutan yang memiliki fungsi utama pengawetan/pemeliharaan keanekaragaman flora dan fauna beserta ekosistemnya disebut hutan konservasi (Safe’i et al., 2018). Selanjutnya hutan yang memiliki fungsi pokok sebagai sistem penyangga kehidupan yang mengatur kesuburan tanah, menjaga tata air, mencegah banjir, mencegah intrusi air laut, dan mengendalikan erosi disebut hutan lindung (Haryani & Rijanta, 2019).  

Keberadaan ketiga jenis hutan sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia, hewan, tumbuhan, serta ekosistem.


Untuk menambah dan memperdalam wawasan kalian tentang kekayaan hutan Indonesia, silahkan scan kode QR di samping atau klik tautan ini.


b. Kelautan 


Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan sebutan negara maritim. Wilayah Indonesia sebagian besar berupa perairan dengan luas laut 5,9 juta km2. Indonesia juga negara nomor dua dengan garis pantai terpanjang yaitu 95.161 km setelah Kanada (Arianto, 2020). Oleh karena itu, Indonesia juga memiliki sumber daya kelautan yang melimpah. Indonesia memiliki laut yang luas dan potensi yang tinggi. Hal ini meliputi hutan mangrove (4,25 juta ha atau 19% dari luas hutan mangrove dunia), terumbu karang (18% dari luas terumbu karang dunia), dan padang lamun. 


Gambar 1.16. Infografis Potensi Kemaritiman Indonesia 

Sumber: aktual.com/Nelson (2015) 


Potensi sumber daya kelautan indonesia terbagi menjadi dua, yaitu potensi SDA kelautan yang dapat diperbarui dan tidak dapat diperbarui. Potensi SDA kelautan yang dapat diperbarui (renewable resource) terdiri atas potensi kelautan, hutan mangrove, dan potensi bioteknologi. Potensi SDA kelautan yang tidak dapat diperbarui seperti tambang dasar laut berupa aluminium, mangan, tembaga, dan sebagainya. 


1) Potensi Hutan Mangrove 


Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di sepanjang pantai (estuari) pada daerah tropis yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove bermanfaat dalam segi fisik, penguatan ekonomi, dan biologis. Dalam segi fisik, hutan mangrove dapat mencegah erosi, abrasi air laut, mengolah limbah beracun, dan lainnya. Sedangkan secara ekonomi, hutan ini dapat dijadikan sebagai sumber penghasil kayu, tempat wisata, bahan bangunan dan lainnya. Secara biologis, dapat dijadikan sebagai sumber plasma nutfah, tempat pemijahan dan perkembangbiakan ikan, kerang, kepiting, dan perkembangbiakan satwa burung, dan lainnya. 


2) Potensi Perikanan 


Potensi SDA yang dapat diperbaharui berupa potensi perikanan tersebar di seluruh pesisir di wilayah Indonesia. Potensi yang tinggi ini baik dari jenis keanekaragamannya hingga jumlahnya. Hampir seluruh wilayah di Indonesia memiliki potensi perikanan pelagis. Jenis ikan pelagis besar, tuna, dan cakalang banyak ditemukan di Indonesia bagian timur. Jenis ikan pelagis kecil banyak ditemukan di Indonesia bagian timur. Selain jenis ikan tersebut, ikan bandeng dan udang merupakan jenis ikan yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat pesisir Indonesia. 


3) Potensi Lamun 


Lamun merupakan tumbuhan yang sepenuhnya sudah beradaptasi dengan terendamnya air laut. Lamun ini dapat mencapai kedalaman empat meter. Pantai dengan lumpur, pecahan kerang, kerikil, dan pasir merupakan daerah tumbuhnya lamun. Selain itu, daerah pasang surut juga menjadi daerah tempat tumbuhnya lamun. Seiring waktu berjalan, pertumbuhan dan perkembangan lamun akan membentuk seperti padang. Keberadaan lamun bermanfaat sebagai tempat habitat biota, pendaur zat hara, dan penangkap sedimen. 


4) Terumbu Karang 


Bangunan kapur yang diciptakan oleh jasad hidup seperti alga berkapur dan karang batu disebut terumbu karang. Keberadaan sumber daya alam ini sangat penting untuk mendukung keberlangsungan hidup manusia. Kebermanfaatan ini meliputi sebagai objek wisata, pelindung fisik pantai (menahan dan memecah gelombang air laut), dan sumber daya hayati (menghasilkan alga, udang karang, teripang, dan kerang mutiara). Terumbu karang terluas di dunia ada di negara Indonesia. Kekayaan ini meliputi keragaman hayati di dalamnya dan jumlah luas terumbu karangnya. Keragaman hayati pada terumbu karang Indonesia juga merupakan kekayaan tertinggi di dunia. Keragaman hayati ini meliputi karang sebanyak 590 jenis, mollusca sebanyak 2500 jenis, udang-udangan sebanyak 1500 jenis, dan ikan sebanyak 2500 jenis.

Gambar 1.17. Terumbu Karang Raja Ampat 

Sumber: freepik.com/ig-greeg (2020) 


Terumbu karang memiliki berbagai manfaat dari segi sosial-ekonomi, ekonomi, dan ekologis. Terumbu karang yang dijadikan sebagai sumber penghasilan bagi nelayan merupakan manfaat secara sosial-ekonomi. Pemanfaatan terumbu karang sebagai benteng pelindung daerah pesisir dan pencegahan abrasi dari gelombang laut merupakan manfaat dari segi ekologis. Selain itu, terumbu karang juga memiliki manfaat ekonomi secara khusus yaitu dimanfaatkan sebagai destinasi wisata bahari, obat-obatan, dan dijadikan sebagai sumber makanan. Terumbu karang tersebar di Indonesia bagian tengah dan timur meliputi Papua, Sulawesi, Lombok, dan Bali. Selain itu, terumbu karang juga dapat ditemui di pantai barat dan ujung Sumatra, serta di Kepulauan Riau. 


c. Pariwisata


Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan dengan berbagai suku, bahasa, ras, budaya, agama, dan berbagai macam keindahan alam yang dapat dijumpai. Keberagaman yang ada di Indonesia menjadikan Indonesia menjadi salah satu negara yang kaya akan budaya (Rahma, 2020). Dengan keberagaman yang ada Indonesia menjadi negara dengan tujuan pariwisata setiap tahunnya. 


Sumber daya yang ada di Indonesia sangat mendukung untuk pengembangan pariwisata. Sumber daya di Indonesia sangat beragam seperti sumber daya alam, budaya, kuliner dan kekayaan yang ada di tanah air lainnya (Destiana & Astuti, 2019). Sumber daya inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Sektor pariwisata merupakan sektor yang menjanjikan dalam mendatangkan devisa dan menciptakan lapangan kerja. Pariwisata adalah segala aktivitas wisata yang didukung dengan sarana prasarana untuk kepentingan hiburan atau kepentingan pribadi lainnya. Pariwisata juga berarti rangkaian kegiatan wisata yang didukung fasilitas dan layanan dari masyarakat, pengusaha, dan pemerintah (UU No. 10/2009). Sedangkan kegiatan perjalanan yang bertujuan untuk pengembangan diri, perluasan pengetahuan, rekreasi, dan proses belajar dalam jangka waktu tertentu mengenai destinasi wisata yang dilakukan seorang atau kelompok tertentu disebut wisata. Potensi pariwisata Indonesia diuraikan di bawah ini. 

  • Wisata alam. Kegiatan rekreasi yang memanfaatkan keberadaan sumber daya alam secara alami maupun dengan budi daya disebut wisata alam. Keunikan dan keragaman kondisi alam menjadi daya tarik utama dalam wisata ini. Wisata ini dapat menimbulkan kecintaan terhadap alam. Contoh dari wisata ini yaitu wisata petualangan, bahari, dan ekowisata.
  • Wisata budaya. Kegiatan rekreasi dengan tujuan untuk memperkaya dan perluasan sudut pandang hidup manusia tentang budaya, adat istiadat, keadaan rakyat, perilaku, dan kebiasaan disebut wisata budaya. Wisata ini meliputi wisata sejarah (situs purbakala dan candi), kuliner, wisata kota/ desa, dan warisan budaya lainnya.
  • Wisata buatan. Kegiatan rekreasi dengan tujuan, cara, upaya, aktivitas, dan pengaruh manusia disebut wisata buatan. Ini berkaitan dengan hasil kreasi manusia. Wisata ini mencakup wisata olahraga, taman hiburan, pameran karya, dan lainnya.

Ketiga wisata di atas memiliki keterkaitan satu sama lain. Ketiga jenis wisata ini tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Pembangunan destinasi wisata Indonesia terdiri dari dua perwilayahan (PP No. 50/2011) sebagai berikut: 

  • Lima puluh destinasi pariwisata nasional (DPN) ditetapkan ada pada 34 provinsi di Indonesia
  • Delapan puluh kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) yang tersebar pada 50 DPN. Kawasan strategis pariwisata nasional adalah kawasan yang memiliki fungsi utama sebagai wilayah pariwisata atau memiliki potensi dalam pengembangan pariwisata nasional. KSPN memiliki potensi dengan memberikan pengaruh baik kepada dua atau lebih aspek lainnya. Aspek tersebut meliputi budaya, pertumbuhan ekonomi, daya dukung lingkungan, keamanan, dan pertahanan.

d. Tambang 


Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak dalam kawasan “Ring of Fire”. Posisi Indonesia yang terletak di pertemuan Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik menjadikan Indonesia memiliki banyak gunung berapi (Utomo & Purba, 2019). Magma yang keluar dari perut bumi pada wilayah “Ring of Fire” mengandung berbagai logam berharga (Sunan & Pratomo, 2020). Oleh karena itu, Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi bahan tambang yang melimpah. 

Gambar 1.18. Indonesia sebagai Salah Satu Negara Kawasan Ring of Fire 

Sumber: commons.wikimedia.org/2009 


Pertambangan adalah kegiatan pengambilan endapan bahan galian berharga dan bernilai ekonomis dari dalam kulit bumi, baik secara mekanis maupun manual yang terletak di permukaan, di bawah permukaan bumi, dan di bawah permukaan air. Pertambangan menurut UU No.4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara merupakan tahapan kegiatan penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batu bara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan, dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan serta kegiatan pasca tambang (Al Habsi & Trianda, 2020). Oleh karena itu, sumber daya tambang merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat menguntungkan bagi negara. Bahan tambang terbagi menjadi 3 golongan, yaitu golongan A, B, dan C. Hal tersebut sesuai dengan isi UU No.4 Tahun 2009. Bahan galian A merupakan bahan strategis yang berfungsi untuk pertahanan, keamanan, dan perekonomian negara seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam (Lutfi et al., 2019). Bahan galian B merupakan bahan vital karena untuk menjamin kepentingan hidup orang banyak seperti besi, mangan, tembaga, dsb (Arianto, 2020). Bahan galian C merupakan bahan yang tidak termasuk dalam bahan galian A dan B, serta mudah untuk didapatkan seperti marmer, pasir, pasir kuarsa, dsb (Al Habsi & Trianda, 2020). Berdasarkan wujudnya, barang tambang dibedakan menjadi tiga, yaitu padat, cair, dan gas. Barang tambang berwujud padat seperti batu bara, nikel, bijih besi, dan bauksit. Minyak bumi merupakan barang tambang berwujud cair, dan gas bumi merupakan contoh dari barang tambang berwujud gas. 


1) Minyak bumi 


Minyak bumi dan gas bumi merupakan sumber energi yang banyak digunakan untuk keperluan industri, transportasi, dan rumah tangga. Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) menyatakan cadangan minyak mentah akan bertahan untuk sekitar 23 tahun. Kebanyakan produksi minyak di Indonesia dilaksanakan oleh para kontraktor asing menggunakan pengaturan kontrak pembagian produksi. Chevron Pacific Indonesia, anak perusahaan Chevron Corporation adalah produsen minyak mentah terbesar di negara ini, berkontribusi sekitar 40% dari produksi nasional. Pemain-pemain besar lainnya di industri minyak Indonesia adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pertamina, Total, ConocoPhillips, PetroChina, CNOOC, Medco, BP, Kodeco, dan Exxon Mobil. Ladang Minyak Banyu Urip di Jawa Timur, bagian dari Blok Cepu, memiliki cadangan minyak terbesar (mengandung sekitar 450 juta barel minyak) yang belum dieksploitasi dan dapat berkontribusi secara signifikan untuk volume produksi minyak Indonesia. Proyek yang dikelola Exxon Mobil dan Pertamina ini, dengan kepemilikan saham masing-masing 45% (melalui anak-anak perusahaannya Mobil Cepu dan Pertamina EP Cepu), mulai beroperasi di 2015. Produksi diperkirakan untuk mencapai tingkat puncak pada 165.000 barel per hari di 2016. Selanjutnya Ladang Minyak Bukit Tua (bagian dari Blok Ketapang di Jawa Timur, dioperasikan oleh Petronas Carigali) mulai beroperasi di bulan Maret 2015 dan produksi mungkin meningkat menjadi 20.000 barel per hari pada akhir 2015. (indonesia-investments.com) 


2) Batu bara 


Batu bara digunakan sebagai sumber energi untuk berbagai keperluan. Energi yang dihasilkan batu bara dapat digunakan untuk pembangkit listrik, untuk keperluan rumah tangga (memasak), pembakaran pada industri batu bata atau genteng, dan sebagainya. Indonesia merupakan salah satu negara produsen dan pemilik cadangan batu bara terbesar dunia. Indonesia memiliki cadangan batu bara sebanyak 0,5% dari cadangan batu bara dunia. Akan tetapi pemanfaatan batu bara tersebut masih belum optimal. Sejak tahun 2016, pemanfaatan batu bara domestik masih pada kisaran 20-25% dan selebihnya diperuntukkan bagi ekspor. 


Batu bara menjadi salah satu hasil tambang mineral di Indonesia. Hasil produksi batu bara di Indonesia terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik), produksi barang tambang mineral di tahun 2017 adalah sebanyak 461.087.221 ton, tahun 2018 sebesar 557.983.706 ton, dan tahun 2019 sebanyak 616.154.054 ton. 


Pemerintah berupaya meningkatkan pengembangan dan pemanfaatan batu bara dalam negeri. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara mengamanatkan agar tidak lagi dilakukan ekspor bahan mentah. Pengembangan di sektor mineral dan batubara dimaksudkan sebagai salah satu upaya mengoptimalkan produk hasil pertambangan. 


Terdapat tujuh skema hilirisasi untuk batu bara yang disiapkan pemerintah, mulai dari peningkatan mutu batu bara, pembuatan briket, pembuatan kokas, pencairan batubara, gasifikasi batu bara termasuk underground coal gasification, dan campuran batubara-air. Selain itu, UndangUndang tersebut juga mengamanatkan pemanfaatan batu bara. Salah satunya pemanfaatan secara mandiri oleh pemegang izin usaha pertambangan untuk pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di mulut tambang. (apbi-icma.org) 


Salah satu perusahaan di Indonesia yang akan menerapkan proses hilirisasi batubara ialah PT Bukit Asam Tbk. Dalam pembangunanya, PT Bukit Asam Tbk bekerjasama dengan PT Pertamina dan Air Products and Chemicals, Inc. (USA) sebagai investor. PT Bukit Asam Tbk akan melakukan hilirisasi dengan teknologi gasifikasi yang dilakukan di Tanjung Enim, Muara Enim, Sumatera Selatan. 


Melalui proses gasifikasi batu bara akan diubah menjadi dimethyl ether (DME), maka nilai batu bara akan bertambah. Persiapan pembangunan proyek batu bara menjadi DME ini akan dimulai pada awal tahun 2021 dan ditargetkan pabrik beroperasi pada Triwulan-II tahun 2024. DME dapat digunakan sebagai alternatif pengganti LPG yang angka impornya terus meningkat setiap tahun. Dengan adanya proses hilirisasi batubara menjadi DME, diharapkan impor LPG dapat ditekan dan ketahanan energi nasional dapat dipertahankan. 


3) Nikel 


Nikel merupakan suatu logam mengkilap dengan warna putih keperak-perakan. Nikel memiliki beberapa sifat sebagai berikut 

a) keras dan mulus, 

b) bila terkena udara tidak mengalami perubahan, 

c) tahan terhadap oksidasi, 

d) pada suhu ekstrim masih bisa mempertahankan sifat aslinya, dan 

e) banyak digunakan dalam berbagai industri serta aplikasi komersial. 


Indonesia memiliki cadangan nikel yang melimpah. Indonesia memiliki 30% cadangan nikel dunia, yaitu sebesar 21 juta ton yang ditemukan di Halmahera Timur di Maluku Utara, Morowali di Sulawesi Tengah, pulau Obi di Maluku Utara, dan pulau Gag di Kepulauan Raja Ampat. Bijih nikel laterit (limonit dan saprolit) merupakan komoditas umum di industri nikel di Indonesia yang sangat berlimpah. Kondisi ini menjadi alasan dibangunnya industri baterai kendaraan listrik berjenis NCA (nikel kobalt aluminium oksida) dan NMC (nikel mangan kobalt oksida). 


Empat badan usaha milik negara, yaitu PLN, Antam, Inalum, dan Pertamina membentuk Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk mendukung upaya pemerintah meningkatkan nilai tambah komoditas mineral yang lebih strategis. IBC membuka kesempatan bekerja sama untuk proyek sektor hilir berdasarkan profitabilitas. Kerja sama ini mencakup kemampuan akses pasar dan pendanaan untuk mengembangkan produksi mineral dari cadangan perusahaan. Selain itu, IBC juga turut serta dalam upaya hilirisasi nikel dengan membangun smelter feronikel di Halmahera Timur bernama Haltim. Smelter ini memiliki kapasitas produksi 13.500 ton nikel dalam feronikel (TNi) per tahun. (bkpm.go.id) 


4) Bijih besi 


Seperti yang kita ketahui, bijih besi merupakan salah satu unsur yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak jenis besi yang kita temui berasal dari peleburan dan pencampuran antara bijih besi dengan unsur lainya. Bijih besi memiliki beberapa manfaat seperti: bahan baku pembuatan kawat dan besi baja, bahan dasar dalam pembuatan lampu penerangan jalan dan tiang rambu lalu lintas, bahan baku pembuatan besi tempa dan besi tiang, serta bahan pembuatan baja sedang dan lunak. 


Indonesia yang kaya bijih besi ini disebabkan oleh struktur geologi yang dimiliki Indonesia yang sangat kompleks. Sumber daya bijih besi yang tersebar di tiap Provinsi Indonesia mencapai 1 miliar ton (kurang lebih 0,49% dari total sumber daya dunia). Daerah penghasil Bijih Besi di Indonesia dapat dijumpai di Cilacap (Jawa Tengah), Cilegon (Banten), pulau Derawan (Kalimantan Selatan), pulau Sebuku (Kalimantan Selatan), Gunung Tegak (Lampung), Lengkabana (Sulawesi Tengah), Longkana (Sulawesi Tengah), dan Pegunungan Verbeek (Sulawesi Tengah). Penambangan bijih besi skala besardi Indonesia banyak dilakukan di daerah Kalimantan Selatan. Sementara pertambangan skala kecil lainnya banyak dilakukan di daerah Kalimantan Barat, Jambi, Riau, Bangka Belitung, dan Sulawesi Utara. (duniatambang. co.id) 


5) Bauksit 


Bauksit merupakan suatu mineral yang susunannya didominasi oleh oksida aluminium dengan warna kekuningan atau putih. Aluminium tersebut banyak digunakan untuk industri pesawat terbang, onderdil otomotif, dan perkapalan yang banyak menggunakan bauksit secara masif. Kementerian Perindustrian mendorong percepatan industri pemurnian dan pengolahan bauksit menjadi alumina. Salah satu daerah yang mengembangkan industri ini ialah Kalimantan Barat. 


Salah satu fasilitas pemurnian bauksit yang menghasilkan alumina yaitu PT Well Harvest Winning di Ketapang, Kalimantan Barat. Fasilitas pemurnian ini tepatnya berlokasi di Sungai Tengar, Mekar Utama, Kendawangan, Kabupaten Ketapang. Jika menggunakan perjalanan darat dari ibukota Kalbar, Pontianak, mencapai 17 jam atau sekitar 480 km. Ketapang merupakan salah satu dari 14 kawasan industri yang tengah dikembangkan Kemenperin dengan konsentrasi pengolahan alumina. 


Kemenperin menghitung nilai tambah industri bauksit berlipat-lipat dibanding bahan mentah. Kalkulasinya, bijih bauksit sebanyak 6 ton yang sekitar USD 3,85 per ton (nilai penjualan USD 23,1) menghasilkan metallurgical grade bauxite (MGB) sebanyak 3 ton yang harganya USD 38 per ton (nilai penjualan USD 114). (kemenperin.go.id) 


Proses terbentuknya bahan galian, khususnya tambang, sangat beragam dengan waktu yang sangat lama. Bahan tambang umumnya terbentuk ratusan juta tahun yang berasal dari endapan tumbuhan, hewan, serta plankton. Waktu yang diperlukan setiap bahan tambang untuk terbentuk tergantung pada jenis tambang itu sendiri. 


Bahan tambang tergolong dalam sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Oleh sebab itu diperlukan tindakan yang tepat dalam pemanfaatan dan pengelolaannya. Kegiatan pertambangan terdiri atas kegiatan observasi dan eksploitasi di permukaan bumi maupun di daerah litosfer. 


1. Observasi pada kegiatan pertambangan dilakukan dengan pengamatan ke daerah yang secara teoritis diperkirakan memiliki sumber tambang. 


2. Eksplorasi pada kegiatan pertambangan dilakukan dengan penyelidikan terhadap keadaan mineral tambang serta kemungkinannya untuk dimanfaatkan secara ekonomis. Eksplorasi terdiri atas dua macam kegiatan, yakni kegiatan penyelidikan tentang jumlah mineral dan persebarannya, serta keuntungan ekonomisnya jika sudah dikelola, dan penentuan syarat teknis. 


Untuk menambah wawasan kalian tentang proses pertambangan di Indonesia, silahkan scan kode QR di samping atau klik tautan ini.


2. Sebaran Sumber Daya Alam Indonesia 


a. Kehutanan 


Hutan yang ada di Indonesia terbagi menjadi 3 berdasarkan fungsinya, yaitu hutan produksi, hutan konservasi, dan hutan lindung (UU No.41/1999). Keberadaan ketiga hutan tersebut tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Hutan produksi tersebar di wilayah Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, dan Papua (Hardianti & Harudu, 2019). Hutan konservasi tersebar di seluruh pulau di wilayah Indonesia untuk melindungi tumbuhan, hewan langka, beserta ekosistemnya (Suryanto, 2020). Hutan lindung tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Hutan lindung salah satunya ialah Hutan Lindung Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan selatan (Agustina et al., 2020). Keberadaan hutan-hutan tersebut harus tetap dijaga untuk menciptakan lingkungan (alam) yang tetap seimbang. Hutan di Indonesia memiliki banyak jenis. Berdasarkan jenisnya, hutan tersebar di seluruh Indonesia. 

  • Hutan hujan tropis tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua.
  • Hutan musim (monsun) tersebar pada Indonesia bagian tengah yaitu Jawa dan Nusa Tenggara.
  • Hutan hujan pegunungan tersebar di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
  • Hutan sabana tersebar di Sumba, Flores, dan Timor.
  • Hutan rawa yang tersebar di sepanjang pantai timur Papua, Sumatra, dan Kalimantan.
  • Hutan mangrove yang disebut juga dengan hutan payau, hutan pasang surut, h;p2kiutan bakau, atau hutan pantai tersebar di wilayah pantai Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Maluku, dan Papua.
  • Hutan gambut tersebar di Kalimantan Barat, Papua, Riau (Sumatra) dan Kalimantan Tengah. Hutan tersebut rawan akan bencana kebakaran lahan, hal tersebut menjadi salah satu masalah di Indonesia. Lahan gambut di Indonesia dapat menyimpan 57 miliar ton karbon. Saat ini lahan gambut di Indonesia banyak dialihfungsikan menjadi lahan perkebunan sawit sehingga rawan degradasi lahan.
  • Hutan lumut tersebar di daerah dengan ketinggian > 1.000 mdpl yang meliputi wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Keberadaan hutan sangat penting bagi kehidupan manusia.

Gambar 1.22. Persebaran Hutan Gambut 

Sumber: www.pantaugambut.id (2021) 


Keberadaan hutan menjadikan alam terjaga keseimbangannya. Hutan menjadikan proses banjir, erosi, serta sedimentasi menjadi berkurang atau sangat kecil (Suryatmojo, 2006). Kondisi ini terjadi karena faktor akar pada pohon menghambat laju massa air serta tanah ketika banjir, erosi, dan sedimentasi terjadi. Pada sisi lain, keberadaan hutan juga berpengaruh pada perputaran siklus air, baik di dalam tanah maupun di atas tanah (Suryatmojo, 2006). Keberadaan hutan menjadikan air dengan mudah meresap dan tersimpan dalam tanah. Keberadaan hutan di berbagai wilayah Indonesia menjadikan negara kita kaya akan sumberdaya kayu dan non kayu. 


Keberadaan hutan menjadikan indonesia kaya akan jenis kayu-kayuan, seperti rotan, meranti, akasia, jati lokal, jati putih, sengon, dan kemiri (Irundu & Fatmawati, 2019). Pada bidang kesehatan, keberadaan hutan menjadikan Indonesia kaya akan obat-obatan yang tumbuh dengan mudahnya di hutan (Zuhud, 2009). Selain itu, hutan juga menyediakan kebutuhan akan makanan seperti buah-buahan dan bahan makanan seperti sagu (Rahayu et al., 2007). Oleh karena itu, hutan haruslah tetap dijaga karena memberikan banyak manfaat bagi manusia.


Gambar 1.23. Infografis Titik Kebakaran Hutan 2019 


Keberadaan hutan di Indonesia saat ini sangat mengkhawatirkan. Hutan di Indonesia setiap tahun mengalami penurunan luas wilayah. Setiap tahun hutan di Indonesia mengalami kebakaran (Rasyid, 2014). Kebakaran hutan yang terjadi menimbulkan dampak bagi kehidupan manusia seperti meningkatkan emisi gas karbon pada atmosfer, sehingga meningkatkan pemanasan global, mengakibatkan hilangnya habitat satwa, dan memicu bencana alam lain yang lebih besar dampaknya seperti tanah longsor dan banjir (Asteriniah & Sutina, 2018). Penanganan kebakaran di Indonesia dari tahun ke tahun kurang maksimal apabila dibanding dengan negara lain, seperti Amerika (Agustiar et al., 2020). Dengan demikian, perlu menjadi perhatian yang lebih prioritas akan permasalahan kebakaran hutan yang selalu terjadi di Indonesia. 


Ayo Berpikir Kritis


Sumber daya kehutanan merupakan salah satu potensi sumber daya alam di Indonesia. Sumber daya tersebut menyebar luas di pulau Kalimantan. Namun, dalam beberapa dekade belakangan hutan di pulau tersebut mengalami deforestasi. Dampak yang timbul dari fenomena tersebut adalah semakin merosotnya jumlah dan keragaman flora dan fauna, peningkatan karbon, dan banjir yang melanda permukiman penduduk. Berdasarkan artikel di atas jawablah pertanyaan berikut ini: 

  1. Tentukan satu masalah yang teridentifikasi dalam artikel tersebut.
  2. Tunjukkan lokasi masalah tersebut pada peta.
  3. Berikan argumentasi mengapa masalah tersebut kalian pilih.
  4. Apa saja alternatif pemecahan yang dapat kalian kemukakan untuk pemecahan masalah tersebut?
  5. Alternatif pemecahan yang mana yang paling mungkin kalian pilih untuk tindakan pemecahan masalah? Berikan alasannya.

b. Kelautan 


Sebaran sumber daya kelautan di Indonesia didasarkan pada ekoregion. Berikut ini delapan belas ekoregion sebaran potensi kelautan Indonesia. 

  • Sebelah barat Sumatra terdapat ekoregion Samudra Hindia. Ekoregion tersebut terdiri atas empat cekungan sedimen dengan keragaman habitat pesisir laut yang tinggi dan potensi migas, serta sebagai tempat wisata. Wisata bahari ini ada di Pulau Weh, Nias, Mentawai, dan lainnya.
  • Sebelah selatan Jawa terdapat ekoregion Samudra Hindia sebelah selatan Jawa. Ekoregion tersebut terdiri atas dua cekungan sedimen dengan potensi migas, keragaman hayati yang tinggi, dan di Pelabuhan Ratu memiliki air laut dalam (deep sea water). Air laut dalam mempunyai kedalaman laut lebih dari 200 m (permukaan laut tidak dapat ditembus sinar matahari) yang bisa menghasilkan energi angin dan arus.
  • Ekoregion Selat Malaka. Ekoregion tersebut memiliki keragaman hayati, potensi migas, jalur pelayaran internasional, dan wisata bahari. Wisata bahari tersebut yaitu Pulau Bintan.
  • Ekoregion Laut Natuna. Ekoregion ini memiliki tiga cekungan berpotensi migas, memiliki keanekaragaman hayati, dan kekayaan jenis ikan.
  • Ekoregion Selat Karimata. Ekoregion tersebut mempunyai dua cekungan yang berpotensi migas, wisata bahari (Pulau Bangka dan Belitung), tambang timah (Pulau Bangka dan Belitung), dan hutan mangrove yang kondusif (terletak di pesisir Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan).
  • Ekoregion Laut Jawa. Ekoregion ini memiliki tujuh cekungan berpotensi migas, memiliki potensi perikanan yang tinggi, dan memiliki beberapa ekosistem. Ekosistem ini meliputi hutan mangrove, lamun, dan terumbu karang, serta spesies langka dari ikan hiu air tawar.
  • Ekoregion Laut Sulawesi. Pada ekoregion ini terdapat tiga cekungan berpotensi migas dan memiliki potensi perikanan yang cukup tinggi. Pada ekoregion tersebut juga terdapat ikan purba coelacanth dengan nama latin Latimeria menadoensis. Selain itu, keanekaragaman penyu hijau dan karang terbesar di Asia Tenggara berada di ekoregion ini.
  • Ekoregion Selat Makasar. Ekoregion tersebut memiliki empat cekungan berpotensi migas, tempat wisata (Takabonerate dan deep sea water), perikanan (kakap merah dan ikan terbang), dan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi.
  • Ekoregion Perairan Bali dan Nusa Tenggara. Ekoregion ini memiliki enam cekungan berpotensi migas, potensi perikanan, memiliki hutan mangrove, terumbu karang, kawasan konservasi perairan terluas, dan taman nasional, serta pintu keluar bagi arus lintas Indonesia (Terusan Timor dan Selat Lombok).
  • Ekoregion Teluk Tomini (terletak di antara Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara). Terdapat beberapa aktivitas pada ekoregion ini, seperti aktivitas hidrotermal bawah laut, pemijahan Ikan Sidat, biodiversitas endemik, dan potensi perikanan, serta wisata (Pulau Togean).
  • Ekoregion Laut Halmahera. Pada ekoregion ini terdapat lima cekungan berpotensi migas, energi terbarukan (Selat Talibo dan Manguale), pertambangan nikel, keanekaragaman hayati, dan potensi perikanan
  • Ekoregion Laut Banda. Ekoregion ini mempunyai tiga cekungan berpotensi migas, dengan perairan laut dalam yang jernih, memiliki pulau karang, terumbu karang yang unik, dan memiliki potensi perikanan. • Ekoregion Laut Banda di sebelah timur Sulawesi. Pada ekoregion ini terdapat lima cekungan berpotensi migas, memiliki keanekaragaman hayati, biodiversitas endemik, dan potensi perikanan (cumi-cumi dan tuna mata besar).
  • Ekoregion Laut Banda di sebelah selatan Sulawesi dan Teluk Bone. Pada ekoregion tersebut terdapat empat cekungan berpotensi minyak gas, memiliki keanekaragaman hayati karang tertinggi di dunia, potensi perikanan, dan wisata (Takabonerate dan Wakatobi)
  • Ekoregion Laut Seram dan Teluk Bintuni. Ekoregion ini mempunyai empat cekungan berpotensi migas, ekosistem mangrove yang luas (Laut Bintuni), keanekaragaman hayati terumbu karang yang tinggi, potensi perikanan, dan biodiversitas endemik.
  • Ekoregion Samudera Pasifik di utara Papua. Ekoregion tersebut memiliki dua cekungan dengan potensi migas, perikanan seperti udang dan tuna mata besar, terdapat kima (genus kerang terbesar pada perairan laut hangat).
  • Ekoregion Teluk Cendrawasih. Ekoregion ini memiliki cetacea (mamalia laut seperti lumba-lumba dan paus), biodiversitas endemik (hiu paus), potensi wisata, sumber daya migas, dan potensi perikanan.
  • Ekoregion Laut Arafura. Ekoregion ini memiliki tiga cekungan berpotensi migas, budi daya mutiara, potensi perikanan, tempat bertelur dan mencari makan bagi penyu hijau, mangrove (selatan Papua), buaya muara, dan cetacean.

c. Pariwisata 


Seperti yang kita ketahui Indonesia memiliki potensi sumber daya pariwisata. Sumber daya pariwisata tersebar di berbagai wilayah Indonesia. 

  • Sumatra, di daerah ini terdapat pariwisata Taman Nasional Gunung Leuser, Danau Laut Tawar, Rantau Prapat, Danau Toba, Berastagi, Danau Maninjau, Danau Singkarak, Benteng Fort de Kock, Lembah Anai, Danau Ranau, Suaka Alam Way Kambas, dan Benteng Marlborough.
  • Jawa, beberapa pariwisata yang ada di Jawa adalah Gunung Tangkuban Perahu, Maribaya, Pangandaran, Pelabuhan Ratu, Museum Geologi, Taman Mini Indonesia Indah, Ancol, Museum Satria Mandala, Museum Gajah, Monumen Nasional, Kebun Binatang Ragunan, Planetarium, Dataran Tinggi Dieng, Baturaden, Gua Jatijajar, Candi Borobudur, Prambanan, Keraton Jogja, Kotagede, Pantai Parangtritis, Kaliurang, Makam Imogiri, Gunung Bromo-Tengger, Taman Nasional Baluran, dan Pemandian Tretes.
  • Bali, beberapa pariwisata yang ada di Bali adalah Pantai Kuta, Legian, Tanah Lot, Danau Batur, Klungkung, Pura Besakih, Daerah Trunyan, dan berbagai macam kesenian
  • Kalimantan, di wilayah ini terdapat pariwisata seperti Pantai Pasir Panjang, Danau Riam Kanan, Museum Lambung Mangkurat, Istana Kesultanan Sambas, Taman Nasional Tanjung Puting, dan masyarakat Dayak.
  • Nusa Tenggara memiliki beberapa tempat pariwisata yakni Gunung Tambora, Taman laut Gili Air, Taman Nasional Komodo, dan Danau Kelimutu.
  • Sulawesi, beberapa pariwisata di daerah ini adalah Taman Laut Bunaken, Danau Tondano, Tana Toraja, Suaka marga satwa Anoa dan burung Maleo, Masjid tua Palopo, Taman wisata Renboken, dan Pantai Losari.
  • Papua memiliki beberapa tempat wisata seperti Danau Sentani, gugusan pulau Raja Ampat, Pantai Koren, dan hutan


Gambar 1.24. Peta Kawasan Ekonomi Khusus 

Sumber: kek.go.id//Peta-Sebaran-19-KEK-Juli-2021 


d. Tambang 


Indonesia memiliki potensi sumber daya tambang. Sumber daya tambang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. 

  • Minyak bumi dan gas bumi. Sebaran minyak bumi dan gas bumi terdapat di beberapa wilayah, seperti: Sumatra (Lhokseumawe, Riau, Sumatera Selatan), Jawa (Jati, Majalengka, Wonokromo, Cepu, Cilacap), Kalimantan (Tarakan, Balikpapan, Kalimantan Selatan), Maluku (Seram dan Tenggara), Papua (Klamono, Sorong, dan Babo)
  • Batu bara. Batu bara tersebar di Kalimantan dan Sumatra.
  • Nikel merupakan suatu logam yang berkilap dengan ciri berwarna putih keperak-perakan
  • Bijih besi. Bijih besi bisa ditemukan di Cilacap (Jawa Tengah), Sumatra, Lombok, Yogyakarta, Gunung Tegak (Lampung), Pegunungan Verbeek (Sulawesi Selatan), dan pulau Sebuku (Kalimantan Selatan).
  • Bauksit. Cadangan dan potensi endapan bauksit dapat ditemukan di pulau Kalimantan, Kepulauan Bangka Belitung, dan Pulau Bintan (Kepulauan Riau)

Selain barang tambang yang telah disebutkan diatas, masih banyak sumber mineral yang ditemukan di Indonesia. Sebaran mineral strategis di Indonesia dapat dilihat pada peta sebaran bahan tambang Gambar 1.26.


Gambar 1.25. Sebaran Mineral sebagai Potensi Tambang Indonesia 

Sumber: kompasiana.com


Untuk menambah wawasan kalian tentang sebaran SDA di Indonesia, silahkan scan kode QR di samping atau klik tautan ini.


3. Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang Berkelanjutan dan Permasalahannya 


a. Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Berkelanjutan 


Pemanfaatan sumber daya alam memiliki tujuan utama untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat yang tetap memperhatikan keberlangsungan dan kelestarian lingkungan alam. Sumber daya alam memiliki tugas ganda, yaitu sebagai penopang sistem kehidupan dan modal pertumbuhan, serta perkembangan ekonomi. Prinsip yang digunakan untuk menjaga kelestarian SDA dalam periode yang lama yaitu dengan mengedepankan prinsip pemanfaatan SDA berkelanjutan. Prinsip ini dilakukan pada berbagai sektor industri, pariwisata, pertanian, dan pertambangan. Selain itu, prinsip ekoefisien juga akan mendukung keberhasilan pemanfaatan SDA berkelanjutan. Terdapat beberapa undang-undang yang berkaitan dengan pemanfaatan SDA berkelanjutan. Undang-undang ini meliputi 

1) UU NO. 5 Tahun 1960 yang membahas tentang Ketentuan Pokok Agraria, 

2) UU No. 5 Tahun 1967 yang membahas mengenai ketentuan pokok Kehutanan, kemudian digantikan dengan UU No. 41 Tahun 1999 yang membahas mengenai Kehutanan, 

3) UU No. 11 Tahun 1967 yang membahas mengenai ketentuan pokok Pertambangan yang direncanakan akan diganti dalam waktu dekat, 

4) UU No. 11 Tahun 1974 yang membahas mengenai Pengairan. 


1) Kehutanan Berkelanjutan 


Penjagaan sumber daya hutan dan pelestarian lingkungan untuk mencapai keberlangsungan hidup manusia masa sekarang hingga masa depan merupakan tujuan dari kegiatan penghutanan berkelanjutan. Hutan merupakan sumber daya yang penting dan memiliki keterkaitan yang kuat dengan lingkungan hidup secara sosial, budaya, maupun fisik. Kerusakan hutan akan berakibat pada perubahan iklim, kerusakan lingkungan hidup, sungai, danau, atau pantai di sekitarnya. Oleh karena itu, pengelolaan harus dilakukan secara berkelanjutan dan komprehensif.  

Gambar 1.26. Pemanfaatan Hutan Berkelanjutan 

Sumber: freepik.com/lifeonwhite (2021) 


Prinsip pemanfaatan secara bijaksana dan rasional merupakan acuan dalam pengelolaan sumber daya hutan berkelanjutan. Terdapat beberapa hal yang dijadikan acuan dalam pengelolaan hutan berkelanjutan. 


  • Integrasi dalam pembuatan kebijakan terkait bidang ekologi dan ekonomi agar tercipta keselarasan dalam pengelolaan hutan. Hal ini dikarenakan kelestarian lingkungan harus dicapai bersamaan dengan tercapainya kesejahteraan manusia.
  • Pembuatan kebijakan terkait eksploitasi dan pembinaan untuk menekan jumlah produksi sumber daya alam, sehingga dapat berlangsung untuk masa depan dan berkelanjutan.
  • Dilakukan pendekatan multidisiplin untuk integrasi usaha pengelolaan meliputi perencanaan wilayah dan tata guna lahan agar tidak ada benturan kepentingan antar sektor.
  • Aktivitas dalam pengelolaan hutan berkelanjutan ini meliputi kegiatan inventarisasi, perencanaan, implementasi, dan pengawasan.
  • Kebijakan yang mengacu pada pertimbangan keberadaan sumber daya alam dan lingkungan hidup dikarenakan tergolong pada jenis ekosistem kompleks. Dengan demikian, diperlukan tahap perencanaan dan inventarisasi secara terpadu, pembentukan organisasi pelaksana (kelembagaan), dan adanya pengawasan yang baik dan terkoordinir.

2) Pertanian Berkelanjutan 


Peningkatan kualitas kehidupan manusia merupakan tujuan utama dari kegiatan pertanian berkelanjutan. Pencapaian tujuan ini dilakukan dengan berbagai upaya. Upaya yang dapat dilakukan meliputi peningkatan pembangunan ekonomi, pengembangan SDM, penjagaan stabilitas lingkungan alam, dan penempatan prioritas kecukupan pangan dalam pembuatan kebijakan.

Gambar 1.27. Pertanian Berkelanjutan 

Sumber: freepik.com/raybon (2021) 


Terdapat beberapa indikator dalam pertanian berkelanjutan. Indikator tersebut diantaranya adalah pemeliharaan keanekaragaman genetik sistem pertanian, peningkatan siklus hidup biologis, kegiatan produksi dengan jumlah yang memadai dan bermutu, pembudidayaan berbagai jenis tanaman secara alami, pencegahan kegiatan pertanian yang berdampak pada pencemaran, pemeliharaan dan peningkatan kesuburan tanah untuk periode yang panjang. Terdapat beberapa manfaat dari kegiatan pertanian berkelanjutan. 

  • Peningkatan produksi dan penjaminan ketahanan pangan.
  • Produksi pangan berkualitas tinggi dan meminimalisir bahan kimia/ bakteri yang bersifat merusak (membahayakan tanaman).
  • Pencegahan erosi dan memperhatikan kondisi tanah secara berkala sehingga tidak merusak atau mengurangi kesuburannya.
  • Dukungan terhadap kehidupan masyarakat desa dengan membuka kesempatan kerja dan penyediaan penghidupan yang layak.
  • Kegiatan pertanian tidak mengganggu kehidupan masyarakat terutama dalam bidang kesehatan baik petani maupun konsumen.
  • Pelestarian dan peningkatan kualitas lingkungan alam di daerah pertanian dan desa, serta pelestarian SDA dan keanekaragaman hayati yang ada didalamnya.

3) Pertambangan Berkelanjutan 


Kegiatan pertambangan dapat menimbulkan risiko yang tinggi dan berdampak terhadap lingkungan sosial dan fisik. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, kegiatan berkelanjutan merupakan kegiatan yang diawali dengan eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, dan kegiatan pasca tambang. Dalam pengelolaan tambang yang berkelanjutan diperlukan komitmen dari perusahaan terhadap nilai- nilai keberlanjutan dan struktur organisasi manajemen yang memadai. Berikut sepuluh prinsip pengelolaan pertambangan berkelanjutan menurut International Council on Mining and Metals (2003): 

  • pemeliharaan dan pelaksanaan kegiatan dengan ketaatan hukum dan etika bisnis,
  • pertimbangan yang terintegrasi antara proses perumusan kebijakan perusahaan dengan strategi pembangunan berkelanjutan,
  • penghormatan budaya, nilai lokal, adat istiadat dari pekerja dan penegakan hak asasi dasar dalam kegiatan pertambangan,
  • pelaksanaan perbaikan berkelanjutan terhadap kinerja keamanan dan kesehatan,
  • pelaksanaan perbaikan berkelanjutan terhadap kinerja lingkungan, berpedoman dengan kaidah keilmuan dan data yang sah dalam pelaksanaan strategi manajemen risiko,
  • memberikan fasilitas dan dorongan dalam mendesain produk, penggunaanya, penggunaan kembali, pengolahan ulang, dan pembuangan produk yang dipertanggungjawabkan,
  • upaya perbaikan biodiversitas dan pendekatan terpadu dalam rencana tata guna lahan,
  • upaya pembangunan kelembagaan, ekonomi, dan sosial masyarakat sekitar, dan
  • dilakukan perjanjian yang bersifat transparan dan efektif, komunikasi yang teratur, dan pemeriksaan pelaporan perusahaan.

Gambar 1.28. Pertambangan Berkelanjutan 

Sumber: ilmutambang.com 


Penambangan berkelanjutan dilakukan dengan tujuan untuk pemenuhan harapan sosial terhadap lingkungan sekitar. Kegiatan ini dilakukan dengan tahap awal yaitu menetapkan tujuan jangka panjang dan pendek secara berkala (konsisten). Pemaksimalan potensi pertambangan berkelanjutan terdiri dari 3 prioritas. 

  • Melakukan analisis keuntungan maupun dampak ekonomi, kesehatan, sosial, dan lingkungan dalam periode pelaksanaan pertambangan, kesehatan, dan keselamatan para pekerja tambang.
  • Peningkatan partisipasi dari pemangku kepentingan meliputi golongan perempuan, masyarakat lokal, dan adat.
  • Penyediaan dukungan teknis dan pembangunan fasilitas maupun keuangan kepala negara berkembang dan miskin untuk pengembangan praktik pertambangan berkelanjutan.

4) Industri Berkelanjutan 


Kegiatan industri berpengaruh terhadap faktor sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kegiatan industri berpengaruh positif terhadap faktor ekonomi dan sosial. Melalui kegiatan industri, dapat tercipta lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan negara. Sementara itu, dalam faktor lingkungan kegiatan industri memiliki pengaruh yang merugikan yakni pencemaran lingkungan. Industri yang berkelanjutan akan terwujud apabila terdapat kombinasi yang seimbang dari ketiga faktor yang terpengaruh tersebut. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan industri adalah sebagai berikut: 

  • sumber daya alam digunakan secara berkelanjutan, 

  • menjamin kualitas hidup masyarakat lokal di sekitar penambangan, dan 

  • kelangsungan hidup ekologi sistem alami (environmental system) harus dijaga. 

Gambar 1.29. Industri Berkelanjutan 

Sumber: reepik.com/panya8510 (2021) 


Negara berkembang memiliki beberapa hambatan dalam melaksanakan kegiatan industri berkelanjutan. Berikut ialah beberapa hambatan bagi negara berkembang dalam industri berkelanjutan: 

1) pemanfaatan yang belum optimal terhadap melimpahnya potensi sumber daya alam, dan 

2) kurangnya dukungan pemerintah terhadap pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. 


5) Kelautan Berkelanjutan 


Tahun 2003 hasil perikanan laut Indonesia cenderung menunjukkan penurunan jumlah. Diperlukan waktu yang cukup lama untuk memperoleh hasil yang sama dengan tahun- tahun yang sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan semakin menurunya populasi ikan akibat adanya penangkapan ikan-ikan yang masih kecil. Selain itu, ikan dewasa tidak memiliki kesempatan untuk berkembang biak. Oleh sebab itu, diperlukan usaha pengelolaan perikanan di Indonesia yang baik dan benar. Berikut kegiatan pengelolaan perikanan yang dapat dilakukan di Indonesia.

  • melestarikan anak ikan, dan larangan penangkapan anak ikan yang belum dewasa dengan menggunakan alat penangkapan yang ukuran jaringnya ditentukan,
  • menggunakan sistem kuota dengan menentukan bagian perairan yang boleh diambil ikannya pada musim tertentu disertai kontrol yang baik,
  • menutup musim penangkapan yang bertujuan agar jumlah induk ikan tidak berkurang, dan waktu pemijahan serta pembesaran anak ikan tidak terganggu. pada musim tersebut diterapkan larangan menangkap ikan-ikan jenis tertentu,
  • menutup daerah perikanan, yaitu larangan menangkap ikan di daerah pemijahan dan pembesaran ikan, terutama di daerah yang mengalami penurunan populasi ikan.

6) Pariwisata Berkelanjutan 


Fokus dari pariwisata berkelanjutan adalah keberlanjutan pariwisata sebagai kegiatan perekonomian dan mempertimbangkanya sebagai elemen kebijakan pembangunan berkelanjutan yang lebih luas. Pembangunan pariwisata harus bisa memanfaatkan sumber secara berkelanjutan dengan artian kegiatan kegiatan yang dilakukan harus terhindar dari penggunaan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui (irreversible) secara berlebihan. Hal tersebut didukung dengan keterkaitan lokal antara tahap perencanaan, pembangunan, dan pelaksanaan, sehingga terwujud pembagian keuntungan yang adil. Kegiatan pariwisata harus menjamin bahwa sumber daya alam maupun buatan dapat terpelihara dan diperbaiki dengan menggunakan kriteria kriteria dan standar-standar internasional. Aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial budaya dari suatu objek wisata menjadi acuan dalam pelaksanaan pariwisata berkelanjutan, baik saat ini maupun di masa mendatang, dan untuk menjawab kebutuhan industri, wisatawan, lingkungan, serta populasi setempat. Pengembangan kegiatan pariwisata berkelanjutan memiliki beberapa manfaat sebagai berikut: 

  • terjaminnya keseimbangan lingkungan pada objek wisata yang menjamin kelestarian lingkungan budaya dan alam setempat,
  • meningkatnya rasa cinta atau peduli pada masyarakat terhadap lingkungan,
  • meningkatnya devisa negara dari jumlah kunjungan wisatawan asing,
  • meluasnya lapangan kerja yang berorientasi pada faktor pendukung pariwisata akibatnya banyak tenaga kerja yang terserap,
  • meningkatnya pendapatan masyarakat dan penerimaan pajak bagi pemerintah daerah yang berpotensi pada meningkatnya pendapatan asli daerah,
  • mendorong pembangunan daerah yang menunjang kegiatan pariwisata.

Gambar. 1.30. Pariwisata Berkelanjutan 

Sumber: freepik.com/hoverstock (2021) 



Ayo Berpikir Kreatif 


Setelah kalian membaca materi Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan, untuk melatih kemampuan berpikir kreatif, sampaikan gagasanmu dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: 

  1. Pilihlah satu diantara sumber daya alam terbarukan. 
  2. Tunjukkan lokasi sumber daya alam tersebut dengan peta.
  3. Berikan argumentasi mengapa sumber daya alam tersebut kalian pilih.
  4. Apa gagasan baru yang hendak kalian kemukakan agar sumber daya alam terbarukan tersebut dapat disebarluaskan di wilayah-wilayah lain di Indonesia.

b. Permasalahan-Permasalahan dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) 


Pengelolaan SDA sangat penting untuk dilakukan. Pada era saat ini, sumber daya alam lebih diarahkan pada sistem pengelolaan berkelanjutan. Program ini dipilih untuk menjaga keberlangsungan sumber daya alam itu sendiri di masa saat ini maupun masa yang akan datang. 

Pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan mengalami hambatan sehingga muncul banyak permasalahan lingkungan. Hambatan dalam pengelolaan sumber daya terjadi pada berbagai faktor. Beberapa faktor yang menghambat proses pengelolaan sumber daya alam seperti faktor demografi, alih fungsi lahan, pemanfaatan air, serta kurangnya peran serta masyarakat dalam mendukung pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan. Oleh karena itu, keempat faktor ini perlu menjadi perhatian khusus apabila masyarakat berkeinginan mewujudkan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. 


Faktor pertama yang berpengaruh dalam pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan adalah demografi. Demografi merupakan ilmu yang mempelajari dinamika (perubahan) kependudukan yang meliputi struktur, ukuran, dan distribusi penduduk. Pada pengelolaan sumber daya alam faktor demografi memegang peranan penting. Hal ini karena manusia berperan langsung dalam pengelolaan sumber daya alam itu sendiri. 


Setiap tahun Indonesia mengalami peningkatan jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang selalu bertambah memengaruhi proses pengelolaan sumber daya alam. Bertambahnya penduduk menjadikan kebutuhan terhadap sandang, pangan, dan papan meningkat. Pada proses pemenuhan kebutuhan tersebut mengakibatkan terjadinya alih fungsi lahan. Alih fungsi lahan di Pulau Sumatra, Jawa, dan Bali berada pada tahap yang perlu diwaspadai. Sawah-sawah beririgasi teknis dan lahan pertanian produktif banyak beralih fungsi menjadi kawasan pemukiman, perkotaan, kawasan industri serta untuk pembangunan infrastruktur transportasi. 


Permasalahan lain yang diakibatkan dengan alih fungsi lahan ialah membuat daerah aliran sungai (DAS) menjadi lahan kritis. Lahan kritis dapat memengaruhi distribusi aliran air di permukaan. Hal ini mengakibatkan lahan menjadi berkurang kemampuannya dalam menyimpan air, sehingga dalam jangka waktu panjang akan berakibat terjadi tanah longsor. Dari tahun 1984 sampai sekarang, terdapat 62 DAS kritis yang belum bisa ditangani dengan baik. 


Faktor kedua yang berpengaruh dalam pengelolaan sumber daya alam adalah penggunaan air. Masih banyak pihak yang kurang tepat dalam penggunaan air. Salah satunya eksploitasi berlebihan dalam penggunaan air di kota-kota besar. Selain itu, penggunaan air yang berlebihan di daerah pesisir juga dapat mengakibatkan intrusi air laut. Penggunaan air yang berlebihan secara terus menerus dapat merusak siklus air sehingga dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem yang ada di dunia. 


Permasalahan penggunaan air juga meliputi terbatasnya ketersediaan infrastruktur pengelolaan sumber daya air. Banyak masyarakat kita yang melakukan pengeboran tanah untuk bisa mendapatkan air sumur. Akan tetapi, tidak semua masyarakat kita memahami prosedur pengeboran sumur yang baik. Selain itu, penggunaan air juga mengalami kendala karena tidak semua wilayah Indonesia mendapatkan infrastruktur air sehingga masih banyak warga Indonesia yang harus meluangkan waktu untuk mendapatkan air. 


Faktor ketiga yang memengaruhi pengelolaan sumber daya alam adalah keterbatasan peran masyarakat dan dunia usaha. Banyak wilayah di Indonesia yang belum mendapat pemaksimalan pengelolaan sumber daya alam oleh pemerintah. Hal ini menjadikan warga bergerak secara mandiri dalam mengelola sumber daya alam yang ada di sekitar mereka. 


Peran pemerintah seharusnya dapat lebih maksimal dalam pengelolaan sumber daya alam. Hal ini dikarenakan suatu lembaga sejenis pemerintah pasti memiliki kekuasan dalam mengelola data serta informasi terkait sumber daya alam yang dimiliki. Data serta informasi terkait sumber daya alam sangat penting bagi suatu negara. Negara dapat melakukan tindakan yang tepat dalam mengelola sumber daya alam apabila memanfaatkan data serta informasi yang dimiliki. Akan tetapi pemerintah masih terbatas dalam memanfaatkan data serta informasi yang ada.


Ayo Kolaborasi Membuat Projek 


Selamat! Kalian sungguh luar biasa. Kalian telah menuntaskan belajar tentang posisi geografi Indonesia dan sumber daya alam. Agar materi yang kalian pelajari dapat lebih bermakna untuk lingkungan sekitar, mari kita buat projek sederhana. Kenalilah dengan baik salah satu sumber daya alam dan permasalahannya di lingkungan sekitar kabupaten atau kota dimana kalian tinggal. Bentuklah kelompok beranggotakan 4-5 orang. Buatlah rancangan pengelolaan sumber daya alam tersebut agar berkelanjutan. Lengkapi projek kalian dengan peta untuk menunjukkan lokasi atau sebarannya. 



Belajar Geografi ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO