Tampilkan postingan dengan label Geo 12. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geo 12. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Oktober 2020

POLA INTERAKSI DESA KOTA



1.Definisi Interaksi Desa – Kota

Interaksi wilayah (Spatial Interaction) adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara dua wilayah atau lebih, yang dapat melahirkan gejala, kenampakkan dan permasalahan baru, secara langsung maupun tidak langsung, sebagai contoh antara kota dan desa.

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa interaksi antar wilayah memiliki tiga prinsip pokok sebagai berikut :
  1. Hubungan timbal – balik terjadi antara dua wilayah atau lebih
  2. Hubungan timbal balik mengakibatkan proses pengerakan yaitu :
    • Pergerakan manusia (Mobilitas Penduduk)
    • Pergerakan informasi atau gagasan, misalnya : informasi IPTEK, kondisi suatu wilayah
    • Pergerakan materi / benda, misalnya distribusi bahan pangan, pakaian, bahan bangunan dan sebagainya
  3. Hubungan timbal balik menimbulkan gejala, kenampakkan dan permasalahan baru yang bersifat positif dan negatif, sebagai contoh :
    • kota menjadi sasaran urbanisasi
    • terjadinya perkawinan antar suku dengan budaya yang berbeda

2.Faktor Interaksi Desa – Kota

Menurut kalian adakah faktor yang mempengaruhi sehingga terjadi interaksi keruangan antara desa – kota? Jawabannya adalah ada dan faktor tersebut dikemukakan oleh Edward Ulman yang terdiri dari faktor - faktor, yaitu :
  1. Adanya wilayah – wilayah yang saling melengkapi (regional complementarity) artinya, terdapat kebutuhan timbal balik antar wilayah sebagai akibat adanya perbedaan potensi yang dimiliki oleh tiap wilayah
  2. Adanya kesempatan untuk berintervensi (intervening opportunity) artinya, kedua wilayah memiliki kesempatan melakukan hubungan timbal balik serta tidak ada pihak ketiga yang membatasi kesempatan itu. Adanya campur tangan /intervensi pihak ketiga (wilayah ketiga) dapat menjadi penghambat atau melemahkan interaksi antara dua wilayah.
  3. Adanya kemudahan transfer/ pemindahan dalam ruang (spacial transfer ability) artinya kemudahan transfer atau pemindahan dalam ruang baik manusia, informasi ataupun barang sangat bergantung dengan faktor jarak, biaya angkutan (transportasi) dan kelancaran prasarana transportasi. Jadi semakin mudah transferbilitas, maka akan semakin besar arus komoditas.

Menurut teori Carrother, hubungan ekonomis berbanding lurus dengan banyaknya jumlah penduduk, dan berbanding terbalik dengan jarak yang harus ditempuh. Semakin banyak jumlah penduduk di kedua wilayah interaksi ekonomi semakin besar dan semakin jauh jarak dari dua wilayah semakin kecil interaksinya. Hubungan tersebut dapat dinyatakan dengan rumus :

I = interaksi
P1= jumlah penduduk kota A
P2 = Jumlah penduduk kota B
J = jarak

Contoh misalnya terdapat 3 buah kota, yaitu a berpenduduk 30.000 jiwa, B 20.000 jiwa dan C 10.000 jiwa.
Jarak A ke B 25 km dan jarak B ke C 50 km.
Berapa besar interaksi ekonomis antara A dan B jika dibandingkan dengan B dengan C


Interaksi Ekonomis Antara A dan B



Interaksi Ekonomis Antara B dan C



Berdasarkan perhitungan tersebut interaksi antara A dan B lebih kuat dari B dan C, yang dapat dilihat dari lancarnya sarana transportasi, banyaknya orang yang bepergian, banyaknya barang yang ada yang dibawa antara kota A dan B.

Bintarto (1983) menggunakan model gravitasi untuk mengkaji interaksi keruangan antara 4 wilayah kota yaitu Yogjakarta, Salatiga, Surakarta dan Magelang.

Diketahui jumlah penduduk kota Yogyakarta 398.192 jiwa, Surakarta 462.825 jiwa, Salatiga 85.740 jiwa, Magelang 123.358 jiwa.
Adapun jarak :
Yogyakarta-Surakarta 60 km,
Surakarta-Salatiga 42 km,
Salatiga-Magelang 40 km,
Magelang-Yogyakarta 41 km.


Interaksi Antara Yogyakarta-Surakarta



Interaksi Antara Surakarta-Salatiga



Interaksi Antara Salatiga-Magelang



Interaksi Antara Magelang-Yogyakarta



Berdasarkan perhitungan tersebut interaksi antara Yogyakarta dan Surakarta yang terbesar I = 51. artinya, Frekuensi hubungan sosial ekonomi antara 2 kota tersebut tinggi jika dibanding dengan interaksi antara kota lainnya. alasan 2 Kota Ini interaksinya tinggi yaitu merupakan kota pelajar dan kota budaya, jalan raya yang menghubungkan nya merupakan jalan dengan frekuensi lintasan kendaraan yang tinggi dan jumlah penduduk yang besar

3. Aspek Interaksi Desa – Kota


Di antara kalian ada yang bisa menyebutkan aspek–aspek interaksi desa – kota? Dalam interaksi desa – kota terdapat beberapa aspek penting yang timbul akibat interaksi tersebut. Aspek interaksi desa – kota adalah sebagai berikut:

a. Aspek Ekonomi, meliputi :

· Melancarkan hubungan antara desa dengan kota
· Meningkatkan volume perdagangan antara desa dengan kota
· Meningkatkan pendapatan penduduk
· Menimbulkan kawasan perdagangan
· Menimbulkan perubahan orientasi ekonomi penduduk desa

b. Aspek Sosial, meliputi :

· Terjadinya mobilitas penduduk desa dan kota
· Terjadinya saling ketergantungan antara desa dengan kota
· Meningkatnya wawasan warga desa akibat terjalinnya pengaruh hubungan antara warga desa dengan warga kota

c. Aspek Budaya meliputi :
  • meningkatnya pendidikan di desa yang ditandai dengan meningkatnya jumlah sekolah dan siswanya yang bersekolah
  • Terjadinya perubahan tingkah laku masyarakat desa yang mendapatkan pengaruh dari masyarakat kota 
  • Potensi sumber budaya yang terdapat di desa hingga melahirkan arus wisatawan masuk desa. 
4. Manfaat Interaksi Desa – Kota

Menurut pemikiran kalian adakah manfaat dengan adanya interaksi desa – kota? Dengan adanya interaksi desa – kota dapat memberikan beberapa manfaat bagi desa maupun bagi kota, diantaranya :
  1. meningkatnya hubungan sosial ekonomi antara penduduk desa dan kota
  2. pengetahuan penduduk desa meningkat
  3. dapat menumbuhkan arti pentingnya pendidikan bagi penduduk desa
  4. dapat menumbuhkan heterogenitas mata pencarian penduduk desa
  5. terjadinya peningkatan pendapatan
  6. terpenuhinya berbagai kebutuhan penduduk baik di perkotaan maupun pedesaan.
5. Dampak Interaksi Desa – Kota

Interaksi antara dua wilayah akan melahirkan gejala baru yang meliputi aspek ekonomi, sosial, maupun budaya. Gejala tersebut dapat memberikan dampak bersifat menguntungkan (positif) atau merugikan (negatif ) bagi kedua wilayah. Demikian pula halnya gejala interaksi antara dua desa dan kota.



Rabu, 07 Oktober 2020

PENGERTIAN KOTA

 


Menurut Daldjoeni (1996) kota  adalah suatu daerah tertentu dengan karakteristik penggunaan lahan non agraris, di mana penggunaan lahannya sebagian besar tertutup oleh bangunan. 


Pola jaringan jalan di daerah kota Lebih kompleks dan penggunaan lahan sebagian besar oleh bangunan baik gedung maupun pemukiman penduduk dibandingkan dengan penggunaan lahan untuk wilayah terbuka hijau. 


istilah kota dan daerah perkotaan dibedakan atas dua pengertian, yaitu city dan urban. istilah city diidentikan dengan kota, sedangkan urban adalah suatu daerah yang memiliki suasana kehidupan dan penghidupan modern atau disebut juga perkotaan. 


Bintarto (1983) berpendapat bahwa kota merupakan sebuah bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alamiah dan non-alamiah, dengan gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan, daerah belakangnya (hinterland). Kota menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1987 Pasal 1 merupakan pusat pemukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan administrasi yang diatur dalam perundang-undangan serta permukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan perkotaan. 


Ciri masyarakat perkotaan antara lain dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus tergantung pada orang lain, pembagian kerjanya lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata, lebih menghargai waktu, pola pikir yang rasional menyebabkan interaksi sosial lebih berdasarkan pada kepentingan (gesselschaft) daripada faktor pribadi. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata, karena kebudayaan kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengm'uh dari luar. 



a. Klasifikasi Kota 



Menurut Yunus (2005) Kota dapat dibedakan berdasarkan fungsinya, bentuk fisiknya. dan pola pertumbuhannya. Menurut fungsinya kota dibedakan sebagai berikut. 

  1. Pusat industri, misalnya Detroit dengan industri mobilnya, Cilegon dengan industri besi bajanya, dan Bombay dengan industri tekstilnya. 

  2. Pusat perdagangan, contohnya New York, Hamburg, Hongkong, dan Singapura. 

  3. Pusat pemerintahan, contohnya Jakarta (ibukota Indonesia), New Delhi (Ibukota India), dan Canberra (Ibukota Autralia). 

  4. Pusat kebudayaan, contohnya Yogyakarta, Denpasar, dan Mekkah. Pusat rekreasi, contohnya Pangandaran dengan pantainya yang indah. Pusat pendidikan, misalnya Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta


Berdasarkan bentuk fisiknya kota dibedakan atas:


1) kota yang berbentuk bujur sangkar (the Square Cities) terbentuk karena adanya kegiatan yang relatif seragam seperti pertanian contohnya Indianapolis dan Yogjakarta



2) kota yang berbentuk empat persegi panjang (Rectangular Cities) pada dasarnya sama seperti kota yang berbentuk bujur sangkar hanya saja pada kedua sisinya terdapat hambatan alami seperti topografi, hutan atau gurun.



3) kota yang berbentuk seperti kipas (The Fan Shaped Cities) pusat kota berada pada daerah pinggiran seperti Chicago Jakarta dan Boston.



Menurut Hoyt pola perkembangan kota yaitu mengikuti jalur transportasi, pola tersebut diantaranya: 


  1. Perluasan mengikuti pertumbuhan sumbu atau dengan kata lain mengikuti jalan-jalan transportasi daerah perbatasan-perbatasan kota. 

  2. Daerah daerah hinterland luar kota semakin lama akan berkembang dan akhirnya bergabung pada kota yang lebih besar. 

  3. Menggabungkan kota inti dan kota-kota kecil yang berada di daerah kota inti atau kota konurbasi. 


Berdasarkan pertumbuhan kota dan sosio kulturalnya Lewis Mumford (dalam Hadi Sabari Yunus, 2005) membedakan kota menjadi enam tahap, yaitu sebagai berikut;


1) Eopolis stage, dicirikan adanya komunitas masyarakat desa yang makin maju, walaupun kondisi kehidupannya masih didasarkan pada kegiatan pertanian, pertambangan, dan perikanan. Tahap ini merupakan peralihan dari pola kehidupan desa tradisional ke arah kehidupan kota. 


3) Polis stage, ditandai dengan adanya pasar dan beberapa kegiatan industri yang cukup besar tetapi masih beriorientasi pada sektor pertanian. 


4) Metropolis stage, kenampakan kekotaan sudah mulai bertambah besar. Fungsi-fungsi perkotaannya terlihat mendominasi kota-kota kecil lainnya yang berada di sekitar kota tersebut. Pada tahap ini sebagian besar penduduk berorientasi pada sektor industri. 


5) Tyranopolis stage, yaitu suatu keadaan ketidakpedulian masyarakatnya mengenai segala aspek kehidupan mewarnai tingkah laku penduduknya. 


6) Nelkropolis stage, yaitu keadaan kota yang menunjukkan gejala kemunduran sumber daya alam yang mulai habis, terjadinya perpindahan penduduk yang besar akibat adanya bencana alam bahkan peperangan. 


Berdasarkan hirarki politik administratif kota dibedakan seperti tabel berikut: 


Tabel 2.1 Hierarki Politik Administratif Kota 


Order 

Nama Kelompok

1

Kota kecamatan

2

Kota kabupaten

3

Kota provinsi 

4

Ibukota negara 


Tidak semua kota memiliki fungsi tunggal, artinya hanya memiliki satu fungsi. Banyak sekali kota yang memiliki beberapa fungsi, bahkan hampir semua kota-kota yang terdapat di Indonesia memiliki beberapa fungsi, misalnya jakarta selain sebagai pusat pemerintahan tetapi juga sebagai pusat perekonomian, politik, pendidikan, dan kebudayaan. 



b. Struktur Kota 



Suatu kota selalu mengalami perkembangan struktur wilayahnya, baik karena pengaruh urbanisasi, pertambahan penduduk alami, maupun peningkatan di bidang teknologi, Menurut Yunus (2006) terdapat banyak teori mengenai struktur kota, antara lain teori konsentris, teori ketinggian bangunan, teori sektor, teori konsektoral, teori poros, dan teori pusat kegiatan banyak. 



1) Teori Konsentris (Concentric Theory)

Teori ini dikembangkan oleh Ernest. W. Burgess (1925) yang mengatakan bahwa suatu kota akan terdiri atas zona-zona yang konsentris dan masing-masing zona mencerminkan tipe penggunaan lahan yang berbeda.








Sumber: Struktur Tata RuangKota, 2006 


Keterangan gambar 2.15 teori konsentris menurut Ernest W. Burgess: 


1) Zona Pusat Kegiatan ( Central Bussines District (CBD)) merupakan pusat kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Rute-rute transport dari segala penjuru memusat ke zona ini sehingga memiliki aksesibilitas yang tinggi. 


2) Zona Peralihan (Transition Zone) merupakan kawasan peralihan yang di dalamnya terdapat industri, perkantoran dan pertokoan. Di zona ini merupakan daerah yang mengalami penurunan kualitas lingkungan pemukiman yang terdapat kawasan kumuh (slum area) dan ghettoes (penampungan para pendatang baru dan penghuni sementaxa). Oleh karena itu, dj zona ini banyak terdapat kriminalitas dan kemiskinan. 


3. Zona Perumahan Para Pekerja (Zone of Working Men's Homes). Zona ini paling banyak ditempati oleh perumahan pekerja-pekerja pabrik dan industri. 


4. Zona Pemukiman yang Lebih Baik (Zone of Better Residences). Zona ini dihuni oleh penduduk yang berstatus ekonomi menengah sampai tinggi. Kondisi ekonomi umumnya stabil sehingga lingkungan pemukimannya menunjukkan deraj at keteraturan yang cukup tinggi. 


5. Zona Para Penglaju (Zone of Commuters). Di daerah pinggiran kota mulai bermunculan perkembangan pemukiman baru yang berkualitas tinggi. Mereka tinggal di zona itu dan bekexja di kota, setiap hari mereka pulang pergi ke kota. 

kota yang mendekati model konsentris adalah kota Chicago, Kalkuta, Adelaide dan Amsterdam.




2) Teori Sektor 


Teori ini dikembangkan oleh Homer Hoyt (1939). Model sektor ini merupakan hasil penelitiannya mengenai pola-pola sewa rumah tinggal (residential rent patterns) di 25 kota di Amerika Serikat. Hoyt mengatakan ternyata pola sewa tempat tinggal pada kotackota di Amerika cenderung terbentuk sebagai pattern of sectors (pola sektor-sektor) bukan pola zona konsentris. 



Hoyt menemukan bahwa pajak tanah dan bangunan berbeda-beda berdasarkan sektor-sektor kota, jadi tak berarti bahwa pajak tertinggi harus di dekat pusat kota. Selain itu, semakin ke pusat kota, dalam sektor yang sama bangunan gedung atau perumahan semakin kuno, juga semakin ke pusat kota industri semakin berkurang, dan industri banyak berkembang di pinggiran kota. Menurut Hoyt lokasi pemukiman dan perindustrian membentuk jalurjalur memanjang mengikuti pola jalan. Hoyt mengatakan bahwa kota terdiri atas: 



1 : Zona Pusat Daerah Kegiatan; 


2 : Zona Terdapat Grosir dan Manufaktur; 


3: Zona Daerah Pemukiman Kelas Rendah. Pemukiman penduduk yang tingkat ekonominya rendah terdapat di sekitar CBD dan perindustrian; 


4: Zona Pemukiman Kelas Menengah. Berkembang di daerah yang agak jauh dari pusat kota; 


5: Zona Pemukiman Kelas Tinggi. Membentuk jalur memanjang memotong pemukiman kelas ekonomi sedang. 



3) Teori Konsektoral (Konsentris-Sektoral) 


Mann (1965) menggabungkan antara pandangan konsentris dan sektoral, namun penekanan konsentris jauh lebih menonjol. Model ini diciptakan atas dasar penelitiannya pada kota-kota di Inggris. 



Sumber. Struktur Tata Ruang Kota, 2006 


Keterangan: 


1) City Centre (pusat kota). 


2) Transitional Zone (Zona Peralihan). 


3) Untuk sektor C dan D, zona yang ditempati rumah ukuran kecil Untuk sektor B, zona yang ditempati rumah-rumah yang berukuran lebih besar. 

Untuk sektor A, zona yang ditempati rumah-rumah tua yang berukuran besar. 


4) Daerah pemukiman sesudah 1918 dan kemudian mulai 1945 berkembang pada pinggirannya. 


5) Desa-desa yang dihuni para penglaju: 

  1. Sektor yang ditempati kelas menengah. 

  2. Sektor yang ditempati kelas menengah ke bawah. 

  3. Sektor yang ditempati kelas pekerja. 

  4. Sektor yang ditempati industri dan pekerja kelas terbawah. 




4) Teori Pusat Kegiatan Banyak (Multiple Nuclai Theory



Teori ini pertama kali dikemukakan oleh C.D. Harris dan F.L. Ullman (1945). Mereka mengatakan bahwa kebanyakan kota-kota besar tidak tumbuh dan pola keruangan yang sederhana yang hanya ditandai oleh satu pusat kegiatan saja (Unicentered Theory). Namun terbentuk berlanjut terus menerus dari sejumlah pusat-pusat kegiatan yang terpisah satu sama lain. 


Mereka menjelaskan bahwa pertumbuhan kota yang bermula dari suatu pusat menjadi pertumbuhan wilayah yang kompleks. Hal ini disebabkan oleh munculnya pusat-pusat tambahan yang masing-masing akan berfungsi menjadi kutub pertumbuhan. 


Tempat-tempat yang bertipe nucleus (berdiri sendiri antara lain pelabuhan udara, kompleks industri, perguruan tinggi, dan pelabuhan laut). Inti berganda dalam suatu kota mencerminkan perkembangan kota secara horizontal. Pusat kota tidak harus di tengah, tetapi berkembang seiring dengan penyebaran pemukiman penduduk. Akibatnya, mobilitas warga semakin efisien sehingga kemacetan lalu lintas semakin berkurang. 


Keterangan: 


1) Central Business District, zona ini pusat fasilitas transportasi, perbankan, dan teater; 


2) Whole-Sale Light Manufacturing, fungsi ini banyak mengelompok di sepanjang jalan kereta api dan dekat dengan CBD; 


3) Low-Class Residential (daerah pemukiman kelas rendah); 


4)  Medium Class Residential (daerah pemukiman kelas menengah); 


5) High Class Residential (daerah pemukiman kelas tinggi): 


6) Heavy Manufacturing, merupakan konsentrasi pabrik-pabrik besar; 


7) Outying Business District (OBD), zona baru untuk memenuhi kebutuhan penduduk zona 4 dan 5; 


8) Residential Sub-urb, zona tempat tinggal di daerah pinggiran; 


9) Industrial Sub-urb, zona industri di daerah pinggiran. 



Kota selalu memiliki kaitan erat dengan wilayah yang ada di sekitarnya. 


Hubungan antara kota dengan desa bersifat simbiosis atau saling menguntungkan. Masyarakat kota memiliki mata pencaharian sebagai pedagang, pegawai pemerintah, tukang-tukang, seniman, dan guru. Mereka hidup dengan bahan pangan yang dihasilkan dari desa. Kota juga merupakan tempat menjual hasil pertanian orang desa sehingga mendapat penghasilan. 


Peranan iklan, surat kabar, televisi, telepon, handphone, bus merupakan penghubung antara kota dan desa di Indonesia. Bertambah padatnya penduduk . kota karena faktor urbanisasi. Urbanisasi adalah proses perpindahan penduduk dari desa ke kota dengan tujuan menetap. 


Sumben primamdiowid (3 Maret 2016) 


Urbanisasi dapat terjadi karena ada faktor penarik dan faktor pendorong, antara lain sebagai berikut. 


  1. Kemajuan teknologi dan pendapatan sektor industri mendorong sebagian petani untuk pindah ke kota dan meninggalkan sektor pertanian. 

  2. Kota merupakan daerah yang banyak mengembangkan sektor industri sehingga memerlukan tenaga kerja yang banyak. 
  3. Sarana dan prasarana kesehatan, pendidikan, komunikasi, dan transportasi di kota lebih memadai.

Sumber: Lili Somantri. Buku Siswa, Aktif dan Kreatif, GEORAFI 3; Grafindo.2016

Jumat, 01 Februari 2013

Dampak Terjadinya Interaksi Desa Kota

Kelancaran hubungan antara pedesaan dan perkotaan baik komunikasi, barang, maupun manusia yang semakin lancar menyebabkan berbagai dampak positif dan negatif, baik bagi desa maupun kota.

1. Dampak Positif Interaksi bagi Desa


Dampak positif adanya interaksi desa kota bagi desa antara lain sebagai berikut.
  1. Tingkat pengetahuan penduduk meningkat, karena masuknya pengetahuan dari orang-orang kota.
  2. Masuknya lembaga pendidikan di pedesaan yang dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan penduduk desa.
  3. Melalui pengembangan sarana dan prasarana transportasi yang menghubungkan desa dan kota, wilayah pedesaan akan semakin terbuka.
  4. Masuknya teknologi ke pedesaan.
  5. Masuknya para ahli ke pedesaan akan bermanfaat bagi pembangunan.
  6. Adanya hubungan yang lancar antara desa dan kota yang manfaatnya dapat dirasakan oleh penduduk desa.

2.    Dampak Positif Interaksi bagi Kota
  1. Tersedianya tenaga kerja dari desa.
  2. Adanya tempat pemasaran hasil teknologi dari kota ke desa, misal peralatan teknologi pertanian.
  3. Desa sebagai mitra pembangunan wilayah perkotaan.
  4. Desa sebagai sumber bahan mentah bagi daerah perkotaan.

3.  Dampak negatif adanya interaksi desa kota bagi desa
  1. Lunturnya kehidupan asli di desa karena pengaruh kehidupan masyarakat kota.
  2. Semakin berkurangnya penduduk produktif di desa karena mereka lebih senang mencari pekerjaan di kota.
  3. Masuknya budaya kota yang dianggap kurang sesuai dengan kehidupan di desa.

4. Dampak Negatif Interaksi bagi Kota
Dampak negatif adanya interaksi desa-kota bagi kota yang paling nyata adalah terjadinya urbanisasi yang tidak terkendali. Hal ini disebabkan banyaknya penduduk desa yang bermigrasi ke kota untuk mencari pekerjaan dan penghidupan yang lebih layak. Sebagai akibat dari terjadinya urbanisasi tersebut kota tidak mampu lagi menampung penduduk, sehingga timbul permasalahan-permasalahan antara lain sebagai berikut.
  1. Meningkatnya tindak kriminalitas atau kejahatan seperti pencurian dan perampokan yang dilakukan oleh penduduk kota yang gagal memperbaiki tingkat kehidupannya.
  2. Bertambahnya penduduk kota yang menjadi gelandangan, karena mereka tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan tinggal di pinggir-pinggir jalan, di teras pertokoan, dan di kolong jembatan.
  3. Meningkatnya jumlah permukiman kumuh (slump) berupa gubuk-gubuk liar yang terletak di bantaran sungai, di sepanjang rel kereta api, dan sebagainya. Permukiman ini biasanya dihuni oleh masyarakat kota yang sangat miskin.

Rabu, 14 September 2011

Fungsi dan Tujuan Pembuatan Peta

Fungsi Peta

Peta mempunyai beberapa fungsi di berbagai bidang, antara lain untuk:

  1. menunjukkan posisi atau lokasi relatif (letak suatu tempat dalam hubungannya dengan tempat lain) di permukaan bumi, dengan membaca peta kita dapat mengetahui lokasi relatif suatu wilayah yang kita lihat, misal :
    • Propinsi Jawa Barat terletak di antara propinsi Jawa Tengah dan propinsi Banten
    • Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terletak di antara propinsi Nusat Tenggara Barat (NTB) dan negara Timor Leste
  2. memperlihatkan atau menggambarkan bentuk-bentuk permukaan bumi (misalnya bentuk benua, atau gunung) sehingga dimensi dapat terlihat dalam peta,
  3. menyajikan data tentang potensi suatu daerah, misalnya :
    • Peta potensi rawan banjir
    • Peta potensi kekeringan
    • Peta Potensi Air
    • Peta Potensi Ikan
  4. memperlihatkan ukuran, karena melalui peta dapat diukur luas daerah dan jarak-jarak di atas permukaan bumi. Jarak sebenarnya 2 lokasi dapat dihutng dengan membandingkan skala petanya.

Tujuan Pembuatan Peta

Tujuan pembuatan peta antara lain sebagai berikut:

  1. membantu suatu pekerjaan, misalnya untuk konstruksi jalan, navigasi, atau perencanaan,
  2. analisis data spasial, misalnya perhitungan volume,
  3. menyimpan informasi,
  4. membantu dalam pembuatan suatu desain, misal desain jalan, dan
  5. komunikasi informasi ruang.

Selasa, 13 September 2011

Komponen Peta

Peta adalah gambar sebagian atau seluruh permukaan bumi pada bidang datar, diperkecil dengan skala dan proyeksi tertentu.

Jenis-jenis Peta 


Jenis Peta berdasarkan informasi atau isinya peta :
  1. Peta umum (peta ikhtisar), adalah peta yang menggambarkan segala sesuatu di permukaan bumi secara umum. Peta umum dibedakan menjadi  dua,  yaitu  peta  chorografi  dan  peta  topografi.  Peta  chorografi adalah peta yang menampilkan permukaan bumi secara umum, seperti peta dunia, peta benua,  dan peta  kabupaten. Peta topografi  adalah  peta  yang  menampilkan  relief  permukaan  bumi.
  2. Peta khusus (tematik) adalah peta yang hanya menggambarkan kenampakan tertentu saja di permukaan bumi. Contoh peta tematik antara  lain  peta  pariwisata,  peta  kepadatan  penduduk, peta  pertambangan,  dan  sebagainya.

Jenis Peta berdasarkan skalanya :

1 . Peta  kadaster,  berskala  1:  100  s.d.  1:  5.000.
2 . Peta  skala  besar,  berskala  1  :  5.000  s.d.  1: 250.000.
3 . Peta  skala  sedang,  berskala  1:  250.000  s.d  1: 500.000.
4 . Peta skala kecil, berskala 1: 500.000 s.d 1:1.000.000.
5 . Peta  skala  sangat  kecil,  berskala  lebih  besar dari  1  :  1.000.000

Jenis Peta Berdasarkan Sifat Datanya


Peta stasioner. Peta stasioner adalah peta yang sifat datanya menggambarkan keadaan permukaan bumi yang tetap atau relatif stabil.
Contohnya:
Peta geologi
Peta kontur
Peta laut menurut kedalamannya
Peta topografi
Peta jalur pegunungan

Peta dinamis. Peta dinamis adalah peta yang sifat datanya menggambarkan keadaan permukaan bumi yang bersifat dinamis atau berubah-ubah.
Contoh:
Peta kepadatan penduduk
Peta penyebaran penduduk memperlihatkan tingkat kepadatan penduduk di suatu tempat pada suatu wilayah.
Peta jaringan transportasi
Peta jaringan irigasi
Peta jaringan telepon

Jenis Peta Berdasarkan Bentuknya

Peta timbul. Peta timbul adalah peta yang dibuat berdasarkan bentuk permukaan bumi yang sebenarnya, misalnya peta relief.

Peta dasar (peta biasa). Peta dasar adalah peta yang menggambarkan keadaan suatu wilayah yang belum diberi data, misalnya peta dasar Indonesia atau peta dasar Pulau Jawa. Dengan adanya peta dasar tersebut kita dapat membuat berbagai jenis peta yang kita inginkan.

Peta digital. Peta digital adalah peta yang datanya terdapat pada pita magnetik, sedangkan pengolahan dan penyajian datanya menggunakan komputer, misalnya peta yang digambarkan melalui layar televisi atau layar komputer.



Komponen/Kelengkapan  Peta  terdiri atas :


1. Judul Peta

Judul peta menunjukkan data dan daerah yang tergambar dalam peta tersebut.
Contoh:
  • peta penyebaran penduduk pulau Jawa.
  • peta bentuk muka bumi Asia.
  • peta Indonesia.

Judul peta merupakan komponen yang sangat penting. Biasanya, sebelum pembaca memperhatikan isi peta, pasti terlebih dahulu judul yang dibacanya. Judul peta hendaknya memuat/mencerminkan informasi yang sesuai dengan isi peta. Selain itu, judul peta jangan sampai menimbulkan penafsiran ganda pada peta.

Judul peta biasanya diletakkan di bagian tengah atas peta. Tetapi judul peta dapat juga diletakkan di bagian lain dari peta, asalkan tidak mengganggu kenampakan dari keseluruhan peta.


2.  Skala Peta

Skala pada peta adalah perbandingan jarak antara dua titik di peta dengan jarak sebenarnya di permukaan bumi.
Contoh:
Skala 1 : 500.000 artinya 1 cm jarak di peta sama dengan 500.000 cm ( 5Km) jarak sebenarnya di permukaan bumi.
Bila ingin menyajikan data secara rinci, maka gunakanlah skala besar, (1 : 5.000 sampai
1 : 250.000). Sebaliknya bila ingin menunjukkan data secara umum, gunakanlah skala kecil (1 : 500.000 sampai 1 : 1.000.000 atau lebih).


3.  Proyeksi Peta

Bumi kita merupakan bentuk tiga dimensi, tetapi peta merupakan bentuk dua dimensi. Walaupun demikian terdapat tiga aspek yang harus dipenuhi  oleh  sebuah  peta  yaitu  sebagai  berikut.
  • Conform,  berarti  bentuk  yang  digambarkan  di  peta  harus  sesuai  dengan aslinya.
  • Equivalent, berarti daerah yang digambar di peta harus sama luas dengan  aslinya.
  • Equidistant, berarti jarak yang digambar pada peta harus tepat perbandingannya dengan jarak sesungguhnya
Untuk menghindari terjadinya kesalahan yang lebih besar, dalam ukuran (luas, jarak) bentuk permukaan bumi pada peta, maka dalam pembuatan peta digunakan proyeksi peta. Proyeksi peta adalah teknik pemindahan bentuk permukaan bumi yang lengkung (bulat) ke bidang datar.

Macam-macam proyeksi peta adalah sebagai berikut.
a.    Proyeksi  azimuthal  (zenithal  projection),  adalah  bidang  proyeksi  yang berupa  suatu  bidang  datar  yang  menyinggung  bola,  pada  kutub  ekuator atau sembarang tempat yang terletak antara ekuator dan kutub. Proyeksi  ini  paling  baik  untuk  menggambar  daerah  di  sekitar  ekuator.
b.     Proyeksi  silinder  (Mercator  projection ),  adalah  semua  garis  horizontal dan  meridian  berupa  garis  lurus  vertikal.  Proyeksi  ini  paling  tepat menggambarkan daerah ekuator sebab ke arah kutub terjadi pemanjangan garis.
c.    Proyeksi  kerucut  (conical  projection),  adalah  garis  yang  memotong  atau menyinggung  globe  dan  bentangannya  ditentukan  oleh  sudut  puncaknya. Proyeksi  ini  menggambarkan  daerah  dilintang  45°


4.  Legenda/Keterangan Peta

Legenda merupakan keterangan peta, memudahkan pembacaan dan penafsiran peta karena legenda menerangkan arti dari simbol-simbol yang terdapat dalam peta.
Legenda biasanya diletakkan di pojok kiri bawah peta. Selain itu legenda peta dapat juga diletakkan pada bagian lain peta, sepanjang tidak mengganggu kenampakan peta secara keseluruhan.


5.  Petunjuk Arah/Tanda Orientasi

Petunjuk arah untuk menunjukkan arah Utara, Selatan, Timur dan Barat. Tanda orientasi perlu dicantumkan pada peta untuk menghindari kekeliruan. Petunjuk arah pada peta biasanya berbentuk tanda panah yang menunjuk ke arah Utara. Petunjuk ini diletakkan di bagian mana saja dari peta, asalkan tidak menganggu kenampakan peta.

6.  Simbol dan Warna

Gambar atau tanda untuk mewakili obyek agar penyajian informasi lebih sederhana dan sistematik.

a. Simbol peta.

a)      Simbol titik, digunakan untuk menyajikan tempat atau data posisional, seperti simbol kota, titik trianggulasi (titik ketinggian) tempat dari permukaan laut. Contoh: simbol titik.
b)      Simbol garis, digunakan untuk menyajikan data geografis seperti simbol sungai, batas wilayah, jalan, dsb. Contoh: simbol garis.
c)      Simbol luasan (area), digunakan untuk menunjukkan kenampakan area seperti: padang pasir, rawa, hutan. Contoh: simbol luasan (area).



b.  Warna

Perhatikanlah peta yang ada di sekolah Anda, warna apa saja yang ada pada peta tersebut? Peta yang berwarna akan lebih indah dilihat dan kenampakan yang ingin disajikan juga kelihatan lebih jelas.

Penggunaan warna pada peta harus sesuai maksud/tujuan si pembuat peta dan kebiasaan umum.
Contoh:
  • laut, danau digunakan warna biru.
  • temperatur (suhu) digunakan warna merah atau coklat.
  • curah hujan digunakan warna biru atau hijau.
  • dataran rendah (pantai) ketinggian 0 sampai 200 meter dari permukaan laut digunakan warna hijau. 
  • daerah pegunungan tinggi/dataran tinggi (2000 sampai 3000 meter) digunakan warna coklat tua.

Warna berdasarkan sifatnya, ada dua macam yaitu warna bersifat kualitatif dan bersifat kuantitatif.


7.  Sumber dan Tahun Pembuatan Peta

Bila Anda membaca peta, perhatikan sumbernya. Sumber memberi kepastian kepada pembaca peta, bahwa peta tersebut bukan hasil rekaan dan dapat dipercaya. Selain sumber, perhatikan juga tahun pembuatannya. Pembaca peta dapat mengetahui bahwa peta itu masih cocok atau tidak untuk digunakan pada masa sekarang atau sudah kadaluarsa karena sudah terlalu lama.

8. Inset


Inset adalah peta kecil tambahan dan memberikan kejelasan yang terdapat di dalam peta. Inset bersifat menjelaskan wilayah pada peta utama.
Berdasarkan fungsinyanya, inset di bedakan menjadi 3 macam yaitu :
a.     Inset yang berfungsi untuk menunjukkan lokasi relatif wilayah yang tergambar pada peta utama.
Inset ini memiliki skala lebih kecil dari peta utama, untuk menjelaskan letak/hubungan antara wilayah pada peta utama dengan wilayah lain di sekelilingnya. Misalnya : lokasi relatif Pulau Kalimantan sebagai peta utama terlihat posisinya dengan pulau-pulau lain di sekitarnya pada inset peta wilayah Indonesia

b.     Inset yang berfungsi memperbesar/memperjelas sebagian kecil wilayah pada peta utama.
Inset ini memiliki skala lebih besar dari peta pokok, mempunyai kegunaan untuk menjelaskan bagian dari peta pokok yang dianggap penting. Misalnya : lokasi permukiman yang penting pada suatu kota diperbesar sehingga menjadi lebih jelas.

c.     Inset yang berfungsi untuk menyambung wilayah pada peta utama.
Inset ini memiliki skala sama besar dengan peta utama dan juga merupakan peta utama yang disambung. Fungsi menyambung ini bertujuan untuk :
  • Menggambarkan wilayah pada peta utama yang terpotong karena keterbatasan pada media kertas/halaman.
  • Menggambar wilayah yang terpencar
  
9. Lettering (Tata Cara Penulisan pada Peta)

Untuk membuat tulisan pada peta ada kesepakatan di antara para ahli (kartografer) yaitu sebagai berikut:
  1. Nama geografi ditulis dengan bahasa dan istilah yang digunakan penduduk setempat.Contoh: Sungai ditulis Ci (Jawa Barat), Kreung (Aceh), Air (Sumatera Utara).Nama sungai ditulis searah dengan aliran sungai dan menggunakan huruf miring.
  2. Nama jalan ditulis harus searah dengan arah jalan tersebut, dan ditulis dengan huruf cetak kecil.
  3. Nama kota ditulis dengan 4 cara yaitu:
  • di bawah simbol kota.
  • di atas simbol kota.
  • di sebelah kanan simbol kota.
  • di sebelah kiri simbol kota.


Letak komponen peta 

    Komposisi Peta Topografi Baru
    1. Judul peta
    2. Skala angka
    3. Nomor lembar peta seri
    4. Daerah yang dicakup
    5. Edisi (tahun), petunjuk letak peta
    6. Keterangan proyeksi peta
    7. Pengarang/penerbit
    8. Petunjuk orientasi utara
    9. Skala grafis
    10. Pembagian daerah administrasi
    11. Petunjuk pembacaan koordinat geografis
    12. Grid lintang
    13. Grid bujur

     Komposisi Peta yang baik


    Keterangan:
    1. Judul peta tematik
    2. Daerah yang dicakup
    3. Skala angka dan grafis
    4. Orientasi utara
    5. Legenda/keterangan
    6. Peta inset/peta lokasi
    7. Pengarang/penerbit
    8. Sumber data
    9. Grid lintang dan bujur






    Belajar Geografi ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

    TOPO